Wakatobi dan Kekayaan Lautnya, Surga Diving di Timur Indonesia

SULAWESI, SEPUCUKJAMBI.ID – Wakatobi menjadi salah satu destinasi wisata bahari unggulan Indonesia yang namanya telah dikenal hingga mancanegara.

Terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara, Wakatobi merupakan singkatan dari empat pulau utama, yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Kawasan ini menawarkan panorama laut yang masih alami dan terjaga, menjadikannya surga bagi pencinta alam dan wisata bawah laut.

Keunggulan utama wisata Wakatobi terletak pada kekayaan terumbu karangnya.

Perairan Wakatobi masuk dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia dengan ratusan jenis karang dan ribuan spesies biota laut.

Air laut yang jernih membuat aktivitas diving dan snorkeling di Wakatobi terasa istimewa, bahkan tanpa menyelam pun keindahan bawah laut sudah dapat dinikmati dari permukaan.

Berbeda dari destinasi wisata bahari yang padat pengunjung, Wakatobi menghadirkan suasana tenang dan jauh dari keramaian.

Pantai-pantainya masih sepi, menawarkan pasir putih, laut biru, dan angin pantai yang menenangkan.

Kondisi ini menjadikan Wakatobi pilihan ideal bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan pengalaman liburan yang lebih eksklusif.

Tak hanya menyuguhkan keindahan alam, Wakatobi juga menawarkan wisata budaya yang autentik.

Kehidupan masyarakat pesisir yang masih sederhana dan erat dengan laut menjadi daya tarik tersendiri.

Wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan warga lokal dan melihat bagaimana tradisi serta kearifan lokal tetap dijaga hingga kini.

Sebagai kawasan konservasi, Wakatobi memiliki Taman Nasional yang berperan penting dalam pelestarian ekosistem laut.

Upaya konservasi dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat, sehingga aktivitas pariwisata dan perlindungan lingkungan berjalan seimbang.

Inilah yang menjadikan Wakatobi sebagai destinasi wisata berkelanjutan.

Akses menuju Wakatobi kini semakin mudah melalui penerbangan ke Bandara Matahora di Pulau Wangi-Wangi.

Meski memerlukan perencanaan perjalanan yang matang, pengalaman menikmati keindahan alam Wakatobi sebanding dengan usaha yang dilakukan.

Letaknya yang relatif jauh justru menjadi faktor utama terjaganya keaslian kawasan ini.

Fasilitas wisata di Wakatobi terus berkembang, mulai dari homestay hingga resor selam bertaraf internasional.

Meski demikian, nuansa alami tetap dipertahankan agar wisatawan dapat merasakan kedekatan dengan alam.

Wakatobi bukan sekadar tujuan liburan, melainkan pengalaman menyatu dengan laut dan alam.

Keindahan bawah laut, suasana yang tenang, serta kehidupan lokal yang autentik menjadikan Wakatobi salah satu destinasi wisata bahari terbaik di Indonesia yang patut dikunjungi.(*)




Mengenal Ubud Gianyar, Jantung Seni dan Budaya Pulau Bali

BALI, SEPUCUKJAMBI.ID – Ubud dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling ikonik di Bali. Berada di Kabupaten Gianyar, kawasan ini menawarkan nuansa yang berbeda dibandingkan wilayah pesisir.

Ubud identik dengan suasana yang tenang, kental akan seni dan budaya, serta dikelilingi lanskap alam yang masih asri.

Sejak lama, Ubud berkembang sebagai pusat seni dan kebudayaan Bali. Berbagai galeri seni, museum, dan sanggar tari tersebar di seluruh kawasan.

Pertunjukan seni tradisional seperti Tari Legong, Barong, dan Kecak rutin digelar dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Daya tarik Ubud juga terletak pada keindahan alamnya. Hamparan sawah terasering, lembah hijau, serta aliran sungai menciptakan suasana yang menenangkan.

Kawasan Tegalalang menjadi salah satu ikon wisata alam Ubud dengan lanskap sawah bertingkat yang terkenal hingga ke mancanegara.

