Candi Muaro Jambi Terancam, WALHI Desak Pemerintah Hentikan Aktivitas Stockpile Batu Bara

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – WALHI Jambi mendesak pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Jambi segera menghentikan seluruh aktivitas industri di dalam maupun sekitar Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi, terutama aktivitas stockpile batu bara yang dinilai mengancam kelestarian situs bersejarah tersebut.

Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jambi, Oscar Anugrah, mengatakan keberadaan aktivitas industri di kawasan cagar budaya tidak hanya berpotensi merusak situs sejarah, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan hidup serta masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Keberadaan aktivitas industri di dalam maupun sekitar KCBN Muaro Jambi merupakan ancaman serius terhadap kelestarian situs bersejarah. Aktivitas tersebut juga mengganggu lingkungan hidup dan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat,” kata Oscar.

Menurutnya, aktivitas stockpile batu bara menimbulkan berbagai dampak lingkungan, mulai dari debu yang mencemari udara hingga mengotori struktur bangunan cagar budaya.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mempercepat pelapukan material situs yang menjadi salah satu warisan budaya penting di Provinsi Jambi.

Selain itu, lalu lintas kendaraan angkutan batu bara yang melintasi kawasan sekitar Candi Muaro Jambi juga dinilai menimbulkan getaran yang berpotensi memengaruhi kestabilan struktur bangunan cagar budaya.

WALHI juga menyoroti potensi pencemaran lingkungan akibat aktivitas industri tersebut.

Tumpahan batu bara maupun limpasan air hujan dari area stockpile disebut berpotensi mencemari tanah dan badan air, termasuk Sungai Batanghari yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Oscar menilai aktivitas industri di sekitar kawasan cagar budaya juga dapat menurunkan nilai sejarah, pendidikan, penelitian, hingga potensi wisata budaya yang dimiliki Candi Muaro Jambi.

“Kawasan Candi Muaro Jambi bukan hanya memiliki nilai sejarah dan arkeologi yang tinggi, tetapi juga merupakan bentang alam budaya yang harus dilindungi. Pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan warisan budaya dan keselamatan lingkungan,” tegasnya.

Karena itu, WALHI mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh izin usaha yang berada di kawasan maupun zona penyangga KCBN Muaro Jambi.

Evaluasi tersebut, kata Oscar, harus mencakup izin lingkungan, persetujuan lingkungan, kesesuaian tata ruang, hingga berbagai bentuk perizinan lain yang berkaitan dengan aktivitas industri di sekitar kawasan cagar budaya.

Selain menghentikan aktivitas yang dinilai tidak sesuai dengan fungsi kawasan, WALHI juga meminta pemerintah melakukan pemulihan terhadap wilayah yang telah mengalami kerusakan ekologis maupun kerusakan nilai cagar budaya.

WALHI turut mendorong agar seluruh kebijakan pembangunan di kawasan KCBN Muaro Jambi mengutamakan perlindungan warisan budaya, kelestarian lingkungan, dan keselamatan masyarakat.

Organisasi lingkungan tersebut juga meminta aparat penegak hukum menindak tegas apabila ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan perlindungan lingkungan hidup, tata ruang, maupun cagar budaya.(*)




Sungai Penuh Punya Modal Besar Jadi Kota Wisata Budaya, Ini Target Wali Kota Alfin

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Wali Kota Sungai Penuh Alfin menegaskan komitmennya untuk menjadikan Kota Sungai Penuh sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Provinsi Jambi.

Dengan kekayaan adat, seni budaya, kuliner khas, hingga potensi alam yang dimiliki, Sungai Penuh dinilai memiliki modal besar untuk berkembang menjadi pusat wisata berbasis budaya dan ekonomi kreatif.

Komitmen tersebut disampaikan Alfin saat menghadiri Pekan Budaya Pariwisata Jambi Elok Nian 2026 yang mengangkat tema “Menjaga Warisan Budaya, Menjemput Sungai Penuh Juara” di Taman Mini Melayu Jambi (Eks Arena MTQ).

Dalam kegiatan yang dibuka langsung oleh Gubernur Jambi Al Haris tersebut, Pemerintah Kota Sungai Penuh menampilkan berbagai potensi daerah mulai dari budaya, produk unggulan, kuliner, hingga destinasi wisata sebagai upaya memperluas promosi daerah.

Sungai Penuh Miliki Kekayaan Budaya dan Alam

Wali Kota Sungai Penuh, Alfin mengatakan, daerah yang berada di kawasan Sakti Alam Kerinci tersebut memiliki kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat dan dapat menjadi daya tarik wisata.

