DOA DALAM DUA RIBUAN

Ya, Do’a orangtua adalah yang terbaik. Terimakasih ya Allah. Terimakasih telah memberikan seorang Ayah yang begitu sempurna.

Oleh: Agustina

SEPUCUKJAMBI.ID – Awan mendung berarak mendominasi langit hingga mentari pagi tak sampai menyentuh bumi. Seolah mengetahui hatiku, langit musim hujan menggambarkan kekhawatiran dan kerinduanku pada sosok pria terhebat sepanjang masa Ayah.

Bohong bila mengatakan aku baik-baik saja, namun tersenyum adalah pilihan yang tepat untuk menutupi kegundahan hati. Aku mendudukkan diri di teras setelah memastikan pintu kos terkunci sempurna. Duduk diam, menanti seseorang yang aku harap yaitu Ayah.

Sesuatu bergetar di dalam saku. Mode hening yang aku aktifkan nyaris membuatku tak menyadari sebuah panggilan masuk. Dengan cepat, jemariku merogohnya. Ayah, ya itu panggilan dari Ayah.

Baca juga:  Hidup Tak Harus Sempurna, Ini Makna Wabi-Sabi yang Kian Relevan Saat Ini

“Assalamua`laikum, Ayah…” Sapaku menjawab girang. Kekhawatiran yang sudah mendominasi sedari tadi kini sirna sudah. Sepertinya beliau merasakan apa yang aku rasakan.

“Wa`alaikumussalam, Nak…” Seketika, suara teduhnya menghangatkan hatiku, “…bagaimana persiapannya hari ini?” Tanya Ayah.

Aku melirik koper besar dan beberapa kardus berisi perlengkapan selama masa Kuliah Kerja Nyata –KKN, memastikan semua terkemas dalam keadaan baik sebelum menjawab. Ya, hari ini tepat mengisi kegiatan kuliah di semester 7, aku akan mengabdikan diri kepada masyarakat.

Baca juga:  Membantu Toko Ibu

“Semua–”

Tut … tut … tut …

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ayah, panggilan itu berakhir. Berkali-kali jemariku menekan tombol panggilan, hasilnya nihil. Nomor Ayah berada pada kondisi tidak aktif.

Kondisi baterai ponsel Ayah memang tak sesehat saat pertama kali dibeli. Hal seperti ini acapkali terjadi, saat sang baterai tiba-tiba tak memberikan daya meskipun kondisinya berdaya penuh.

Baca juga:  Pukul Terpukul

Tiiiiit!

Suara klakson kencang cukup membuatku terperanjat, Anisa sudah berada disana. Ia melambaikan tangan kanannya dari seberang jalan. Bagian depannya telah penuh dengan koper bawaannya.

Itu berarti, aku harus memangku sendiri barang bawaanku di belakang. Setelah menunggu beberapa kendaraan melintas, aku menyebrang. Dua puluh menit perjalanan menuju kampus harus cepat kami lakukan sebelum pukul 09.00 dimana seluruh mahasiswa peserta KKN akan diberangkatkan menuju daerah terpencil.

image_pdfimage_print

Pos terkait