Selain itu, jalur trekking di sekitar Ubud menawarkan pengalaman menyatu langsung dengan alam Bali.

Ubud juga dikenal sebagai destinasi wisata spiritual dan kesehatan. Banyak wisatawan datang untuk mengikuti kelas yoga, meditasi, hingga retret kebugaran.

Kehadiran pusat yoga, spa tradisional, dan pengobatan holistik menjadikan Ubud sebagai tempat pelarian dari rutinitas dan tekanan kehidupan modern.

Dari sisi kuliner, Ubud menawarkan pengalaman bersantap yang beragam. Restoran dan kafe menyajikan perpaduan masakan tradisional Bali dengan hidangan internasional.

Banyak tempat makan mengusung konsep alami dengan pemandangan sawah, lembah, atau sungai, sehingga menciptakan pengalaman kuliner yang lebih berkesan.

Aktivitas wisata di Ubud juga mencakup eksplorasi budaya dan sejarah.

Pasar Seni Ubud menjadi tempat favorit wisatawan untuk berburu kerajinan tangan, kain tradisional, serta cendera mata khas Bali.

Sementara itu, Puri Ubud menjadi saksi sejarah peran kerajaan dalam perkembangan seni dan budaya kawasan ini.

Meski semakin populer sebagai destinasi wisata dunia, Ubud tetap mempertahankan karakter dan tradisi lokalnya.

Upacara adat serta ritual keagamaan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Wisatawan kerap berkesempatan menyaksikan prosesi keagamaan yang berlangsung di pura-pura sekitar Ubud.

Dengan perpaduan budaya, alam, dan gaya hidup sehat, Ubud menawarkan pengalaman wisata yang seimbang dan autentik.

Destinasi ini menjadi pilihan ideal bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi Bali yang lebih tenang, reflektif, dan sarat nilai tradisi.(*)




Danau Ranau, Keindahan Danau Vulkanik di Kaki Gunung Seminung

LAMPUNG, SEPUCUKJAMBI.ID – Danau Ranau merupakan salah satu danau terbesar di Indonesia yang berada di perbatasan Provinsi Sumatra Selatan dan Lampung.

Keindahan alamnya yang masih terjaga menjadikan Danau Ranau sebagai destinasi wisata alam yang cocok bagi wisatawan pencari ketenangan, jauh dari hiruk pikuk kawasan wisata massal.

Danau Ranau terletak di kaki Gunung Seminung dan terbentuk dari aktivitas vulkanik purba.

Lanskap pegunungan yang mengelilingi danau menghadirkan panorama alam yang dramatis sekaligus menenangkan.

Air danau yang jernih berpadu dengan perbukitan hijau menjadi daya tarik utama yang memanjakan mata pengunjung.

Suasana di kawasan Danau Ranau terasa sejuk, terutama pada pagi dan sore hari.

Kabut tipis yang kerap menyelimuti permukaan danau di pagi hari menciptakan pemandangan eksotis dan fotogenik, menjadikan lokasi ini favorit bagi pencinta fotografi alam dan wisata santai.

Beragam aktivitas wisata dapat dilakukan di Danau Ranau.

Wisatawan dapat berkeliling danau menggunakan perahu tradisional, memancing, berenang di tepian danau, atau sekadar bersantai menikmati panorama alam.

Di beberapa titik, tersedia pemandian air panas alami yang berasal dari aktivitas geotermal Gunung Seminung.

Selain keindahan alamnya, Danau Ranau juga menawarkan pengalaman wisata budaya dan kehidupan lokal.

Masyarakat sekitar masih mempertahankan tradisi dan kearifan lokal melalui aktivitas pertanian, perikanan, serta perkebunan kopi.

Interaksi dengan warga setempat memberikan pengalaman wisata yang lebih autentik dan berkesan.

Akses menuju Danau Ranau dapat ditempuh melalui jalur darat dari Palembang maupun Bandar Lampung.

Meski memerlukan waktu perjalanan yang cukup panjang, pemandangan alam sepanjang perjalanan berupa jalan berkelok dan pegunungan menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta wisata alam.