Menurutnya, potensi tersebut harus terus dijaga sekaligus dikembangkan agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kota Sungai Penuh memiliki kekayaan adat istiadat, seni budaya, kuliner, dan berbagai potensi wisata yang menjadi kekuatan daerah. Semua potensi ini akan terus kita kembangkan agar Sungai Penuh semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya unggulan,” ujar Alfin.

Ia menyebut, salah satu kekayaan budaya yang terus dilestarikan adalah Batik Incung, warisan budaya masyarakat Sakti Alam Kerinci yang memiliki nilai sejarah dan karakter khas.

“Batik Incung merupakan salah satu identitas budaya Sungai Penuh yang harus terus kita lestarikan. Selain menjadi warisan budaya, produk ini juga memiliki nilai ekonomi yang dapat mendukung pelaku usaha kreatif daerah,” katanya.

Dorong Pariwisata Berbasis Budaya dan Ekonomi Kreatif

Alfin menjelaskan, pengembangan sektor pariwisata Sungai Penuh tidak hanya berfokus pada promosi destinasi, tetapi juga bagaimana memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Menurutnya, sektor pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan UMKM, industri kreatif, kuliner lokal, serta produk unggulan daerah.

“Pariwisata bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi bagaimana masyarakat mendapatkan manfaat dari berkembangnya sektor tersebut. Karena itu, kami terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat,” ungkapnya.

Ia berharap semakin banyak wisatawan yang datang ke Sungai Penuh sehingga dapat meningkatkan perputaran ekonomi lokal.

Sungai Penuh Punya Potensi Wisata Alam yang Kuat

Selain budaya, Alfin menyampaikan bahwa Sungai Penuh juga memiliki potensi wisata alam yang menjadi daya tarik tersendiri.

Beberapa potensi tersebut di antaranya panorama pegunungan, udara yang sejuk, kawasan penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), serta berbagai komoditas unggulan seperti kopi Arabika, kayu manis, dan hasil hortikultura.

Menurutnya, perpaduan wisata budaya dan wisata alam menjadi kekuatan utama Sungai Penuh untuk bersaing dengan daerah wisata lainnya.

“Sungai Penuh memiliki kombinasi yang lengkap, mulai dari budaya, alam, hingga produk unggulan masyarakat. Potensi ini menjadi modal besar untuk membangun sektor pariwisata yang berkelanjutan,” jelas Alfin.

Apresiasi Dukungan Pemprov Jambi

Alfin juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jambi, khususnya Gubernur Al Haris, yang terus memberikan perhatian terhadap pengembangan budaya dan pariwisata daerah.

Menurutnya, kegiatan Pekan Budaya Pariwisata Jambi Elok Nian 2026 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.

“Kami berterima kasih atas dukungan Pemerintah Provinsi Jambi. Kegiatan seperti ini menjadi ruang bagi daerah untuk memperkenalkan potensi masing-masing dan memperkuat promosi wisata Jambi,” katanya.

Melalui penguatan promosi, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif, Pemerintah Kota Sungai Penuh optimistis daerah tersebut mampu menjadi salah satu tujuan wisata unggulan di Provinsi Jambi maupun tingkat nasional.(*)




Sungai Penuh Punya Potensi Besar, Al Haris Targetkan Jadi Destinasi Wisata Budaya Unggulan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Gubernur Jambi Al Haris mendorong Kota Sungai Penuh untuk menjadi salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Provinsi Jambi.

Menurutnya, daerah yang berada di kawasan Sakti Alam Kerinci itu memiliki kekayaan budaya, kuliner, serta potensi alam yang besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata nasional.

Hal tersebut disampaikan Al Haris saat membuka Pekan Budaya Pariwisata Jambi Elok Nian 2026 dengan tema “Menjaga Warisan Budaya, Menjemput Sungai Penuh Juara” yang digelar di Taman Mini Melayu Jambi (Eks Arena MTQ), Jumat 17 Juli 2026 malam.

Kegiatan tersebut menampilkan berbagai potensi Kota Sungai Penuh, mulai dari budaya, produk unggulan daerah, kuliner khas, hingga potensi pariwisata sebagai bagian dari upaya memperkuat promosi daerah.

Al Haris: Sungai Penuh Punya Modal Besar Jadi Destinasi Wisata Budaya

Dalam sambutannya, Al Haris mengatakan Kota Sungai Penuh memiliki kekayaan budaya dan alam yang luar biasa sehingga berpeluang besar berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang maju.

