Dari angka tersebut, sampah makanan mendominasi sebesar 58,33 persen, yang umumnya langsung berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Proses pembusukan di TPA bukan hanya menyia-nyiakan potensi nilai ekonomi dari sampah organik, tapi juga memicu produksi gas metana, yang merupakan salah satu gas rumah kaca penyumbang pemanasan global,” ujar Diza.
Oleh karena itu, menurutnya, upaya inovatif yang telah dilakukan warga RT 21 Kelurahan Bakung Jaya patut diapresiasi dan dijadikan percontohan.
Melalui budidaya maggot, mereka berhasil mengelola sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
“Dengan prinsip ekonomi sirkular yang diterapkan, mengubah sampah menjadi sumber daya, RT 21 telah berkontribusi nyata terhadap upaya Kota Jambi menuju zero waste. Maggot mampu menyulap sampah menjadi pakan ternak berkualitas tinggi, dan residunya, yaitu kasgot, dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos untuk pertanian maupun tanaman hias,” jelasnya.
Diza juga mendorong agar inovasi serupa dapat direplikasi di wilayah lain di Kota Jambi sebagai bagian dari gerakan kolektif pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Diza juga menyoroti potensi perluasan model ini ke sektor UMKM perikanan. Seperti getas ikan, brownies ikan, hingga albumin gabus yang telah dikembangkan yang akan menjadi peluang bagi pelaku usaha di Jambi untuk memperkuat ketahanan pangan dan menggairahkan industri kreatif.
Pada kesempatan itu, Wawako Diza turut mengingatkan, bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas adalah ujung tombak menuju zero waste di Kota Jambi.
“Peningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah dari tingkat sumber, atau di rumah tangga merupakan salah satu kunci keberhasilan pengelolaan sampah Kota Jambi. Ditunjang lagi dengan pencatatan pengumpulan sampah secara digital, atau dengan menggunakan barcode. Inovasi ini menjadi salah satu sistem yang meningkatkan efisiensi, transparansi sekaligus akuntabilitas,” tuturnya.
“Sebagai bagian dari program Kampung Bahagia, pemerintah kota juga mengalokasikan dana Rp 100 juta per RT untuk mendukung manajemen sampah di tingkat lingkungan dengan Gerakan Bersama menuju zero waste,” sambungnya.







