“Tidak usah berlebihan! Satu juta saja sudah cukup …” Anisa menunjukkan buku kecil berisi kisaran pengeluaran pribadi dan kelompok selama KKN. Otaknya yang terkenal dengan hemat dan hitung-hitungan itu menjadikannya sebagai koordinator keuangan di posko 19.
Aku melirik deretan tulisan yang Anisa buat. Hingga mataku menangkap nominal paling bawah, hal itu tak juga menyulutkan kegundahanku meskipun nominal itu tak mencapai sembilan ratus ribu. Dikantung hanya terdapat empat ratus ribu sebagai upah mengajar bimbel selama dua bulan.
Sebelumnya, Ayah berjanji akan mengirimkan uang KKN sebelum keberangkatan. Namun sampai saat ini uang itu belum ada, bahkan Ayah tak bisa dihubungi lagi.
Sepintas terbesit pikiran bahwa Ayah tak peduli. Sebisanya perasaan itu aku surutkan dengan tersenyum pada obrolan teman-teman yang telah berganti topik. Namun kegundahan dan keresahan memang musuh bahkan bisa menjadi penyakit hati.
Mati-matian aku menyakinkan hati untuk tak termakan rasa egois. Ayah adalah sosok pria terhebat dalam hidupku. Ya, sangat hebat.
Saat masih duduk di kelas 3 SD, suatu sore Ayah mengajakku pergi ke rumah saudara menyusul ibu dan adikku yang telah berada disana.
Diperempatan jalan, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti mendadak, menyebabkan ban motor Ayah menyenggol bemper belakang mobil tersebut. Tidak ada kerusakan bahkan kelecetan yang menodai. Namun entah terbuat dari apa hati sang pengemudi, ia turun dari mobil dan memaki Ayah.
“Hey tukang ojek! mobil saya ini mahal! Dibeli dari luar, bahkan sorum di daerah ini tidak ada yang menjualnya!” Perawakannya memang terlihat sangat terawat.
Bisa dikatakan wanita salon, dengan baju mewah dan riasan tebal diwajah bak artis masuk kampung menunjukan bahwa ia memang memiliki harta yang banyak.
Beberapa kendaraan mulai menekan klakson kuat, menyadarkan keributan itu hanya membuat jalanan macet, “Hey! Jangan berlebihan … mobil itu tidak mengalami kerusakan!” Seorang pengguna jalan yang berada tak jauh dari kami membela Ayah.
Ayah tertunduk meminta maaf, tak terbesit dari raut wajah Ayah untuk membela diri. Ia menunduk tak peduli bahwa tidak ada yang salah darinya.