Menurutnya, potensi tersebut harus terus dikemas secara profesional agar mampu menarik wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Kota Sungai Penuh memiliki kekayaan budaya, kuliner, dan alam yang luar biasa. Potensi ini harus terus dikemas dengan baik agar menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Al Haris.

Ia menilai, keberagaman adat istiadat, seni budaya, kuliner khas, serta produk lokal menjadi kekuatan utama yang dapat memperkuat identitas wisata Sungai Penuh.

Dorong Promosi Wisata Lewat Kalender Event Tahunan

Untuk memperkuat sektor pariwisata daerah, Al Haris meminta seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi memiliki kalender event pariwisata tahunan yang terintegrasi.

Menurutnya, jadwal kegiatan budaya dan pariwisata yang jelas akan membantu pemerintah melakukan promosi lebih awal serta memudahkan wisatawan merencanakan kunjungan.

“Tahun depan kita harus sudah memiliki kalender event yang jelas sehingga promosi bisa dilakukan lebih awal. Dengan demikian masyarakat mengetahui kapan setiap daerah menampilkan potensi terbaiknya, dan wisatawan dapat merencanakan kunjungannya ke Jambi,” katanya.

Jambi Elok Nian Jadi Wadah Promosi Budaya Daerah

Al Haris mengapresiasi penyelenggaraan Pekan Budaya Pariwisata Jambi Elok Nian 2026 yang menjadi wadah bagi kabupaten dan kota untuk memperkenalkan potensi masing-masing daerah.

Ia mengatakan kegiatan seperti ini penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Jambi sekaligus membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM lokal.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Jambi berencana menghadirkan Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kebudayaan dalam penyelenggaraan Jambi Elok Nian tahun mendatang agar promosi budaya Jambi semakin luas di tingkat nasional.

Sungai Penuh Punya Kekayaan Budaya hingga Wisata Alam

Sementara itu, Wali Kota Sungai Penuh Alfin menyampaikan bahwa daerahnya memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan pariwisata.

Potensi tersebut meliputi adat istiadat, seni budaya, kuliner, hingga Batik Incung yang merupakan warisan budaya masyarakat Sakti Alam Kerinci.

Selain budaya, Sungai Penuh juga memiliki daya tarik wisata alam berupa udara sejuk, panorama pegunungan, kawasan penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat, serta komoditas unggulan seperti kopi Arabika, kayu manis, dan hasil hortikultura yang telah dikenal luas.

Menurutnya, seluruh potensi tersebut terus dikembangkan sebagai identitas daerah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif dan industri pariwisata.

Lestarikan Budaya dan Perkuat Identitas Jambi

Selain mendorong pengembangan wisata Sungai Penuh, Al Haris juga mengajak seluruh daerah untuk terus menjaga budaya lokal, termasuk mengembangkan produk khas seperti batik daerah.

Ia menyebut kualitas Batik Jambi terus berkembang dan memiliki nilai budaya yang tinggi sebagai identitas masyarakat Jambi.

“Kita harus bangga memakai batik daerah sendiri. Batik Jambi memiliki motif dan kualitas yang semakin baik sehingga menjadi identitas budaya yang patut kita lestarikan bersama,” ungkapnya.

Al Haris berharap Pekan Budaya Pariwisata Jambi Elok Nian 2026 menjadi momentum memperkuat pelestarian budaya, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.(*)




Maulana Beberkan Rencana Besar Kampung Batik, Destinasi Wisata Unggulan Baru Kota Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Kota Jambi terus mempercepat pengembangan Kampung Batik di kawasan Seberang Kota Jambi sebagai destinasi wisata budaya yang mampu menarik wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal.

Langkah tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kampung Batik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Bank Indonesia Perwakilan Jambi, BAZNAS, Kementerian Hukum, hingga sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Forum ini menjadi wadah untuk menyusun strategi bersama dalam memperkuat posisi Kampung Batik sebagai pusat pelestarian budaya Melayu sekaligus kawasan wisata unggulan yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., menegaskan bahwa pengembangan Kampung Batik merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Jambi dalam menjaga dan mengangkat kekayaan budaya Melayu yang menjadi identitas daerah.

Menurutnya, Batik Jambi tidak hanya memiliki nilai seni dan budaya yang tinggi, tetapi juga merupakan warisan leluhur yang perlu terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.

“Kita ingin budaya Melayu semakin dikenal melalui berbagai potensinya. Batik Jambi adalah salah satu warisan budaya yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan dipromosikan,” kata Maulana.

Ia menjelaskan, pengembangan pariwisata Kota Jambi ke depan akan diarahkan pada pembentukan kawasan wisata budaya Melayu yang terintegrasi di Kecamatan Danau Teluk dan Pelayangan.

