Menikmati Waktu Sendiri, Cara Sederhana Menghargai Kehidupan

SEPUCUKJAMBI.ID – Sebagian orang masih menganggap aktivitas sendiri atau pergi ke pusat perbelanjaan tanpa teman sebagai sesuatu yang tidak lazim.

Masyarakat bahkan langsung mengaitkan aktivitas sendirian dengan kesepian atau minimnya relasi sosial.

Padahal, bagi sebagian individu, melakukan berbagai aktivitas sendiri justru menjadi pilihan sadar untuk menjaga keseimbangan hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena me time atau aktivitas solo semakin mudah ditemukan.

Ada pekerja kantoran yang menikmati makan siang di food court sambil membaca buku, penumpang transportasi umum yang memilih mendengarkan musik melalui earphone daripada berbincang, hingga individu yang memutuskan bepergian sendiri ke tempat baru.

Aktivitas ini bukan sekadar tren, melainkan respons terhadap ritme hidup yang semakin padat.

Meski demikian, ruang publik di Indonesia masih belum sepenuhnya ramah terhadap aktivitas sendirian.

Orang yang duduk sendiri di kafe, makan tanpa teman, atau sekadar berdiam di taman sering kali dipandang dengan rasa iba.

Pandangan tersebut muncul dari anggapan bahwa kebahagiaan selalu identik dengan kebersamaan.

Padahal, banyak orang sengaja memilih sendiri untuk mengurangi intensitas interaksi sosial yang berlebihan.

Melakukan aktivitas seorang diri sejatinya merupakan keterampilan penting dalam kehidupan modern.

Kemampuan menikmati waktu sendiri menunjukkan kemandirian dan ketahanan mental dalam menghadapi tekanan hidup.

Di tengah tuntutan sosial dan profesional yang tinggi, terutama bagi pekerja yang menghabiskan 8–10 jam sehari untuk berinteraksi dan berkoordinasi, waktu sendiri menjadi ruang pemulihan yang dibutuhkan untuk mengurangi over stimulasi.

Menjalani hobi secara mandiri, seperti bersepeda di malam hari, menonton film di bioskop sendirian, atau berjalan santai tanpa tujuan tertentu, bukanlah tanda menarik diri dari lingkungan sosial.

Sebaliknya, aktivitas tersebut dapat menjadi cara efektif untuk mengurangi kelelahan mental akibat stimulasi berlebih.

Dengan berkurangnya multitugas, otak memiliki kesempatan untuk beristirahat dan kembali bekerja dengan fokus yang lebih baik.

image_pdfimage_print
Baca juga:  Tekanan Emosional Bisa Memicu Jerawat, Ini Penjelasannya

Pos terkait