SEPUCUKJAMBI.ID – Istilah darah manis sering muncul dalam percakapan sehari-hari untuk menggambarkan orang yang mudah digigit nyamuk atau serangga, serta mengalami luka yang tampak lebih lama sembuh.
Meski populer, istilah ini bukan istilah medis resmi, tetapi sejumlah gejala yang dikaitkan dapat dijelaskan secara ilmiah.
Orang yang disebut darah manis biasanya lebih sering digigit nyamuk atau serangga lain.
Hal ini dipengaruhi oleh bau tubuh, suhu kulit, dan senyawa kimia pada kulit, yang membuat beberapa individu lebih menarik bagi serangga.
Reaksi setelah digigit, seperti pembengkakan atau gatal berkepanjangan, merupakan respons imun tubuh terhadap saliva serangga, bukan karena kadar gula darah lebih tinggi.
Beberapa orang juga melaporkan luka lebih sulit sembuh atau mudah terinfeksi. Secara medis, hal ini bisa dipengaruhi oleh kondisi sistem imun, hidrasi, kebersihan luka, hingga status gizi.
Orang dengan masalah kesehatan tertentu memang lebih rentan terhadap infeksi dan penyembuhan lambat, tetapi bukan berarti “darah manis” adalah penyakit.
Pandangan populer lainnya menyebut darah manis bisa membuat seseorang mudah lelah atau lesu.
Padahal, rasa lelah lebih berkaitan dengan pola tidur, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan umum, bukan jenis darah atau kadar gula.
Jika sering mengalami luka sulit sembuh, infeksi berulang, atau reaksi alergi berat, sebaiknya segera konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Hal ini penting untuk memastikan kondisi tubuh ditangani dengan tepat, tanpa salah kaprah karena istilah populer.
Memahami fakta tentang darah manis membantu kita menghindari miskonsepsi dan mengambil langkah yang sesuai untuk merawat tubuh dan mencegah masalah kesehatan.(*)







