SURABAYA, SEPUCUKJAMBI.ID – Kota Tua Surabaya menjadi saksi perjalanan panjang salah satu kota terbesar di Indonesia.
Kawasan bersejarah ini membentang dari Jembatan Merah, Kembang Jepun, hingga wilayah Ampel, menyimpan berbagai kisah penting yang membentuk wajah Surabaya hari ini.
Menjelajahi kawasan ini serasa membuka kembali lembaran sejarah yang masih berdampingan dengan denyut kehidupan modern.
Jembatan Merah menjadi titik paling ikonik di kawasan Kota Tua.
Lokasi ini dikenal luas sebagai medan pertempuran besar pada masa perjuangan kemerdekaan.
Meski kini berfungsi sebagai jalur lalu lintas harian, nilai historis Jembatan Merah tetap terasa kuat dan menjadi penanda penting perjalanan kota.
Sejarawan Surabaya, R. Ahmad Zainal, menyebut kawasan ini memiliki posisi strategis dalam sejarah nasional.
“Jembatan Merah dan sekitarnya bukan hanya simbol perlawanan, tapi juga pusat aktivitas ekonomi dan sosial sejak era kolonial. Jejak itu masih bisa dirasakan sampai sekarang,” ujarnya.
Di sekitar Jembatan Merah, deretan bangunan peninggalan kolonial masih berdiri.
Gudang lama, kantor dagang, hingga rumah-rumah bergaya Eropa menjadi bagian dari lanskap sehari-hari.
Sebagian bangunan tampak terawat dan digunakan, sementara lainnya dibiarkan menua, menciptakan kontras visual yang justru memperkuat karakter kawasan Kota Tua Surabaya.
Kawasan Kembang Jepun, yang dikenal sebagai Pecinan Surabaya, turut menjadi denyut penting kawasan ini. Sejak dahulu, wilayah ini merupakan pusat perdagangan.
Hingga kini, aktivitas niaga masih berlangsung, ditandai dengan toko-toko lama, pasar tradisional, serta kuliner legendaris yang bertahan lintas generasi.
Pada malam hari, kawasan ini sering ramai dikunjungi warga dan wisatawan pencinta wisata kuliner.
Berbeda dengan kawasan wisata yang ditata secara khusus, Kota Tua Surabaya berkembang secara alami.
Aktivitas warga berlangsung berdampingan dengan bangunan bersejarah, menciptakan suasana yang otentik.
Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga menyaksikan bagaimana sejarah tetap hidup dalam keseharian masyarakat.
Waktu terbaik mengunjungi Kota Tua Surabaya adalah pagi atau sore hari, ketika cuaca lebih bersahabat.
Banyak pengunjung memilih berjalan kaki, berhenti untuk berfoto, atau sekadar duduk menikmati suasana.
Beberapa titik juga dilengkapi papan informasi yang menjelaskan peristiwa penting yang pernah terjadi di kawasan tersebut.
Kota Tua Surabaya menawarkan pengalaman wisata yang berbeda.
Tanpa atraksi buatan atau wahana modern, kawasan ini menghadirkan cerita, atmosfer, dan memori kolektif yang kuat.
Tempat ini cocok bagi siapa saja yang ingin mengenal Surabaya lebih dalam, sebagai kota yang tumbuh dari sejarah panjang, perdagangan, dan perjuangan.(*)







