Dua Figur Muda di Panggung Kota Jambi, Diza Hazra-Kemas Faried Mulai Disandingkan untuk 2029

Sebanyak 12.000 liter air bersih disalurkan ke warga Simpang Tiga Sipin Jambi. Kemas Faried menyoroti kekeringan dan gangguan distribusi air.
Dengarkan

Nasroel: Chemistry Ada, Tinggal Berunding

Tokoh masyarakat Kota Jambi yang selama ini mencermati perkembangan kebijakan publik, Nasroel Yasir, melihat dinamika tersebut sebagai sesuatu yang menarik.

Ia menilai Diza dan Kemas memiliki karakter yang dapat saling melengkapi apabila keduanya membangun komunikasi politik lebih jauh.

“Dua anak muda ini memiliki chemistry yang kuat untuk memimpin Kota Jambi. Tinggal berunding saja lagi mereka berdua, siapa nomor satu dan siapa nomor duanya,” ujar Nasroel.

Menurut Nasroel, pembicaraan mengenai Pilkada 2029 memang masih terlalu awal untuk diterjemahkan sebagai keputusan politik.

Justru karena waktunya masih panjang, kata dia, ruang bagi para figur untuk membangun komunikasi dan menunjukkan kapasitas masing-masing masih terbuka lebar.

“Masih cukup panjang waktu untuk mereka berunding,” katanya.

Ia menilai persoalan Kota Jambi ke depan tidak sederhana. Persoalan sampah, infrastruktur, pelayanan dasar, air bersih hingga kebutuhan masyarakat perkotaan membutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun koordinasi lintas lembaga.

Dalam konteks itu, hubungan antara eksekutif dan legislatif menjadi salah satu faktor penting dalam menjalankan pemerintahan.

Dari Kerja Pemerintahan Menjadi Wacana Politik

Diza dan Kemas memiliki jalur politik yang berbeda.

Diza saat ini menjalankan tugas pemerintahan sebagai Wakil Wali Kota Jambi bersama Wali Kota Jambi.

Sementara Kemas merupakan politikus yang memimpin DPRD Kota Jambi dengan fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan.

Perbedaan posisi tersebut membuat setiap kebersamaan mereka memiliki konteks pemerintahan yang jelas.

Namun, politik tidak hanya dibentuk melalui deklarasi.

Dalam praktiknya, persepsi publik juga dapat tumbuh dari intensitas komunikasi, cara figur membangun hubungan dengan masyarakat serta bagaimana mereka tampil ketika persoalan publik muncul.

Karena itu, kemunculan wacana Diza-Kemas untuk 2029 lebih tepat dibaca sebagai aspirasi atau pembicaraan awal masyarakat, bukan sebagai kepastian pasangan calon.

image_pdfimage_print
Baca juga:  Tak Tercover BPJS Ketenagakerjaan, Keluarga Warga Thehok yang Tewas Tersengat Listrik Dibantu Pemkot

Pos terkait