SEPUCUKJAMBI.ID – Bagi banyak orang, ponsel menjadi benda pertama yang disentuh saat bangun tidur. Alarm berbunyi, lalu jari secara refleks membuka notifikasi, media sosial, atau pesan yang belum sempat dibalas.
Tanpa disadari, kebiasaan ini sering membuat pagi terasa tergesa, penuh distraksi, bahkan melelahkan sebelum aktivitas benar-benar dimulai.
Belakangan, muncul tren rutinitas pagi tanpa ponsel yang mulai banyak diterapkan. Konsepnya sederhana: memberi jeda antara bangun tidur dan penggunaan gawai.
Bukan untuk menjauhi teknologi, melainkan menciptakan awal hari yang lebih sadar, tenang, dan terkendali.
Pagi hari adalah fase transisi penting bagi otak, dari kondisi istirahat menuju aktivitas.
Ketika otak langsung dibanjiri informasi, notifikasi, dan berita, sistem saraf dipaksa bekerja lebih cepat dari ritmenya. Kondisi inilah yang sering memicu rasa cemas, lelah mental, atau bad mood sejak pagi.
Dengan menunda penggunaan ponsel, tubuh diberi kesempatan untuk “bangun” secara alami.
Banyak orang memulainya dengan aktivitas sederhana seperti merapikan tempat tidur, minum air putih, mandi pagi, atau membuka jendela untuk menghirup udara segar.
Kebiasaan kecil ini membantu tubuh dan pikiran beradaptasi secara perlahan.
Rutinitas pagi tanpa ponsel juga membuka ruang untuk refleksi singkat. Ada yang memilih menulis jurnal, membaca beberapa halaman buku, stretching ringan, atau sekadar duduk tenang tanpa distraksi.
Momen ini membantu menyusun niat dan prioritas sebelum hari menjadi lebih padat.
Menariknya, banyak yang justru merasa lebih produktif dan fokus setelah membatasi ponsel di pagi hari. Otak tidak langsung “dibanjiri” informasi, sehingga konsentrasi lebih terjaga.
Suasana hati pun cenderung lebih stabil karena tidak langsung terpapar konten yang memicu emosi.
Tentu saja, kebiasaan ini tidak harus dilakukan secara ekstrem. Tidak perlu benar-benar menyingkirkan ponsel sepanjang pagi. Cukup tentukan batas waktu, misalnya 30 hingga 60 menit setelah bangun tidur.
Dalam rentang waktu tersebut, ponsel bisa disimpan atau digunakan hanya untuk fungsi dasar seperti alarm.
Bagi yang baru mencoba, perubahan ini mungkin terasa canggung. Namun, kuncinya adalah konsistensi, bukan kesempurnaan. Jika suatu pagi terlewat, tidak perlu merasa gagal.
Rutinitas ini bukan aturan kaku, melainkan alat untuk membantu hidup terasa lebih seimbang.
Pada akhirnya, rutinitas pagi tanpa ponsel bukan tentang menjauhi teknologi, melainkan mengambil kembali kendali atas waktu dan perhatian.
Dengan awal hari yang lebih tenang, banyak orang merasa lebih siap menghadapi aktivitas, keputusan, dan tantangan sepanjang hari.(*)







