Menjaga Api Sumpah Pemuda di Tengah Krisis Integritas Pers

Rizal Zebua, Wartawan aktif di Provinsi Jambi
Dengarkan

Wartawan berada di garis depan dalam situasi tersebut. Mereka dituntut menghasilkan berita secara cepat dan konsisten, tetapi pada saat yang sama harus menjaga akurasi, independensi, dan etika jurnalistik.

Jika tuntutan itu tidak diimbangi dengan sistem kerja yang sehat serta kesejahteraan yang layak, idealisme berisiko berbenturan dengan kebutuhan untuk bertahan hidup.

Karena itu, membicarakan kualitas pers tidak cukup hanya dengan meminta wartawan bekerja lebih profesional.

Perusahaan media juga perlu mengevaluasi kebijakan editorial, beban kerja, sistem pengupahan, dan dukungan terhadap peliputan yang berkualitas.

Baca juga:  Ananto Herlambang Bangun Komunikasi dengan Wartawan, Perkuat Kepercayaan Publik

Ketika Klik Lebih Berharga daripada Kebenaran

Tantangan berikutnya muncul dari budaya mengejar traffic. Dalam ekosistem digital, jumlah klik, durasi kunjungan, dan interaksi kerap menjadi ukuran keberhasilan sebuah konten.

Ukuran tersebut memang penting bagi keberlangsungan media, tetapi tidak semestinya menjadi satu-satunya penentu nilai sebuah berita.

Judul sensasional, informasi yang terpotong dari konteks, dan pemberitaan yang mengandalkan emosi dapat menarik perhatian dalam waktu singkat.

Baca juga:  Peran Strategis Dewan Komisaris Bank Daerah

Namun, jika praktik semacam itu mengorbankan akurasi, media justru mempertaruhkan aset paling penting yang dimilikinya, kepercayaan publik.

Jurnalisme bukan perlombaan untuk menjadi yang pertama dengan segala cara. Kecepatan tidak berarti apa-apa jika informasi yang disampaikan keliru.

Sebaliknya, berita yang terverifikasi, berimbang, dan memberikan konteks dapat membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih utuh.

Di sinilah kompetensi wartawan diuji. Mereka harus mampu membedakan fakta dan opini, memeriksa sumber, menguji klaim, memberikan ruang bagi pihak terkait, serta menghindari kesimpulan yang tidak didukung bukti.

Baca juga:  Wali Kota Jambi Maulana Jamu Ketum PWI Pusat, Bahas Peran Strategis Pers untuk Daerah

Tantangan tersebut semakin besar ketika kecerdasan buatan dan teknologi otomatisasi ikut mengubah produksi informasi.

Teknologi dapat membantu mencari bahan, mengolah data, dan mempercepat pekerjaan.

Namun, tanggung jawab untuk memeriksa kebenaran, mempertimbangkan dampak pemberitaan, dan mengambil keputusan etik tetap berada pada manusia.

image_pdfimage_print

Pos terkait