Fasilitas wisata di kawasan Danau Ranau terus berkembang, mulai dari penginapan sederhana, homestay, hingga resort kecil dengan pemandangan langsung ke danau.

Kondisi ini menjadikan Danau Ranau tetap nyaman dikunjungi tanpa kehilangan kesan alami dan tenang.

Dengan keindahan alam, suasana damai, serta kedekatan dengan kehidupan masyarakat lokal, Danau Ranau menjadi destinasi wisata yang layak dijelajahi.

Danau ini menawarkan sisi lain pariwisata Indonesia yang sunyi, alami, dan autentik.(*)




Makna Lagu Republik Fufufafa, Karya Terbaru Slank Penuh Sindiran

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Grup band legendaris Slank kembali menjadi sorotan publik setelah merilis lagu terbaru berjudul “Republik Fufufafa”.

Single ini resmi diluncurkan pada 28 Desember 2025, bertepatan dengan perayaan 42 tahun perjalanan karier Slank di industri musik Indonesia.

Lagu Republik Fufufafa dirilis melalui berbagai platform musik digital serta kanal YouTube resmi Slank.

Sejak pertama kali diluncurkan, lagu ini langsung ramai diperbincangkan di media sosial karena liriknya yang dinilai sarat kritik sosial dan sindiran tajam terhadap kondisi masyarakat saat ini.

Melalui lagu tersebut, Slank menghadirkan gambaran satir tentang sebuah “republik” yang dipenuhi ironi dan kekacauan.

Liriknya menyoroti berbagai persoalan sosial, mulai dari krisis moral, ketimpangan sosial, hingga perilaku menyimpang yang dianggap semakin dinormalisasi.

Kritik disampaikan secara lugas dan frontal, mencerminkan karakter Slank yang konsisten menyuarakan kegelisahan sosial.

Dari sisi musikalitas, Republik Fufufafa mengusung aransemen rock enerjik dengan tempo cepat.

Dominasi gitar, permainan drum yang menghentak, serta vokal ekspresif memperkuat nuansa perlawanan dalam lagu ini.

Pendekatan musikal tersebut mengingatkan pada gaya Slank di era awal, saat mereka dikenal lewat lagu-lagu bertema kritik dan protes sosial.

Tak hanya dari segi audio, video musik Republik Fufufafa juga menarik perhatian.

Visual yang ditampilkan sarat simbol, karakter teatrikal, serta riasan wajah mencolok yang dinilai mempertegas pesan sindiran terhadap realitas sosial yang ingin disampaikan band tersebut.

Respons publik terhadap lagu ini terbilang beragam.

Banyak penggemar memuji konsistensi Slank dalam menjaga idealisme bermusik meski telah lebih dari empat dekade berkarya.

Namun, judul dan isi lirik lagu juga memicu beragam tafsir dan diskusi di kalangan warganet, terutama terkait relevansinya dengan isu-isu sosial yang tengah berkembang.

Melalui Republik Fufufafa, Slank kembali menegaskan posisinya sebagai band yang tidak hanya berfungsi sebagai penghibur, tetapi juga sebagai medium kritik sosial.

Di usia 42 tahun, Slank menunjukkan semangat bermusik dan keberanian bersuara mereka tetap menyala.(*)




Kebun Raya Bogor, Perpaduan Wisata Alam, Edukasi, dan Sejarah

BOGOR, SEPUCUKJAMBI.ID – Kebun Raya Bogor menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang paling dikenal di Indonesia.

Terletak strategis di pusat Kota Bogor, Jawa Barat, kawasan ini merupakan kebun botani tertua di Asia Tenggara sekaligus ruang terbuka hijau yang menawarkan udara sejuk di tengah hiruk pikuk perkotaan.

Didirikan pada tahun 1817 oleh ahli botani Caspar Georg Karl Reinwardt, Kebun Raya Bogor awalnya berfungsi sebagai pusat penelitian tanaman tropis pada masa kolonial Belanda.

Hingga kini, kawasan ini tetap berperan penting sebagai pusat konservasi, edukasi, serta penelitian botani bertaraf nasional dan internasional.

