SEPUCUKJAMBI.ID – Pernah terbangun hanya karena suara samar, cahaya lampu dari luar kamar, atau perubahan kecil di sekitar?
Jika iya, Anda mungkin termasuk light sleeper, istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang dengan pola tidur ringan dan mudah terganggu.
Kondisi ini sebenarnya cukup umum dan tidak selalu berbahaya.
Namun, jika terjadi terus-menerus, kualitas tidur dapat menurun dan berdampak pada aktivitas sehari-hari.
Banyak light sleeper merasa tubuh tetap lelah meski durasi tidurnya terlihat cukup.
Orang dengan tidur ringan umumnya kesulitan masuk ke fase tidur dalam. Akibatnya, proses pemulihan tubuh tidak berjalan optimal.
Dampak yang sering dirasakan antara lain sulit fokus, mengantuk di siang hari, hingga rasa lesu saat bangun pagi.
Ada berbagai faktor yang dapat memicu seseorang menjadi light sleeper. Stres dan kecemasan menjadi penyebab paling umum.
Pikiran yang terus aktif membuat otak sulit mencapai kondisi istirahat penuh. Selain itu, lingkungan tidur yang kurang mendukung seperti kamar terlalu terang, bising, atau suhu tidak nyaman juga berperan besar.
Kebiasaan tidur yang tidak teratur, sering begadang, serta konsumsi kafein atau minuman berkafein di malam hari dapat mengganggu ritme alami tubuh.
Dalam beberapa kasus, kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi kualitas tidur dan membuatnya lebih dangkal.
Tidur yang terus-menerus terganggu sebaiknya tidak dianggap sepele. Dalam jangka panjang, kurang tidur berkaitan dengan penurunan konsentrasi, gangguan suasana hati, hingga melemahnya daya tahan tubuh.
Karena itu, memperbaiki kualitas tidur sejak dini menjadi hal yang penting.
Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan untuk membantu tidur lebih nyenyak. Ciptakan suasana kamar yang gelap, sejuk, dan tenang.
Penggunaan tirai gelap atau penutup telinga dapat membantu meminimalkan gangguan. Menjaga jadwal tidur yang konsisten juga membantu tubuh membentuk ritme biologis yang stabil.
Selain itu, hindari konsumsi kafein beberapa jam sebelum tidur dan batasi paparan layar ponsel atau gadget di malam hari.
Aktivitas relaksasi seperti membaca buku, mandi air hangat, atau latihan pernapasan dapat membantu tubuh dan pikiran lebih siap beristirahat.
Jika berbagai upaya sudah dilakukan tetapi tidur tetap terasa tidak berkualitas, berkonsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah yang bijak.
Pemeriksaan lebih lanjut dapat membantu mengetahui apakah terdapat gangguan tidur lain yang perlu ditangani.
Tidur berkualitas bukan hanya soal lama waktu tidur, tetapi juga seberapa dalam tubuh beristirahat
Dengan kebiasaan yang tepat, light sleeper tetap bisa menikmati tidur yang lebih nyenyak dan bangun dengan tubuh terasa segar.(*)







