SEPUCUKJAMBI.ID – Banyak orang terbiasa tidur larut dan bangun siang saat akhir pekan, lalu kembali memaksakan diri bangun pagi di hari kerja.
Kebiasaan ini sering dianggap wajar, padahal bisa menjadi tanda social jetlag gangguan pola tidur yang terjadi tanpa perlu bepergian jauh.
Social jetlag muncul ketika jadwal tidur dan bangun seseorang berbeda jauh antara hari kerja dan hari libur.
Kondisinya mirip jet lag akibat perjalanan lintas zona waktu, tetapi penyebabnya adalah perubahan rutinitas harian.
Akibatnya, jam biologis tubuh atau ritme sirkadian menjadi tidak sinkron.
Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Perubahan pola tidur yang berulang setiap minggu dapat membuat tubuh terasa lelah meski sudah tidur cukup lama.
Banyak orang dengan social jetlag mengeluhkan sulit fokus, suasana hati memburuk, hingga produktivitas yang menurun.
Sejumlah penelitian juga mengaitkan social jetlag dengan masalah kesehatan fisik.
Ketidakteraturan jam tidur dapat memengaruhi metabolisme tubuh, meningkatkan risiko obesitas, gangguan gula darah, dan tekanan darah yang tidak stabil.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperbesar risiko sindrom metabolik.
Dari sisi mental, jam tidur yang tidak selaras dengan ritme alami tubuh dapat membuat seseorang lebih mudah stres dan emosional.
Otak membutuhkan pola tidur yang konsisten untuk bekerja optimal, termasuk dalam hal konsentrasi, pengambilan keputusan, dan daya ingat.
Fenomena social jetlag semakin umum di era modern. Tuntutan pekerjaan, jadwal belajar, aktivitas sosial, hingga penggunaan gawai pada malam hari membuat waktu tidur semakin bergeser.
Tanpa disadari, tubuh harus “menyetel ulang” jam biologisnya hampir setiap minggu.
Para ahli menyarankan langkah sederhana untuk mencegah social jetlag, yaitu menjaga waktu tidur dan bangun yang relatif sama setiap hari, termasuk di akhir pekan.
Konsistensi ini membantu ritme sirkadian tetap stabil dan mendukung kesehatan jangka panjang.
Social jetlag mungkin terasa ringan, tetapi jika dibiarkan, dampaknya bisa serius. Mengatur ulang kebiasaan tidur bukan hanya soal istirahat, melainkan investasi penting bagi kesehatan tubuh dan pikiran.(*)







