KEDIRI, SEPUCUKJAMBI.ID – Sebuah patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak viral di media sosial.
Patung yang awalnya dibuat sebagai ikon desa itu ramai diperbincangkan karena bentuknya dinilai tidak menyerupai macan putih pada umumnya, sehingga memicu beragam komentar warganet.
Foto dan video patung tersebut banyak dibagikan di berbagai platform media sosial.
Sejumlah netizen menilai bentuknya unik dan tidak proporsional, bahkan menyebut patung itu lebih mirip zebra, badak, kuda nil, hingga capybara ketimbang seekor macan putih.
Padahal, patung tersebut dibangun sebagai simbol identitas dan mitos lokal. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, macan putih diyakini sebagai penjaga atau danyang desa yang kerap muncul dalam cerita turun-temurun warga Balongjeruk.
Viralnya patung ini menarik perhatian publik dari luar daerah. Beberapa warga bahkan datang langsung ke lokasi untuk melihat dan berfoto di depan patung yang kini disebut-sebut sebagai “ikon tak resmi” Desa Balongjeruk.
Meski menuai kritik, tak sedikit pula yang menganggap patung tersebut memiliki nilai humor dan kreativitas tersendiri.
Menanggapi sorotan publik, Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menyatakan pihaknya terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pemerintah desa telah berencana melakukan perbaikan.
“Semua kritik dan saran kami terima. Insyaallah patung ini akan kami perbaiki agar lebih aman dan lebih baik ke depannya,” ujar Safi’i saat ditemui di lokasi.
Safi’i menjelaskan bahwa pembangunan patung macan putih tersebut tidak menggunakan dana desa (APBDes), melainkan berasal dari swadaya masyarakat.
Keterbatasan anggaran menjadi salah satu faktor hasil patung belum sesuai harapan banyak pihak.
Total biaya pembangunan patung tersebut disebut kurang dari Rp 3,5 juta, dengan sekitar Rp 2 juta digunakan untuk jasa pemborong dan sisanya untuk pembelian material.
Safi’i juga mengaku turut menyumbangkan material bangunan dari toko miliknya secara sukarela.
Lebih lanjut, Safi’i menyebut ide pembangunan patung macan putih berasal dari usulan tokoh masyarakat yang ingin memperkuat identitas desa melalui simbol budaya lokal.
Ke depan, pihak desa telah membahas rencana penggantian atau perbaikan patung dengan desain yang lebih mendekati bentuk macan putih secara realistis.
Diharapkan, patung yang telah diperbaiki nantinya tidak hanya menjadi kebanggaan warga, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata desa.
Fenomena viral ini sekaligus menunjukkan bagaimana proyek sederhana di tingkat desa bisa mendapat perhatian luas melalui media sosial, serta membuka diskusi tentang seni publik, partisipasi warga, dan transparansi anggaran.(*)







