SEPUCUKJAMBI.ID – Fenomena kesurupan yang tetap disertai kesadaran sebagian sering kali dikaitkan dengan hal mistis.
Namun, dalam dunia medis dan psikologi, kondisi ini memiliki penjelasan yang lebih rasional dan ilmiah.
Dalam kajian psikologi klinis, kesurupan dikenal sebagai bagian dari gangguan disosiatif, khususnya Dissociative Trance Disorder (DTD).
Kondisi ini ditandai dengan perubahan kesadaran yang membuat seseorang tampak seperti “dikuasai”, padahal sebenarnya masih memiliki kesadaran parsial.
Pada situasi ini, individu umumnya masih mampu mendengar atau melihat lingkungan di sekitarnya, tetapi kehilangan kendali atas tubuh dan perilakunya.
Inilah yang kemudian dikenal di masyarakat sebagai “kesurupan tapi sadar”.
Secara medis, kondisi ini terjadi akibat disosiasi, yaitu terputusnya hubungan antara pikiran, identitas, dan kesadaran.
Disosiasi sering muncul sebagai respons terhadap tekanan mental yang berat, seperti stres berkepanjangan, trauma, atau konflik emosional yang tidak terselesaikan.
Selain faktor psikologis, ada sejumlah pemicu lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.
Kelelahan fisik, tekanan lingkungan, sugesti sosial, hingga kondisi emosional yang tidak stabil dapat memperburuk gejala.
Bahkan, dalam beberapa kasus, fenomena ini bisa terjadi secara massal di lingkungan dengan tekanan emosional tinggi dan keyakinan yang serupa.
Gejala yang muncul pun beragam, mulai dari perubahan perilaku yang drastis, suara yang berbeda, hingga gerakan tubuh yang tidak biasa.
Meski begitu, pada kasus tertentu, individu tetap memiliki kesadaran sebagian, meskipun tidak mampu mengontrol dirinya sepenuhnya.
Penanganan kondisi ini tidak selalu membutuhkan tindakan medis berat. Pendekatan yang paling dianjurkan adalah menciptakan suasana yang tenang dan aman.
Menghindari kerumunan sangat penting karena dapat memperburuk kondisi. Sebaliknya, membantu individu untuk rileks dan mengurangi rangsangan dari luar terbukti lebih efektif dalam mempercepat pemulihan.
Dalam jangka panjang, menjaga kesehatan mental menjadi langkah utama pencegahan.
Mengelola stres, cukup istirahat, serta mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater sangat dianjurkan, terutama jika kondisi terjadi berulang atau semakin parah.
Memahami fenomena ini dari sudut pandang ilmiah membantu masyarakat melihat kesurupan secara lebih objektif.
Pendekatan yang tepat tidak hanya mempercepat pemulihan, tetapi juga membantu mengurangi stigma yang selama ini melekat pada kondisi tersebut.(*)