Dengan luas mencapai sekitar 87 hektare, Kebun Raya Bogor memiliki lebih dari 15 ribu koleksi tanaman dari berbagai belahan dunia. Koleksi tersebut mencakup pohon-pohon berusia ratusan tahun, beragam jenis palem dan anggrek, hingga tanaman obat dan tanaman langka khas Indonesia.

Keunggulan Kebun Raya Bogor terletak pada suasana alamnya yang asri dan tertata rapi.

Jalur pejalan kaki yang rindang, hamparan rumput hijau, kolam teratai, serta jembatan-jembatan kecil menciptakan lingkungan ideal untuk bersantai, berolahraga ringan, maupun rekreasi keluarga.

Di dalam area Kebun Raya Bogor juga terdapat Istana Bogor, salah satu istana kepresidenan Republik Indonesia.

Meski tidak dibuka secara bebas untuk umum, keberadaan rusa-rusa yang berkeliaran di sekitar istana menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Selain sebagai tempat wisata, Kebun Raya Bogor memiliki fungsi edukasi yang kuat.

Beragam kegiatan seperti tur tematik, pameran flora, serta program pembelajaran lingkungan rutin digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian alam dan keanekaragaman hayati.

Tak hanya itu, Kebun Raya Bogor juga kerap dimanfaatkan sebagai lokasi fotografi, riset akademik, hingga kegiatan seni dan budaya.

Akses yang mudah dari Jakarta dan wilayah Jabodetabek menjadikan kawasan ini selalu ramai, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.

Perpaduan nilai sejarah, keindahan alam, dan ilmu pengetahuan menjadikan Kebun Raya Bogor sebagai destinasi wisata edukatif yang relevan bagi semua kalangan dan lintas generasi.(*)




Museum Fatahillah Jakarta, Wisata Sejarah dengan Nuansa Masa Kolonial

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Museum Fatahillah merupakan salah satu destinasi wisata sejarah paling ikonik di Jakarta.

Berlokasi di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, museum ini menempati bangunan bersejarah yang dahulu dikenal sebagai Stadhuis van Batavia, pusat pemerintahan Belanda pada masa kolonial.

Bangunan Museum Fatahillah mulai didirikan pada 1707 dan resmi digunakan pada 1710.

Pada masa penjajahan Belanda, gedung ini berfungsi sebagai balai kota, pusat administrasi, pengadilan, serta penjara. Dari tempat inilah berbagai kebijakan penting kolonial VOC dijalankan di Batavia.

Setelah Indonesia merdeka, bangunan bersejarah tersebut dialihfungsikan menjadi Museum Sejarah Jakarta dan lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama Museum Fatahillah, diambil dari nama tokoh penakluk Sunda Kelapa, Fatahillah.

Di dalam museum, pengunjung dapat menemukan beragam koleksi bersejarah, mulai dari peta kuno Batavia, mebel antik peninggalan kolonial, lukisan, senjata tradisional, hingga replika prasasti Kerajaan Tarumanegara.

Salah satu koleksi paling terkenal adalah meriam Si Jagur yang berada di halaman museum dan kerap dikaitkan dengan berbagai mitos masyarakat.

Selain nilai sejarahnya, Museum Fatahillah juga dikenal memiliki cerita mistis yang sudah lama beredar.

Hal ini tidak terlepas dari fungsi gedung tersebut di masa lalu sebagai penjara bawah tanah.

Sel-sel sempit dan lembap di bagian bawah bangunan dahulu digunakan untuk menahan para tahanan, termasuk pejuang pribumi.

Sejumlah pengunjung dan pemandu wisata kerap menceritakan pengalaman tak biasa, seperti mendengar suara langkah kaki, pintu berderit, atau merasakan perubahan suhu di area tertentu.

Meski tidak pernah dibuktikan secara resmi, kisah-kisah tersebut justru menambah daya tarik Museum Fatahillah sebagai destinasi wisata sejarah dengan nuansa berbeda.

Kawasan sekitar Museum Fatahillah juga menjadi pusat aktivitas wisata Kota Tua Jakarta.

Pengunjung dapat menikmati suasana alun-alun, bersepeda ontel, berfoto dengan bangunan klasik, hingga mengunjungi museum lain di sekitarnya.

