Pukul Terpukul

Puisi oleh: Ibnu Nur Adim Fadilah

Bisa jadi reruntuhan daun masih menyimpan kuasa

dan sukma masih terbuai cakrawala pemikat rasa

namun, sayangnya semua itu hanya bayang datang

untuk mengubur rasa manis yang telah lama hilang.

 

Kini senja menulis duka di batas tepian segara

segala rona tersusun, seakan dekat dengan sastra

sedangkan ini kali pertama menyentuh untaian kata

lantas, kenapa kau teguh cipta cinta ini amerta?

 

Baca juga:  Cerminan Diri

Pernahkah kau menanti pesan dari pukul sebelas

dan menanti kata terapung di layar bagian atas?

Meski pada akhirnya tiada balas sebab ruang baru

telah menyambutnya terlebih dahulu daripada aku.

image_pdfimage_print

Pos terkait