Konsep tersebut menggabungkan berbagai destinasi wisata dalam satu kawasan yang saling terhubung sehingga memberikan pengalaman wisata yang lebih lengkap bagi pengunjung.

Nantinya, wisatawan yang datang ke kawasan Seberang Kota Jambi dapat menikmati sejumlah objek wisata sekaligus, mulai dari Gentala Arasy, Kampung Batik, Rumah Batu yang akan direvitalisasi, hingga Kampung Nelayan yang tengah diusulkan untuk dikembangkan.

“Pengunjung akan memiliki banyak pilihan destinasi dalam satu kawasan. Semua akan terhubung dalam konsep besar wisata budaya Melayu yang menjadi daya tarik baru Kota Jambi,” ujarnya.

Saat ini, Kampung Batik menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan kawasan tersebut. Berbagai penataan terus dilakukan guna meningkatkan kenyamanan dan daya tarik wisata.

Pemerintah Kota Jambi telah melakukan peningkatan infrastruktur pendukung seperti perbaikan jalan lingkungan, penataan rumah panggung khas Melayu, penyediaan sentra kuliner dan pusat oleh-oleh batik, serta penguatan aktivitas para perajin yang menjadi ikon kawasan tersebut.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan titik pusat aktivitas wisata yang untuk sementara memanfaatkan bangunan milik warga sebagai lokasi pendukung bagi para wisatawan yang berkunjung.

Maulana menegaskan, Kampung Batik tidak hanya akan dikembangkan sebagai sentra produksi batik, tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya yang menawarkan pengalaman edukasi, sejarah, dan kearifan lokal masyarakat Melayu Jambi.

“Kami ingin Kampung Batik menjadi kawasan wisata budaya yang hidup, menarik, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Karena itu seluruh aspek pendukung wisata terus dipersiapkan secara bertahap,” jelasnya.

Melalui sinergi bersama Bank Indonesia, BAZNAS, Kementerian Hukum, dan berbagai OPD terkait, Pemerintah Kota Jambi optimistis pengembangan Kampung Batik dapat berjalan lebih maksimal.

Ke depan, kawasan ini diharapkan menjadi ikon wisata budaya Kota Jambi sekaligus penggerak ekonomi baru bagi masyarakat Seberang Kota Jambi.(*)




Perdana Digelar di Jambi, Minang Market Festival Hadirkan Puluhan UMKM dan Kekayaan Budaya Minangkabau

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Semangat keberagaman dan pelestarian budaya terasa kental dalam pembukaan Minang Market Festival Jambi 2026 yang untuk pertama kalinya digelar di Kota Jambi.

Kegiatan tersebut resmi dibuka oleh Wali Kota Jambi Maulana bersama Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha di Taman Banjuran Budayo, Kamis malam (4/6/2026).

Festival yang berlangsung selama tiga hari, mulai 4 hingga 6 Juni 2026, menjadi wadah promosi budaya, kuliner, serta produk usaha masyarakat Minangkabau yang bermukim di Kota Jambi maupun daerah sekitarnya.

Sebanyak 43 tenant UMKM ambil bagian dalam kegiatan tersebut dengan menampilkan berbagai produk unggulan, mulai dari kuliner khas Minangkabau hingga aneka produk kreatif yang menarik perhatian pengunjung.

Suasana pembukaan berlangsung meriah dengan suguhan beragam kesenian tradisional Minangkabau.

Tari Pasambahan sebagai simbol penghormatan kepada tamu menjadi pembuka acara, disusul penampilan tambua, silek tuo, dan tari piring yang memukau para tamu undangan serta masyarakat yang hadir.

Wali Kota Jambi Maulana mengapresiasi semangat masyarakat Minang yang terus menjaga dan melestarikan warisan budaya di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Menurutnya, keberagaman yang ada di Kota Jambi merupakan aset berharga yang harus terus dirawat dan dikembangkan sebagai bagian dari identitas daerah.

“Taman Banjuran Budayo memang dipersiapkan sebagai ruang terbuka bagi masyarakat untuk berkegiatan, berkesenian, dan melestarikan budaya.

Pemerintah Kota Jambi mendukung seluruh kegiatan positif tanpa membedakan latar belakang suku maupun budaya,” ujar Maulana.

Ia menilai masyarakat Minangkabau memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan Kota Jambi, baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun budaya.

Berbagai nilai budaya yang ditampilkan dalam festival tersebut, lanjutnya, menjadi bukti kekayaan tradisi Minangkabau yang masih terjaga hingga saat ini.