Pada akhir pekan, kawasan ini ramai oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dengan perpaduan arsitektur kolonial, nilai edukasi sejarah, dan atmosfer masa lalu yang kuat, Museum Fatahillah menjadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang ingin mengenal sejarah Jakarta lebih dekat.(*)




Peran Strategis Dewan Komisaris Bank Daerah

Oleh : Dr. Dedek Kusnadi, S.Sos, M.Si

SEPUCUKJAMBI.ID  – Bank daerah hari ini berada pada persimpangan penting antara tuntutan pembangunan daerah dan kewajiban menjaga kesehatan perbankan.

Sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD), bank daerah mengelola dana publik dalam skala besar dan menghadapi risiko kredit, likuiditas, operasional, hukum, hingga risiko reputasi.

Oleh karena itu, Dewan Komisaris menempati posisi strategis yang secara tegas diatur dan dilindungi oleh kerangka regulasi perbankan nasional.

Peran Dewan Komisaris memiliki dasar hukum yang kuat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, yang menegaskan bahwa bank wajib dikelola secara sehat dengan prinsip kehati-hatian.

Ketentuan ini diperkuat dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, yang memberikan mandat kepada OJK untuk mengatur dan mengawasi penerapan tata kelola perbankan, termasuk fungsi pengawasan oleh Dewan Komisaris.

Secara teknis, kewenangan dan tanggung jawab Dewan Komisaris ditegaskan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17 Tahun 2023 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum.

Dalam regulasi ini, Dewan Komisaris diwajibkan melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan bank, memberikan nasihat kepada direksi, serta memastikan penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran.

Regulasi ini secara eksplisit menempatkan Dewan Komisaris sebagai organ pengawas strategis, bukan sekadar pelengkap struktural.

Lebih lanjut, Surat Edaran OJK Nomor 14/SEOJK.03/2025 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Umum mengatur secara rinci kewajiban Dewan Komisaris untuk melakukan pengawasan aktif terhadap manajemen risiko, sistem pengendalian internal, fungsi audit intern, serta efektivitas komite-komite di bawah Dewan Komisaris.

Dengan dasar ini, setiap kelalaian pengawasan bukan hanya persoalan etika, tetapi berpotensi menjadi pelanggaran terhadap ketentuan regulator.

Dalam konteks bank daerah seperti Bank Jambi, dasar regulasi tersebut menjadi sangat relevan karena struktur kepemilikan mayoritas berada di tangan pemerintah daerah.

Tekanan untuk mendukung pembiayaan proyek tertentu, konsentrasi kredit pada sektor unggulan daerah, atau dorongan peningkatan dividen sering kali muncul.

Namun, POJK Tata Kelola secara jelas mengatur bahwa Dewan Komisaris wajib menjaga independensi dan menghindari benturan kepentingan.

Keberadaan komisaris independen bukan formalitas, melainkan amanat regulasi untuk menjaga objektivitas pengawasan dan mencegah bank dijadikan instrumen kebijakan jangka pendek yang berisiko.

Selain itu, kewajiban pengawasan terhadap manajemen risiko memiliki dasar kuat dalam POJK Nomor 18/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum.

Regulasi ini mewajibkan Dewan Komisaris untuk memastikan kecukupan kebijakan manajemen risiko, termasuk pengawasan atas risiko kredit, risiko konsentrasi, dan risiko strategis.

Artinya, setiap pembiayaan yang berpotensi membebani bank secara jangka panjang seharusnya berada dalam radar pengawasan Dewan Komisaris.

Dalam menghadapi transformasi digital, peran Dewan Komisaris juga dilindungi oleh ketentuan OJK mengenai manajemen risiko teknologi informasi dan keamanan siber, yang menuntut pengawasan terhadap risiko operasional dan perlindungan data nasabah.

Hal ini menegaskan bahwa inovasi perbankan harus berjalan seiring dengan kapasitas pengendalian risiko, dan Dewan Komisaris bertanggung jawab memastikan keseimbangan tersebut.

