Waspada Polusi Udara, Risiko Iritasi hingga Penyakit Mata Serius

Polusi udara dapat memicu iritasi hingga gangguan mata serius. Kenali dampaknya pada kesehatan mata serta langkah pencegahan yang bisa dilakukan sehari-hari.

SEPUCUKJAMBI.IDPolusi udara tidak hanya berdampak pada sistem pernapasan dan kesehatan jantung, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan mata.

Berbagai polutan di udara seperti partikel halus PM2.5 dan PM10, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon (O₃), serta asap kendaraan dan aktivitas industri dapat langsung mengenai permukaan mata yang sensitif.

Paparan polusi udara secara berulang berpotensi menyebabkan mata iritasi, perih, hingga mengalami peradangan jika tidak ditangani dengan baik.

Salah satu mekanisme utama yang membuat polusi berbahaya bagi mata adalah gangguan pada lapisan air mata.

Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung alami yang membersihkan partikel asing dan menjaga kelembapan permukaan mata.

Baca juga:  Apakah Penglihatan Setelah LASIK Bertahan Seumur Hidup? Ini Penjelasannya

Ketika polutan bersentuhan dengan lapisan air mata, kestabilannya dapat terganggu sehingga penguapan terjadi lebih cepat.

Kondisi ini memicu mata kering, iritasi, dan peradangan. Partikel halus berukuran sangat kecil bahkan dapat menembus jaringan mata dan memicu stres oksidatif yang berpotensi merusak sel-sel mata.

Beberapa kelompok masyarakat diketahui lebih rentan terhadap dampak polusi udara pada mata.

Mereka yang tinggal di wilayah perkotaan dengan tingkat polusi tinggi, pekerja yang sering beraktivitas di luar ruangan.

Serta individu dengan riwayat gangguan mata seperti mata kering atau alergi cenderung mengalami gejala yang lebih berat.

Anak-anak dan lansia juga termasuk kelompok yang lebih sensitif terhadap paparan polusi udara.

Baca juga:  Mitos atau Fakta, Makan Kacang Bikin Jerawatan?

Gejala awal gangguan mata akibat polusi umumnya meliputi mata merah, gatal, berair, sensasi terbakar, atau terasa mengganjal.

Pada sebagian orang, mata bisa terasa sangat kering atau justru mengeluarkan air mata berlebihan sebagai respons terhadap iritasi.

Jika paparan berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi konjungtivitis iritatif, sindrom mata kering yang semakin parah, atau peradangan kelopak mata yang memerlukan penanganan medis.

Sejumlah penelitian internasional juga menunjukkan bahwa paparan polusi udara jangka panjang.

Khususnya partikel halus dan nitrogen dioksida, dapat meningkatkan risiko gangguan mata yang lebih serius.

Baca juga:  Buah Kersen Kecil tapi Kaya Manfaat, Ini Khasiatnya untuk Kesehatan

Seperti degenerasi makula terkait usia (AMD), katarak, serta peradangan kronis yang memengaruhi struktur mata.

Untuk mengurangi risiko tersebut, langkah pencegahan sederhana dapat dilakukan.

Memantau kualitas udara harian, menggunakan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, serta memakai tetes mata pelumas yang sesuai dapat membantu menjaga kelembapan mata.

Di dalam ruangan, penggunaan pemurni udara atau air purifier juga dapat membantu mengurangi paparan partikel berbahaya.

Apabila keluhan pada mata tidak kunjung membaik meskipun sudah beristirahat atau melakukan perawatan dasar, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata guna memastikan penyebab dan mendapatkan penanganan yang tepat.(*)

image_pdfimage_print

Pos terkait