MUARASABAK, SEPUCUKJAMBI.ID – Kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur menjadi viral di media sosial setelah video kejadian tersebar.
Peristiwa ini terjadi pada Selasa pagi, 13 Januari 2026, dan melibatkan guru bernama Agus Saputra, yang mengaku menjadi korban perundungan verbal selama bertahun-tahun sebelum insiden penamparan terjadi.
Berikut kronologi kejadian menurut keterangan Agus:
1. Provokasi Siswa di Luar Kelas
Agus menjelaskan, awal insiden terjadi saat ia berada di luar kelas sementara proses belajar mengajar berlangsung bersama guru olahraga.
Tiba-tiba, seorang siswa meneriakkan kata-kata yang dianggap tidak sopan dan merendahkan ke arahnya.
“Saya ditegur dengan teriakan yang tidak hormat dan kata-kata yang tidak pantas di saat proses belajar berlangsung,” kata Agus.
Ia menilai tindakan siswa tersebut merupakan bagian dari perundungan verbal yang telah terjadi selama 2–3 tahun.
2. Masuk ke Kelas untuk Klarifikasi
Merasa dirugikan, Agus kemudian masuk ke kelas untuk menanyakan siapa siswa yang memanggilnya.
Siswa itu langsung mengaku dengan nada menantang.
“Dia bilang ‘Saya!’ dan bersikap menantang. Secara refleks saya menampar satu kali,” jelas Agus.
Ia menegaskan, tindakan penamparan tersebut spontan, sebagai respons terhadap provokasi yang terus berlangsung, bukan bentuk kekerasan atau penganiayaan.
3. Ketegangan Berlanjut Hingga Jam Istirahat
Setelah insiden awal, situasi semakin memanas. Siswa yang sama kembali menantang Agus hingga jam istirahat dan siang hari, membuat suasana kelas menjadi tidak terkendali.
Pihak sekolah sempat mengupayakan mediasi untuk meredam ketegangan.
“Pada saat itu saya berada di kantor, ada rekaman CCTV sebagai bukti. Saya juga merekam teriakan dan provokasi mereka,” ujar Agus.
4. Mediasi yang Berujung Ricuh
Dalam mediasi, Agus menawarkan dua opsi kepada siswa:
-
Membuat pernyataan jika tidak ingin dirinya mengajar lagi.
-
Berjanji memperbaiki sikap dan perilaku ke depan.
Namun, mediasi tersebut justru berakhir ricuh. Agus kemudian diajak masuk ke ruang kantor bersama komite sekolah.
Di mana ia mengaku menjadi korban pengeroyokan oleh beberapa siswa dari berbagai kelas.