Dari sisi kualitas personalia, dasar regulasi semakin jelas melalui ketentuan fit and proper test dan sertifikasi kompetensi bagi anggota Dewan Komisaris sebagaimana diatur dalam regulasi OJK terkait penilaian kemampuan dan kepatutan.

Ketentuan ini menegaskan bahwa jabatan komisaris bukan ruang kompromi politik, melainkan posisi profesional yang menuntut integritas, kompetensi, dan pemahaman mendalam tentang industri perbankan.

Dengan landasan regulasi yang demikian lengkap, penguatan peran Dewan Komisaris bank daerah seharusnya tidak lagi menjadi perdebatan.

Tantangannya bukan pada ketiadaan aturan, melainkan pada keberanian dan konsistensi menjalankannya.

Dewan Komisaris harus berfungsi sebagai penjaga arah, pengawal kehati-hatian, dan penyeimbang kepentingan pemegang saham dengan kepentingan publik.

Pada akhirnya, bank daerah yang sehat dan berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila Dewan Komisaris menjalankan mandat regulasi secara utuh dan bertanggung jawab.

Dalam perspektif pembangunan daerah, penguatan peran strategis Dewan Komisaris bukan semata kepatuhan terhadap OJK, tetapi bentuk tanggung jawab moral dalam mengelola dana publik dan menjaga stabilitas ekonomi daerah dalam jangka panjang.(*)




Panduan Lengkap Mengunjungi Monumen Nasional Jakarta, Ikon Perjuangan Indonesia

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Monumen Nasional (Monas) adalah simbol kebanggaan dan perjuangan bangsa Indonesia yang terletak di pusat kota Jakarta, tepatnya di Lapangan Merdeka.

Monas bukan hanya penanda geografis Jakarta, tetapi juga ikon identitas nasional yang mudah dikenali dari berbagai arah.

Pembangunan Monas dimulai pada tahun 1961 atas inisiatif Presiden Soekarno, dengan tujuan menjadi pengingat abadi perjuangan rakyat Indonesia meraih kemerdekaan.

Dengan tinggi mencapai 132 meter, Monas menjulang sebagai landmark ikonik Jakarta.

Bangunan ini memiliki filosofi mendalam: tugu melambangkan lingga, sementara pelatarannya melambangkan yoni, simbol keseimbangan dan kesuburan

Di puncak Monas terdapat lidah api berlapis emas yang melambangkan semangat perjuangan yang terus berkobar, menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.

Di bagian dalam, Monas memiliki Museum Sejarah Nasional, yang menampilkan diorama perjalanan sejarah Indonesia dari masa prasejarah hingga kemerdekaan.

Diorama ini disusun kronologis sehingga mudah dipahami oleh pelajar maupun wisatawan umum.

Pengunjung juga dapat menikmati panorama Jakarta dari pelataran puncak Monas menggunakan lift.

Dari ketinggian, pemandangan gedung pencakar langit, area hijau, dan hiruk pikuk ibu kota terlihat jelas, terutama pada hari cerah.

Kawasan Lapangan Merdeka di sekitar Monas juga difungsikan sebagai ruang terbuka hijau untuk olahraga, bersantai, dan kegiatan publik.

Monas kerap menjadi lokasi peringatan kenegaraan dan acara budaya nasional.

Fasilitas di Monas cukup lengkap, termasuk area parkir, ruang pameran, dan jalur pedestrian yang rapi. Akses menuju Monas pun mudah dengan berbagai moda transportasi umum.

Lebih dari sekadar destinasi wisata, Monas adalah simbol persatuan dan perjuangan bangsa. Monas mengingatkan masyarakat akan sejarah panjang Indonesia menuju kemerdekaan.

Sekaligus menawarkan pengalaman wisata edukatif, rekreasi, dan sejarah di jantung Jakarta.(*)




Mengenal Lawang Sewu, Ikon Bersejarah dan Destinasi Wisata Populer di Semarang

SEMARANG, SEPUCUKJAMBI.ID – Lawang Sewu, ikon bersejarah Kota Semarang, Jawa Tengah, terkenal dengan arsitekturnya yang megah dan julukannya yang berarti “seribu pintu”.

