Dalam menyukseskan Kampung Bahagia ini, Dirinya mengatakan, sangat dibutuhkan kerja sama yang kuat dan kekompakan masyarakat, dengan Ketua RT, Lurah hingga Camat sebagai komando.
“Oleh karena itu, Pemkot Jambi memberikan bantuan penunjang kebersihan ini. Karena, program akan sukses jika dilaksanakan secara bersama-sama, gotong royong, kebersamaan, kekeluargaan, selaras dengan kota Jambi yang heterogen masyarakatnya, dengan berbagai macam karakter suku bangsa, bahasa, pekerjaan semua ada,” katanya.
“Kalau kita bangun dari bawah dengan pemberdayaan, maka program ini akan berkelanjutan, dan berlangsung lama. Sehingga kota ini menjadi kota yang bersih dan nyaman bahi siapapun,” lanjut Maulana.
Data yang disampaikan Maulana, setiap rumah tangga di Kota Jambi rata-rata minimal menghasilkan hampir 1 kg. Ini dibutuhkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan yakni lewat kesadaran warga.
Melalui program Kampung Bahagia agau yang dikenal 100 juta per RT nantinya, Maulana berharap agar dana dikelola melalui musyawarah, serta memprioritaskan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.
“Terlebih, nantinya pengelolaan sampah akan bekerja sama dengan TPS 3R. Sampah akan diolah dan dikelola dengan baik sehingga bernilai ekonomi, melalui apa yang dihasilkan, seperti menjadi kompos dan pupuk,” harapnya.
Menurutnya, dengan berbagai kebijakan yang telah dilakukan Pemkot Jambi saat ini dalam menjaga kebersihan hanya memberikan dampak sesaat bagi masyarakat. Seperti penyiapan Sat Pol PP, CCTV hingga denda sebesar 20 juta rupiah.
“Semua kebijakan telah kita lakukan, namun memberikan dampaknya hanya sesaat ditengah masyarakat. Ternyata itu tidak sustain, tidak berkelanjutan. Jadi melalui Program Kampung Bahagia ini agar bagaimana sistem ini berjalan secara berkelanjutan,” tuturnya.
“Kampung Bahagia itu sebuah konsep besar, bahwa kampung kita, tempat tinggal kita, rumah kita adalah tanggung jawab kita bersama yang konsepnya sampah yang di hasilkan secara pribadi menjadi tanggung jawab kita,” pungkas Wali Kota Maulana.







