Menjaga Api Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Integritas Pers

Rizal Zebua, Wartawan aktif di Provinsi Jambi
Dengarkan

Justru melalui kritik yang berbasis fakta, pengawasan terhadap kekuasaan, dan pengungkapan persoalan secara bertanggung jawab, pers dapat berkontribusi pada kehidupan demokrasi yang lebih sehat.

Namun, persatuan juga tidak boleh menjadi alasan untuk menutup-nutupi masalah.

Semangat kebangsaan harus berjalan bersama keberanian mengungkap penyimpangan, membela kepentingan masyarakat, dan memastikan suara kelompok yang rentan tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk pemberitaan.

Di sinilah makna perjuangan melalui pena menemukan relevansinya.

Wartawan tidak mengulang bentuk perjuangan para pendahulu secara persis, tetapi meneruskan nilai dasarnya, keberanian menyampaikan kebenaran dan kesediaan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan sempit.

Baca juga:  Saleh Ridha Ingatkan Bahaya Kebocoran Data, Sekolah di Kota Jambi Diminta Perkuat Keamanan Digital

Menjaga Api yang Tidak Boleh Padam

Memperingati Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada seremoni, slogan, atau kutipan sejarah.

Momentum ini perlu menjadi ruang evaluasi bagi seluruh ekosistem pers, mulai dari wartawan, pemimpin redaksi, pemilik perusahaan media, organisasi profesi, hingga masyarakat sebagai pengguna informasi.

Perusahaan pers perlu membangun model bisnis yang tidak menjadikan kualitas jurnalistik sebagai korban efisiensi. Redaksi perlu memastikan bahwa kecepatan tetap berjalan bersama verifikasi.

Baca juga:  Bangun Kolaborasi, PWI Jambi Silaturahmi ke Ditpolairud Polda Jambi

Wartawan harus terus meningkatkan kompetensi dan menjaga integritas. Sementara itu, masyarakat perlu mengembangkan kebiasaan memeriksa sumber dan tidak terburu-buru menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Tidak ada satu pihak yang dapat memperbaiki ekosistem media sendirian. Kualitas jurnalisme lahir dari pertemuan antara profesionalisme wartawan, tanggung jawab perusahaan, kebebasan pers, dan partisipasi publik.

Hampir seabad lalu, para pemuda menyatukan tekad melalui sebuah ikrar yang mengubah perjalanan bangsa.

Baca juga:  Pembatasan Materiil dalam Konstitusi: Menjaga Demokrasi dari Penyalahgunaan Kekuasaan

Hari ini, insan pers menghadapi ujian untuk menjaga agar ruang informasi tidak dikuasai oleh sensasi, manipulasi, dan kepentingan sesaat.

Pena mungkin tidak lagi berhadapan dengan tantangan yang sama seperti pada 1928. Namun, tanggung jawab moralnya tetap besar.

image_pdfimage_print

Pos terkait