Bangunan ini dibangun awal abad ke-20 sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api Hindia Belanda, dengan gaya Eropa yang disesuaikan iklim tropis.

Selain keindahan arsitektur, Lawang Sewu memiliki nilai sejarah penting.

Bangunan ini sempat digunakan pada masa pendudukan Jepang dan menjadi saksi berbagai peristiwa menjelang kemerdekaan.

Beberapa ruang bawah tanahnya memiliki fungsi penahanan, yang kemudian memunculkan cerita horor di masyarakat.

Meski dikenal angker karena kisah urban legend dan kondisi bangunan yang terbengkalai pada era 1980–1990-an, pengelola Lawang Sewu menegaskan destinasi ini bukan tempat wisata horor.

Setelah direvitalisasi, Lawang Sewu kini aman, terang, dan tertata rapi.

Wisatawan diajak memahami sejarah, arsitektur, serta peran bangunan ini dalam perjalanan bangsa.

Kini Lawang Sewu menjadi salah satu destinasi wisata populer di Semarang, menarik pengunjung untuk belajar sejarah dan budaya sekaligus berburu foto.

Pencahayaan artistik pada malam hari semakin menonjolkan kemegahan arsitektur bangunan bersejarah ini.()




Lagu J-Pop 1990an ‘Mou Koi Nante Shinai’ Viral karena Wajah Penyanyi Mirip Jokowi

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Sebuah video klip lawas penyanyi Jepang kembali viral di media sosial Indonesia karena warganet menilai wajah sang penyanyi mirip Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Video ini ramai dibagikan di platform seperti YouTube, X (Twitter), TikTok, hingga Instagram.

Tokoh yang dimaksud adalah Noriyuki Makihara, penyanyi dan penulis lagu pop Jepang yang populer sejak era 1990-an.

Video yang paling sering dibagikan berasal dari klip lagu “Mou Koi Nante Shinai”.

Dalam potongan video tersebut, Makihara tampil sederhana dengan rambut pendek dan ekspresi wajah yang dinilai menyerupai Jokowi, terutama senyum dan struktur wajahnya.

Fenomena ini memicu komentar lucu dari netizen Indonesia.

Di kolom komentar YouTube maupun unggahan ulang di media sosial, banyak yang menulis candaan seperti “Jokowi versi J-Pop”, “Pakde lagi konser di Jepang”, atau menyebut Makihara sebagai “Jokowi lost brother”.

Meskipun bernuansa humor, unggahan ini cepat menyebar dan mendorong peningkatan penayangan video klip aslinya.

Lagu “Mou Koi Nante Shinai” sendiri bukan rilisan baru, melainkan berasal dari awal 1990-an dan menjadi salah satu hits populer Noriyuki Makihara.

Namun berkat algoritma media sosial dan tren konten viral lintas negara, klip lawas ini kembali muncul di beranda banyak pengguna Indonesia dan memperoleh jutaan penonton dalam waktu singkat.

Noriyuki Makihara dikenal sebagai musisi berpengaruh di industri J-Pop.

Selain membawakan lagu-lagunya sendiri, ia juga menulis lagu untuk sejumlah artis besar Jepang, termasuk grup legendaris SMAP.

Karyanya kerap mengangkat tema kehidupan sehari-hari, cinta, dan refleksi personal, sehingga tetap relevan lintas generasi.

Fenomena kemiripan wajah dengan tokoh publik bukan hal baru di Indonesia.

Beberapa figur internasional sebelumnya juga sempat viral karena dianggap mirip dengan tokoh Tanah Air.

Menurut pakar budaya digital, tren ini merupakan bentuk hiburan spontan khas internet yang menggabungkan humor visual, nostalgia, dan algoritma media sosial.

Meski tidak terkait politik atau pernyataan resmi, viralnya video Noriyuki Makihara menunjukkan bagaimana konten lintas budaya mudah menarik perhatian publik Indonesia, hanya karena kemiripan wajah.

Fenomena ini juga menjadi pintu masuk bagi warganet untuk mengenal kembali musik pop Jepang era 1990-an yang sempat berjaya.(*)