Di sini tak ada suara ramai, hanya kamu dan Allah.”
Ucapan itu singkat, tapi seolah mengetuk pintu hati Rafi. Setelah shalat, mereka duduk di teras mushala.
Angin sore membawa aroma tanah basah.
“Namamu siapa, Nak?” tanya sang pria.
“Rafi, Pak. Mahasiswa semester lima.”
“Oh, mahasiswa ya. Dulu saya juga pernah jadi penjaga kampus,” katanya sambil tertawa kecil.
“Sampai akhirnya saya sadar, rezeki yang paling besar bukan dari gaji atau jabatan, tapi dari ketenangan hati.”
Rafi menatapnya heran.
“Ketenangan hati?”
“Iya,” jawab pria itu.
“Kalau kamu sibuk mengejar sesuatu tapi hatimu kosong dari rasa syukur, kamu akan terus merasa gagal, meskipun berhasil sekalipun.”
Ucapan itu terus terngiang hingga malam tiba.
Ujian yang Menyadarkan Beberapa hari kemudian, ibunya menelepon.
Suaranya bergetar, terdengar letih.
“Fi, uang jahitan ibu belum dibayar pelanggan. Mungkin kiriman bulan ini agak terlambat ya, Nak.”
Rafi diam, menatap dompetnya yang hampir kosong. Ia hanya menjawab pelan,
“Iya, Bu… tidak apa-apa.”
Setelah telepon ditutup, ia terisak pelan. Ini bukan hanya soal uang.
Ia merasa gagal menjadi anak yang bisa meringankan beban ibunya.
Malam itu, tanpa sadar, ia berjalan ke mushala. Pintu masih terbuka, cahaya kuningnya sama seperti malam pertama ia melihatnya.
Pria tua itu masih di sana, sedang menata sajadah.
“Datang lagi, Nak Rafi?”
“Iya, Pak. Entah kenapa saya ingin ke sini saja malam ini.”
Pria itu tersenyum.
“Mungkin karena hatimu sedang dipanggil. Kadang Allah tidak memberi apa yang kita minta, tapi memberi yang kita butuh.”
Rafi tertegun. Ia duduk di saf belakang, menunduk lama.
Dalam sujudnya malam itu, ia menangis sejadi-jadinya, bukan lagi karena kecewa, tapi karena sadar selama ini ia berdoa hanya untuk mendapatkan hasil, bukan untuk mendekat pada Allah.
Hari-hari berikutnya terasa lebih damai. Setiap sore, Rafi datang ke mushala kecil itu, membantu Pak Rahman membersihkan sajadah, mengisi air wudhu, atau sekadar duduk berbincang tentang kehidupan.
Di antara percakapan sederhana mereka, Rafi mulai belajar arti sabar dari cara Pak Rahman menjalani hidup.







