Cerpen karya: Lilyana Agnesia. S
Karina dan Veron sudah lima tahun menjalin hubungan kekasih, keduanya telah memiliki kemistry yang cocok dan sangat mencintai satu sama lain.
Suatu hari Veron sudah berjanji akan melamar Karina di waktu yang tepat dan akan menjalani masa-masa hidupnya bersama dengan Karina.
Di langit yang cerah dengan hembusan angin menerpa dedaunan pohon yang jatuh, mereka memberikan hasrat dan perasaan saat berjalan bersama di tengah musim gugur.
“Karina, nanti jika kita hidup bersama selamanya. Aku ingin kau tetap melakukan apapun mimpi yang masih ingin kau capai. Jangan sampai di antara kita menjadi tertekan dan tidak bahagia,” kata Veron menatap Karina sambil tetap berjalan.
“Jadi, kapan kau akan melamarku? Lihatlah umur kita sudah 30 tahun. Aku sudah ditinggalkan teman-temanku menikah.”
“Pastinya aku akan melamarmu, tapi aku butuh persiapan yang matang, sabar ya sayang,” bujuk Veron agar tidak terburu-buru untuk menikah.
“Kau tahu aku akan melanjutkan pendidikan spesialisasi kedokteranku. Aku takut tidak akan ada waktu lagi untuk kita berdua,” ungkap Karina yang khawatir.
“Kau tidak perlu berpikir seperti itu sayang, sesibuk apapun itu. Kita harus tetap menyediakan waktu bersama walaupun sesedikit ini.”
Ucap Veron dan berhenti melangkah untuk mengusap pipi Karina.
“Tapi berjanjilah, setelah kau pulang dari New York nanti, kau sudah mempersiapkan semuanya untuk kita,” kata Karina serius dengan matanya yang berbinar.
“Tentu saja, aku tidak akan berlama-lama lagi untuk itu,” ucap Veron lalu memeluk lembut tubuh Karina.
“Aku akan menunggumu, jadi jangan kecewakan aku,” balas Karina dengan pelukan erat.
Di tengah kesibukannya Karina mengambil pendidikan spesialis anak.
Sudah sebulan ia merenung karena ditinggalkan Veron ke luar negeri karena pekerjaannya.
Kini Karina hanya mengandalkan teman-teman dekatnya untuk menjadi tempat sandaran ketika Veron pergi.
“Karina, sudahlah tidak usah merenung seperti itu terus. Dia pasti akan kembali dengan janjinya itu padamu.”
Kata Serin teman lamanya sejak Sekolah Menengah Pertama itu mengampiri Karina yang sedari tadi terus merenung.
“Aku hanya cemas dia akan tiba-tiba meninggalkanku setelah kembali ke sini,” ungkap Karina menatap Serin.
“Hei, kenapa kau berpikiran seperti itu? Setahuku dia pria dewasa yang tidak akan berpikiran labil seperti itu, meninggalkanmu setelah lima tahun bersama? Tidak mungkinlah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu,” ucap Serin untuk menenangkan pikiran Karina yang mulai tidak terkendali.
“Lalu mengapa dia meninggalkanku begitu lama? Aku begitu merindukannya sekarang.”
“Jika dia berencana pergi untuk meninggalkanmu, dia tidak perlu memberikan janjinya. Langsung saja tinggalkan tanpa basa-basi kalau memang begitu,” ucap Serin yang semakin membuat Karina gelisah.
“Serin! Tidak, dia tidak akan meninggalkanku seperti itu!” ucap Karina kesal.
“Nah, itu kau tahu. Lagi pula dia pergi untuk melanjutkan usaha-usaha ayahnya itu kan. Kau seharusnya bersabar, nanti ketika dia pulang, kau akan bersama dengan pria yang sudah matang akan segalanya. Jadi, tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun,” ungkap Serin lebih menenangkan pikiran Karina sekarang.
