JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Kota Jambi kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga ketahanan pangan dan pengendalian inflasi. Rabu (4/6/2025), Sekretaris Daerah Kota Jambi, A. Ridwan, secara resmi melaunching Lahan Abadi Agro Kota Jambi (Lagro Koja), mewakili Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M.
Peresmian ini berlangsung di kawasan UPTD Balai Benih Hortikultura, Jalan Lingkar Barat, Kelurahan Mayang Mangurai, Kecamatan Alam Barajo. Lagro Koja berdiri di atas lahan seluas 10 hektare, dan akan dikelola oleh kelompok tani lokal yang telah diseleksi, di antaranya Poktan POJB (Pejuang Online Jambi Bersatu) dan Mayang Mandiri.
“Dengan lahan ini, kita harapkan dapat menjamin produksi pangan lokal, menjaga kestabilan harga komoditas, serta menekan angka inflasi. Ini adalah bentuk nyata dari komitmen Pemerintah Kota Jambi menuju kemandirian dan kedaulatan pangan,” ujar Sekda A. Ridwan, yang juga menjabat Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Jambi.
Ia menyampaikan bahwa angka inflasi Kota Jambi saat ini tercatat di angka 1,42 persen. Meskipun tergolong moderat, Pemkot terus melakukan pemantauan dan intervensi untuk mencegah lonjakan harga, terutama menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 H/2025 M.
“Kita tidak bisa lengah. Jika angka inflasi masih dianggap tinggi oleh Pemerintah Pusat, maka itu artinya kita belum bekerja maksimal. Maka dari itu, upaya seperti Lagro Koja ini menjadi penting,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Sekda A. Ridwan menegaskan bahwa Lagro Koja bukan sekadar proyek pertanian, tetapi investasi strategis menuju kesejahteraan petani dan stabilitas daerah.
“Lagro Koja adalah bagian dari program prioritas Kota Tangguh. Ini bukan hanya tentang pangan yang cukup, tapi juga tentang akses yang adil, keberlanjutan, dan keadilan dalam rantai pasok. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, dari pemerintah, petani, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat sebagai konsumen,” pungkasnya.
Dalam peluncuran tersebut, dilakukan penanaman perdana bibit cabai di lahan seluas 3 hektare. Komoditas ini dipilih karena menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di daerah. Secara bertahap, Lagro Koja telah mulai menghasilkan panen dari lahan lainnya, dengan produktivitas mencapai 5-8 ton per hektare.







