Dibedah Cendekiawan, Maulana Sambut Terbuka Evaluasi dan Masukan Konstruktif Bangun Kota Jambi

Dengarkan

“Dengan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki, tentu dapat menjadi masukan berharga bagi kami, khususnya dalam bidang kesejahteraan, infrastruktur, pendidikan, dan sosial. Sebab, membangun daerah bukanlah perkara mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan,” jelasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Maulana, memaparkan capaian program 100 hari kerja “Kota Jambi Bahagia” yang telah berjalan secara progresif.

Paparan tersebut mendapat apresiasi dari para peserta yang hadir, khususnya atas percepatan realisasi berbagai program prioritas.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota juga menyampaikan kabar gembira bagi masyarakat Kota Jambi.

Ia mengungkap bahwa anggaran sebesar Rp75 miliar untuk penanganan banjir di Kota Jambi, yang berasal dari hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Pusat, akan segera terealisasi.

“Alhamdulillah, dua hari lalu Saya dihubungi oleh Kementerian PUPR. Dana sebesar Rp45 miliar yang kita perjuangkan saat kunjungan kerja Komisi V DPR RI ke Jambi telah disetujui. Sementara Rp25 miliar dari Pemerintah Provinsi saat ini menunggu pengesahan melalui anggaran perubahan. Kita hanya perlu mengalokasikan Rp5 miliar dari APBD Kota untuk penanganan sistem Asam. Jika sistem pengendalian banjir di Sungai Asam ini berjalan optimal, maka akan mampu mengurangi genangan banjir hingga 60 persen di wilayah Kota Jambi,” jelasnya.

Dirinya juga menyebut akan terus mendorong penambahan transpotasi umum ramah lingkungan.

“Kita akan tambah hingga 10 unit namun secara bertahap melalui MoU yang akan dilakukan, mulai September sesuai dengan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan,” tutupnya.

Sebelumnya, dalam laporan kegiatan, Ketua Panitia Hafizen menyampaikan bahwa dasar pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Membedah Program 100 Hari Kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jambi Menuju Kota Jambi Bahagia” adalah agar ICMI tidak terjebak dalam peran sebagai intelektual yang hanya bergelut dengan aksara dan teori.

“ICMI harus menjadi intelektual organik, bukan hanya sibuk dengan jurnal ilmiah, tetapi juga mampu membaca fenomena sosial di tengah masyarakat, serta menjadi jembatan aspirasi rakyat,” ujarnya.

image_pdfimage_print
Baca juga:  Liverpool Menang Lagi, Wolves Terpuruk Tanpa Kemenangan di Liga Inggris

Pos terkait