Sebaliknya, penurunan di bawah US$74.000 dapat meningkatkan risiko Bitcoin menguji area support US$72.000-US$74.000.
Pemulihan harga setelah FOMC juga didukung oleh berkurangnya tekanan likuidasi. Total likuidasi Bitcoin dalam 24 jam turun sekitar 60,18% menjadi US$84,36 juta. Likuidasi posisi long bahkan turun sekitar 83,18%.
Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan forced selling mulai mereda dibandingkan sesi sebelumnya. Namun, volume perdagangan Bitcoin juga tercatat turun sekitar 24,52%, sehingga pemulihan harga belum sepenuhnya menunjukkan masuknya tekanan beli baru dalam skala besar.
Dengan demikian, kenaikan pasca-FOMC dapat lebih tepat dilihat sebagai fase pemulihan awal setelah ketidakpastian keputusan suku bunga mereda.
Proyeksi Pasar Masih Dipengaruhi Kebijakan The Fed
Meskipun Bitcoin mampu bertahan, prospek pasar belum sepenuhnya lepas dari risiko kebijakan moneter. Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan masih adanya kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada 2026. Reuters melaporkan bahwa keputusan September tersebut disertai sinyal kebijakan yang lebih hawkish, sementara pasar juga kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan berikutnya.
Kondisi tersebut menjadi faktor penting bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Suku bunga yang lebih tinggi dalam periode lebih panjang dapat memperketat likuiditas dan meningkatkan daya tarik aset berbasis yield, sehingga berpotensi membatasi ruang kenaikan aset kripto.
Di sisi lain, Bitcoin menunjukkan bahwa pasar telah mampu menyerap kenaikan suku bunga yang sebelumnya telah diperkirakan. Sejumlah analis juga melihat respons yang relatif terbatas setelah keputusan FOMC sebagai indikasi bahwa sebagian ekspektasi hawkish telah tercermin dalam harga.
Namun, tekanan dari sisi arus dana institusional masih perlu diperhatikan. Data yang dilaporkan pada 17 September menunjukkan spot Bitcoin ETF AS mengalami arus keluar bersih sekitar US$295,9 juta pada 16 September, setelah sebelumnya mencatat arus keluar sekitar US$450,4 juta pada 15 September.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







