Puisi oleh: Fitriyani
Butuh bertahun-tahun
hingga aku berani bercermin,
dan menemukan satu kebenaran yang tenang
cara dunia menyentuhku adalah gema dari caraku menyentuh diri sendiri.
Aku lelah menyalahkan tangan lain,
padahal akulah yang paling sering
membiarkan lukaku terbuka
di bawah hujan yang sama
Maka aku berhenti,
Bukan berhenti berharap
bukan berhenti percaya pada cinta,
melainkan berhenti menukar langitku
dengan atap yang terlalu rendah.
Aku memilih berjalan sendiri, bukan karena sepi
melainkan karena, aku ingin menatap langit
tanpa harus menunduk pada siapa pun.
Aku belajar menggenggam tanganku sendiri
seperti fajar yang tak menunggu disambut matahari lain
untuk menjadi terang.
Aku mengerti kini,
cinta bukan hadiah bagi mereka
yang paling lama menahan badai,
bukan upah bagi yang paling diam
saat petir mematahkan suara.
Cinta tidak lahir dari penderitaan
Ia tumbuh seperti langit setelah hujan
luas, jujur, dan tak meminta luka sebagai syarat untuk biru.
Sejak aku memahami itu,
segala yang datang padaku
tak lagi meminta aku mengecilkan diri
tak lagi menyuruhku meredup
Mereka datang seperti angin
yang tahu caranya singgah, bukan merobohkan.
Dan aku akhirnya pulang
bukan pada seseorang,
melainkan pada diriku sendiri
di bawah langit yang sama,
yang kini kupilih untuk kutinggali.






