“Pak Rahman, kenapa Bapak tetap semangat datang ke mushala setiap hari? Padahal tidak ada yang mengharuskan, kan?”
Pak Rahman tersenyum, garis keriput di wajahnya semakin jelas diterpa sinar matahari senja.
“Karena aku tahu, Nak, manusia itu sering lupa. Kalau tidak dipanggil adzan, mungkin kita tak akan ingat pada Pencipta kita. Maka aku datang agar hatiku selalu diingatkan.”
Rafi mengangguk pelan. Ia merasa seperti sedang diajari sesuatu yang jauh lebih dalam daripada teori-teori kuliah yang biasa ia pelajari.
Setiap kata dari Pak Rahman seperti nasihat seorang ayah yang lama dirindukan.
Suatu sore, hujan turun deras.
Petir menyambar, dan listrik padam. Mushala kecil itu gelap gulita, hanya diterangi cahaya lilin kecil di dekat mimbar.
Rafi membantu Pak Rahman menutup jendela dan mengeringkan lantai yang tergenang air.
“Bapak, tidak takut mushalanya bocor atau rusak?” tanya Rafi sambil memegangi ember air.
Pak Rahman tertawa lirih.
“Yang penting hatinya jangan bocor, Nak. Kalau hati bocor, iman cepat hanyut.”
Rafi tertegun, kalimat itu menancap di dadanya.
Malam itu mereka shalat berjamaah berdua, di tengah suara hujan dan cahaya lilin.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Rafi merasa benar-benar tenang dalam sujudnya.
Beberapa hari kemudian, Rafi datang lebih awal dan mendapati Pak Rahman duduk di serambi sambil menatap halaman.
Di tangannya ada sebuah kotak kayu kecil.
“Ini apa, Pak?” tanya Rafi penasaran.
“Isinya surat-surat dan catatan lama,” jawab Pak Rahman lembut.
“Dulu aku punya anak laki-laki seumuran kamu. Namanya Arfan. Dia juga kuliah di sini, tapi Allah lebih dulu memanggilnya. Sejak itu, aku memutuskan menjaga mushala ini. Rasanya seperti menjaga sesuatu yang dulu pernah aku cintai.”
Rafi terdiam, tiba-tiba ia merasa semua kebersamaan mereka selama ini lebih bermakna.
Ia seolah menemukan sosok ayah yang hilang.
“Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau Bapak pernah kehilangan anak.”
Pak Rahman tersenyum, matanya basah.
“Tidak apa, Nak. Allah tidak pernah mengambil sesuatu tanpa menggantinya dengan yang lebih baik. Mungkin sekarang gantinya kamu.”







