Pencapaian tersebut melanjutkan tren positif yang mereka tunjukkan sejak fase kualifikasi.
Sebelum lolos ke putaran final, Cape Verde mampu mengungguli sejumlah tim kuat Afrika seperti Kamerun, Angola, dan Libya, serta mencatat rekor impresif tanpa kekalahan dalam laga kandang.
Di sisi lain, Spanyol juga tidak tampil dengan komposisi terbaik. Dua pemain sayap andalan mereka, Lamine Yamal dan Nico Williams, belum berada dalam kondisi fisik ideal setelah sempat mengalami cedera otot.
Yamal akhirnya dimainkan pada menit ke-71 dan langsung memberi warna berbeda dalam serangan Spanyol.
Beberapa akselerasinya mampu membuka ruang bagi rekan setim, termasuk peluang yang didapat Mikel Merino.
Sementara Nico Williams baru masuk menjelang akhir pertandingan ketika waktu tersisa semakin sedikit.
Kegagalan meraih kemenangan menjadi alarm bagi Spanyol. Dominasi penguasaan bola kembali tidak cukup untuk menghasilkan tiga poin, sebuah masalah yang pernah menghantui mereka dalam dua edisi Piala Dunia sebelumnya.
Meski demikian, peluang Spanyol untuk lolos dari fase grup masih terbuka lebar. Mereka masih akan menghadapi Arab Saudi dan Uruguay pada dua laga berikutnya.
Namun, jika ingin kembali ke jalur kemenangan, La Roja perlu segera menemukan ketajaman di lini depan sekaligus berharap Yamal dan Williams bisa segera mencapai kondisi terbaiknya.
Sementara bagi Cape Verde, hasil imbang melawan salah satu unggulan turnamen menjadi bukti bahwa mereka tidak datang ke Piala Dunia hanya sebagai pelengkap.
Satu poin bersejarah ini sekaligus mengirim pesan bahwa kejutan-kejutan lain masih mungkin terjadi di Grup H.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