“Baiklah kalau begitu. Aku mengerti,” ucap Karina dengan mulut manyun dan alis mengerut.
Tiga bulan telah berlalu, belum ada kabar mengenai kabar Veron akan kembali pulang.
Ini semakin membuat Karina cemas dan khawatir, karena janjinya pergi hanya tiga bulan namun saat ini belum kembali tanpa kabar apapun.
Sembari itu, teman-teman kerabnya mengajak Karina liburan untuk menghibur diri dan terakhir mereka pergi ke De’ Tines sebuah tempat untuk karaoke bersama.
Semua temannya bernyanyi lagu-lagu gembira dan menyenangkan.
Namun, ketika Karina diajak untuk bergiliran dengannya, ia sama sekali tidak niat melakukan apapun.
Namun, teman-temannya berusaha untuk membujuknya agar ikut bernyanyi.
“Ayolah, Karina, ini giliranmu sekarang. Nyanyi lah lagu yang girang dan ceria dulu, agar kau lebih lega,” kata Risa membujuk Karina dan memberikan mic dari tangannya.
“Iya, Karina. Dulu ini tempat kita sama-sama bersenang-senang saat penat kerja. Sekarang kau harus menghibur dirimu, jangan seperti orang yang kehilangan arah hidup.” Cetus Serin sangat tajam.
“Aku memang kehilangan arah hidup sekarang. Aku tidak ingin melakukan apapun saat ini,” kata Karina semakin membuat teman-temannya juga ikut bersedih.
“Kenapa kau berkata seperti itu? Jika tidak ada Veron, masih ada kami di sisimu Karina. Ayolah, kita buang pikiran jelek itu sekarang.” Kata Lina membujuk agar Karina ikut bernyanyi sekarang.
“Baiklah, aku akan bernyanyi satu lagu saja. Lalu kita pulang ya, aku lelah hari ini,” ucap Karina lalu mengambil mic dari tangan Risa.
Serin memilih lagu gembira dengan beat yang asyik.
Namun, Karina langsung menggantinya menjadi lagu Sampaikan Rindu milik Lyodra.
Melihat itu, teman-teman Karina yang mendegarkannya bernyanyi serius dengan nada yang dalam membuat mereka kembali bersedih melihat luka Karina yang masih menunggu Veron kembali.
Setelah selesai satu lagu, Karina benar-benar ingin langsung pulang dan teman-temannya hanya pasrah dan mengantarkannya untuk pulang ke rumahnya.
Setelah kembali, Karina langsung berbaring di kasurnya untuk tidur dan melupakan sejenak rindunya itu.
Sehari telah berlalu, Karina tetap menunggu kabarnya yang masih menghilang itu.
Siang hari, ia menjalankan sebuah kegiatan praktik di Universitasnya.
Dalam keheningan dan tenggelam dalam pikirannnya, tiba-tiba ada seseorang yang mencarinya di luar ruangan.
Karina hanya melangkah lemas tidak penasaran dengan orang yang mencarinya itu.
Serin yang melihat Karina keluar ruangan mengikuti langkahnya dari belakang, penasaran akan ke mana Karina itu pergi.
Tiba sampai di luar, ia melihat seorang laki-laki yang gagah tegap memegang bunga membelakanginya.
Sepertinya Karina mengenal siapa yang mencarinya itu.
Untuk memastikan, Karina memegang tangan pria itu lalu ia menoleh menghadap Karina.
Dan benar saja itu adalah Veron yang ia tunggu-tunggu, sekarang ada di depannya.
Serin yang melihatnnya dari jauh terkejut sampai menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Veron? Kau kembali?” Karina yang melihat itu mulai meneteskan air mata karena orang yang dirindukannya telah kembali.
“Karina, maafkan aku telat untuk kembali.”
Singkatnya Veron sambil memeluk erat Karina, namun ia hanya bisa menangis saat ini.
