Pembatas tol dapat direlokasi untuk kebutuhan landasan pacu darurat
Selain teknologi digital, HKA memperkenalkan Mahardihka Barrier (MHK-MSB-6000), pembatas median baja modular dengan konsep From Highway to Runway.
Desain modular memungkinkan pembatas dipindahkan tanpa angkur permanen.
Setiap modul memiliki panjang enam meter, menggunakan bantalan karet, dan dapat dipindahkan dengan bantuan wheel jack serta pelepasan lock pin, tanpa memerlukan alat berat khusus.
Berdasarkan metode relokasi proyek yang dipaparkan perusahaan, sebanyak 516 modul dengan total panjang 3.096 meter dapat dipindahkan dalam waktu sekitar 350 menit untuk menyatukan dua jalur tol menjadi landasan pacu darurat.
Desain ini juga membuka peluang pengembangan untuk kebutuhan akses darurat, termasuk akses zona kerja, ambulans, dan pengaturan contraflow.
Namun, pengembangan untuk kebutuhan tersebut masih berada dalam tahap konsep dan verifikasi teknis.
HKA turut memaparkan hasil simulasi tabrak menggunakan perangkat lunak LS-DYNA.
Simulasi menunjukkan defleksi dinamis berkisar 0,82–1,31 meter pada skenario kendaraan pikap, truk, hingga trailer berbobot 36 ton.
Perusahaan juga mencatat bahwa teknologi tersebut belum menjalani uji tabrak fisik dan sertifikasi MASH 2016.
Karena itu, hasil simulasi tidak dapat disamakan dengan hasil pengujian fisik maupun sertifikasi keselamatan.
Sistem produksi aspal ikut diperkenalkan
Untuk mendukung kualitas pekerjaan pemeliharaan, HKA menampilkan Live Asphalt Mixing Plant System (LAMPS), teknologi yang membantu menjaga produktivitas dan konsistensi mutu campuran aspal.
Sistem tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan risiko ketidaksesuaian material dalam pekerjaan pelapisan ulang atau overlay maupun penambalan atau patching.
Kombinasi sistem pemantauan operasional, deteksi kerusakan berbasis AI, dan pengendalian produksi aspal menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat pemeliharaan jalan tol berbasis data.
Dua penelitian bahas digitalisasi jembatan dan perlindungan gajah
Selain memamerkan teknologi, Hutama Karya bersama PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) menyampaikan dua makalah penelitian dalam sidang teknik KRTJ ke-16.
Penelitian pertama membahas ketelitian model tiga dimensi as-built Jembatan Khusus Sei Wampu di ruas Tol Binjai–Pangkalan Brandan menggunakan teknologi Terrestrial Laser Scanning (TLS) dan Building Information Modeling (BIM).
Hasil evaluasi menunjukkan deviasi dimensi sekitar 5–10 milimeter, yang masih berada dalam batas toleransi kajian.
Model tiga dimensi tersebut dilengkapi informasi teknis aset untuk mendukung dokumentasi serta perencanaan pemeliharaan berbasis data.
Penelitian kedua mengevaluasi penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) pada penyediaan koridor migrasi gajah di Tol Pekanbaru–Dumai.
Kajian tersebut mengevaluasi enam underpass perlintasan gajah. Hasilnya menunjukkan aspek lingkungan dan tata kelola relatif lebih maju dibandingkan aspek sosial.
Peneliti juga menyoroti perlunya penguatan pemantauan dan pelaporan, pelibatan masyarakat secara terstruktur, perbaikan drainase, serta pengayaan pakan untuk meningkatkan efektivitas koridor.
Kedua penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan pengelolaan aset yang akurat serta perhatian terhadap dampak lingkungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







