Menjaga Api Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Integritas Pers

Rizal Zebua, Wartawan aktif di Provinsi Jambi
Dengarkan

Algoritma dapat membantu mendistribusikan berita, tetapi tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab jurnalistik.

Jurnalis Muda Tidak Boleh Kehilangan Arah

Dalam situasi yang kompleks ini, jurnalis muda memiliki peran strategis.

Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital, memahami pola komunikasi generasi baru, dan memiliki peluang untuk menghadirkan pendekatan jurnalistik yang lebih kreatif.

Namun, kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup.

Wartawan muda juga perlu memperkuat keterampilan verifikasi, wawancara, analisis data, penulisan mendalam, dan pemahaman terhadap Kode Etik Jurnalistik.

Keberanian mengkritik kekuasaan harus berjalan bersama kemampuan membuktikan fakta.

Sikap kritis perlu disertai keterbukaan terhadap koreksi. Independensi juga menuntut wartawan menjaga jarak dari kepentingan politik, ekonomi, maupun kelompok yang dapat memengaruhi pemberitaan.

Idealime pers tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Ia harus terlihat dalam keputusan sehari-hari, memilih memeriksa informasi sebelum menerbitkannya, menolak tekanan untuk mengubah fakta, memberi ruang kepada pihak yang diberitakan, dan bersedia memperbaiki kesalahan ketika bukti menunjukkan adanya kekeliruan.

Jurnalis muda juga perlu membangun solidaritas profesional. Pers yang sehat membutuhkan wartawan yang kompeten, tetapi juga membutuhkan lingkungan kerja yang memungkinkan mereka menjalankan tugas tanpa intimidasi dan tekanan yang tidak semestinya.

Menghidupkan Kembali Makna Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran bahwa perbedaan tidak harus menjadi penghalang untuk mencapai tujuan bersama.

Semangat tersebut relevan bagi pers yang bekerja di tengah masyarakat majemuk dan arus informasi yang kerap memperuncing perbedaan.

Dalam konteks ini, jurnalisme memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang akurat, membuka ruang dialog, mengungkap persoalan publik, dan membantu masyarakat memahami perbedaan secara proporsional.

Pers tidak harus kehilangan sikap kritis demi menjaga persatuan.

image_pdfimage_print
Baca juga:  BAHAYA LATIN BUDAYA SETOR MUKA

Pos terkait