JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Keterbatasan lahan pertanian di Kota Jambi mendorong pemerintah daerah mencari cara baru untuk menjaga ketersediaan pangan.
Salah satunya melalui program Semai Agrobiopori, yang menggabungkan budidaya tanaman di pekarangan dengan pengolahan sampah organik rumah tangga.
Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha meluncurkan program tersebut bersama Kelompok Tani Teman Abadi di RT 09, Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, Kamis (8/10/2026).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Jambi, Evridal Asri, menyebut luas lahan pertanian di Kota Jambi sekitar 511 hektare.
Kondisi ini, menurutnya, membutuhkan pendekatan budidaya yang mampu memanfaatkan ruang terbatas di kawasan perkotaan.
“Dengan keterbatasan lahan pertanian, kita harus berinovasi. Salah satunya melalui Semai Agrobiopori dengan memanfaatkan lahan kosong, lahan sempit, dan pekarangan rumah untuk kegiatan budidaya,” ujar Evridal.
Semai Agrobiopori tidak hanya mendorong warga menanam tanaman pangan di pekarangan. Program ini juga mengajak masyarakat mengolah sampah rumah tangga agar memiliki nilai guna.
Melalui teknologi agrobiopori, sampah organik yang sesuai dapat diolah menjadi bahan pupuk untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Sementara itu, sampah anorganik akan dikelola melalui pendekatan 3R, yakni mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang.
Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha mengatakan keterbatasan lahan tidak seharusnya menghentikan upaya masyarakat dalam mengembangkan pertanian perkotaan.
“Dengan kondisi Kota Jambi yang memiliki keterbatasan lahan, urban farming menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan pekarangan di sekitar permukiman masyarakat,” kata Diza.
Ia menjelaskan, masyarakat dapat memasang pipa agrobiopori di pekarangan untuk mengolah sisa makanan dan sampah organik yang sesuai.
Hasil pengolahan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan bercocok tanam.
Diza berharap program yang diinisiasi DPKP Kota Jambi ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam memanfaatkan ruang terbatas sekaligus mengurangi sampah dari sumbernya.
Pemkot Jambi saat ini menjalankan Semai Agrobiopori sebagai proyek percontohan atau pilot project di dua lokasi, yakni Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, dan Kelurahan Pinang Merah, Kecamatan Alam Barajo.
Evridal mengatakan pemerintah berharap dapat mereplikasi program tersebut ke kelompok tani lain pada 2027.
Untuk mendukung rencana itu, DPKP akan mendorong pendampingan dan pembinaan teknis.
“Untuk saat ini masih berupa pilot project atau percontohan. Pada 2027 nanti kita berharap program ini dapat direplikasi pada kelompok-kelompok tani lainnya. Pemerintah akan terus mendorong melalui pendampingan dan pembinaan teknis,” ujarnya.
Tahap percontohan menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk melihat pelaksanaan program di lapangan, termasuk pemanfaatan pekarangan, pengolahan sampah organik, dan hasil budidaya tanaman.
Meski demikian, pemerintah belum memaparkan target jumlah kelompok tani yang akan mengikuti program pada 2027 maupun ukuran keberhasilan yang akan digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaannya.
Informasi mengenai target peserta, hasil panen, volume sampah organik yang terolah, dan kebutuhan pendampingan akan membantu masyarakat menilai manfaat program secara lebih terukur.
Ketua Kelompok Tani Teman Abadi, Abrianto, menyambut dukungan Pemkot Jambi terhadap pemanfaatan lahan pekarangan.
Ia mengatakan kelompoknya telah menanam cabai serta berbagai sayuran, seperti bayam dan kangkung.
Ke depan, kelompok tani tersebut juga berencana mengembangkan tanaman melon.
Abrianto menjelaskan, pupuk organik hasil pengolahan agrobiopori diharapkan dapat mendukung pemupukan tanaman.
Ia memperkirakan pupuk tersebut dapat dimanfaatkan setelah sekitar tiga bulan, bergantung pada proses pengolahannya.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi, Mahruzar.
Menurutnya, agrobiopori sejalan dengan upaya mengurangi sampah dari sumbernya melalui pemilahan dan pemanfaatan sampah organik.
Program Semai Agrobiopori menempatkan pertanian pekarangan dan pengelolaan sampah dalam satu pendekatan.
Warga tidak hanya didorong menanam bahan pangan, tetapi juga mengolah sebagian sampah rumah tangga untuk mendukung kegiatan tersebut.
Pemkot Jambi berharap pendekatan ini dapat membantu memperkuat ketahanan pangan, mendorong pemanfaatan lahan kosong, dan mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan.
Namun, dampak program terhadap ketersediaan pangan dan pengurangan sampah masih perlu diukur melalui hasil pelaksanaan di lapangan.
Data hasil panen, jumlah rumah tangga yang terlibat, serta volume sampah organik yang berhasil diolah akan menjadi indikator penting untuk mengevaluasi keberhasilannya.
Jika hasil percontohan menunjukkan manfaat yang terukur, rencana perluasan pada 2027 dapat menjadi langkah berikutnya dalam pengembangan pertanian perkotaan yang lebih produktif dan berwawasan lingkungan di Kota Jambi.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