“Kenapa kau tidak ada kabar selama tiga hari lalu? Aku mengkhawtirkanmu, seharusnya kau tahu itu!” ucap Karina sambil memukul pelan dada Veron dalam pelukannya.
“Maaf ya, ponselku rusak di sana, jadi aku harus memperbaikinya. Aku menghampirimu tadi di rumah tapi kau tidak ada. Aku langsung menelponmu tapi ponselmu tidak aktif. Jadi, aku langsung ke sini menghampirimu.” Ungkap Veron setelah melepaskan pelukannya, lalu memberikan buket bunga mawar kepada Karina.
“Jika kau sudah kembali, tidak apa kalau begitu,” ucap Karina mengambil buket yang diberikan Veron.
“Jam berapa kau selesai nanti, apakah kau sibuk? Aku ingin mengajakmu makan malam,” ucap Veron sambil menyeka air mata di pipi Karina.
“Jam lima sore nanti aku sudah selesai, aku akan kabarimu nanti,” kata Karina menundukkan kepalanya karena tersipu.
“Baiklah, nanti aku akan jemput ke rumah ya,” ajak Veron dengan senyumannya.
Setelah bertemu, Karina kembali masuk dan melihat Serin yang memperhatikannya dari kejauhan sedari tadi.
Serin menggoda Karina dengan wajahnya karena Karina terlihat senyum lebar begitu masuk kembali.
Begitu selesai, Veron menjemput Karina untuk makan malam di sebuah restoran mewah.
Suasanannya begitu romantis di penuhi dengan bunga-bunga dan lilin dengan cahaya yang persik hangat.
Hanya mereka yang menjadi pelanggan di tempat itu karena Veron telah mereservasi tempat itu khusus untuk mereka berdua saja.
“Kau tahu aku begitu merindukanmu? Tiba-tiba kau tidak ada kabar, aku kira kau akan meninggalkanku,” ungkap Karina tentang perasaannya akhir-akhir ini.
“Aku tidak mungkin meninggalkanmu Karina sayang. Jika begitu, akulah yang bodoh karena meninggalkan berlian yang langka ini,” balas Veron membuat Karina merona.
“Kau tahukan, dirimu saja yang bisa menjadi tempat sandaran ternyamanku, aku tidak akan bisa tanpamu. Berlian ini akan berkarat jika pangerannya tidak ada.”
“Kau bisa saja. Lagi pula aku sudah berjanji akan melamarmu. Jadi, setelah aku kembali, aku ingin langsung memberikanmu ini,” ucap Veron mengeluarkan sebuah cincin berlian dari kotaknya yang berwarna merah.
Karina sangat terkejut dan begitu terharu melihat tindakan kekasihnya itu.
“Karina, sudah lama aku berniat untuk melamarmu. Tapi karena masih banyak kekurangan dariku, aku harus mepersiapkan segalanya terlebih dahulu dan mungkin inilah waktu yang tepat itu. Aku ingin mendampingimu sampai akhir sisa hidupku, menjagamu, menyayangimu dan mengikat kasih cinta. Apakah kau mau Karina?” ucapan Veron membuat Karina kembali meneteskan air matanya.
“Tentu saja, Veron! Ini yang ku tunggu darimu. Terima kasih Veron.”
Karina memeluk Veron yang sedari tadi berlutut dengan satu lutut sambil memegangi cincinnya.
“Terima kasih, Karina. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu setiap waktu. Karena dirimu juga adalah sandaran terkuat untuk diriku,” ucap Veron membalas pelukannya dengan erat.
Mereka akhirnya sampai ke tahap pernikahan.
Ini bukanlah akhir tapi awal dari mereka memulai kehidupan bersama dengan kasih dan ketulusan cinta.
Tempat yang menjadi sandaran ketika dunia tidak berjalan sesuai kehendaknya, hanya satu orang itulah yang bisa mengerti dan tahu akan kesedihan serta kebahagiaannya karena telah menjadi satu dalam ikatan kasih.