Selain menjadi ruang pelestarian budaya, Minang Market Festival juga dinilai memberikan dampak ekonomi yang signifikan melalui keterlibatan puluhan pelaku UMKM.

Beragam kuliner khas seperti sate, pical, gulai, hingga makanan tradisional lainnya menjadi daya tarik utama yang ramai dikunjungi masyarakat.

“Kegiatan seperti ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Kehadiran puluhan pelaku UMKM memberikan peluang besar bagi pertumbuhan usaha lokal dan ekonomi kreatif di Kota Jambi,” katanya.

Maulana juga menyebut festival tersebut menjadi momentum penting bagi para perantau Minang yang tinggal di Kota Jambi untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi.

Menurutnya, keberadaan masyarakat Minangkabau sebagai salah satu komunitas terbesar di Kota Jambi menjadi kekuatan tersendiri dalam menjaga harmoni dan kebersamaan antarwarga.

Lebih lanjut, Maulana mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Jambi terus berupaya menghadirkan berbagai ruang publik baru yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan seni budaya, ekonomi kreatif, dan pengembangan UMKM.

Salah satu proyek yang tengah disiapkan adalah kawasan ruang publik baru seluas sekitar 9 hektare di wilayah Danau Selincah-Kajang Lako.

Kawasan tersebut nantinya akan dilengkapi jogging track, taman, jembatan ikonik, hingga berbagai fasilitas wisata air yang diharapkan menjadi destinasi baru bagi masyarakat.

Ia berharap Minang Market Festival dapat terus berkembang dan menjadi agenda tahunan yang masuk dalam kalender pariwisata Kota Jambi.

“Kita harus menjaga persatuan, harmoni, dan kebersamaan di tengah keberagaman yang ada. Festival seperti ini menjadi contoh bagaimana budaya dapat menjadi perekat masyarakat sekaligus penggerak ekonomi daerah,” tutup Maulana.

Festival tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat Pemerintah Kota Jambi, tokoh masyarakat Minangkabau, pelaku UMKM, organisasi kedaerahan, ninik mamak, bundo kanduang, serta ratusan masyarakat yang memadati lokasi acara.(*)




Dari Istana Kadriah, Awal Mula Kota Pontianak Dimulai

SEPUCUKJAMBI.ID – Istana Kadriah menjadi salah satu ikon sejarah penting di Pontianak yang menyimpan kisah awal berdirinya kota tersebut.

Bangunan ini dulunya merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak, sekaligus titik awal berkembangnya Pontianak sebagai kota perdagangan yang strategis di Kalimantan Barat.

Istana Kadriah dibangun pada akhir abad ke-18 oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Ia memilih lokasi di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak karena dinilai strategis untuk aktivitas perdagangan dan pelayaran.

Dari kawasan inilah cikal bakal Kota Pontianak mulai tumbuh dan berkembang hingga menjadi ibu kota provinsi seperti saat ini.

Istana ini memiliki ciri khas arsitektur Melayu dengan dominasi warna kuning yang melambangkan kebesaran dan kehormatan kerajaan.

Struktur bangunan berupa rumah panggung berbahan kayu, menyesuaikan kondisi lingkungan tepian sungai. Meski terlihat sederhana, nilai historis dan filosofinya sangat kuat.

Di dalam istana, pengunjung dapat menemukan berbagai peninggalan Kesultanan Pontianak, mulai dari singgasana raja, pakaian adat, hingga senjata tradisional.

Nuansa ruangan yang masih terjaga membuat pengunjung seolah diajak kembali ke masa kejayaan kerajaan Melayu di wilayah tersebut.

Keunikan lain Istana Kadriah adalah lokasinya yang berada di tepi Sungai Kapuas, yang dikenal sebagai sungai terpanjang di Indonesia.

Letak ini menunjukkan betapa pentingnya jalur air sebagai pusat aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Hingga kini, suasana kawasan sekitar masih mempertahankan karakter kota tepian sungai.

Tak jauh dari istana berdiri Masjid Jami Pontianak, masjid tua yang juga dibangun oleh Sultan Syarif Abdurrahman.

Kedekatan lokasi keduanya mencerminkan hubungan erat antara pemerintahan dan kehidupan religius masyarakat pada masa Kesultanan Pontianak.

Saat ini, Istana Kadriah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan.

Selain menikmati keindahan arsitektur, pengunjung juga bisa belajar tentang asal-usul Pontianak dan peran penting Kesultanan Melayu dalam membentuk identitas daerah.(*)




Wisata Sejarah di Cirebon, Jelajahi Keunikan Keraton Kasepuhan

SEPUCUKJAMBI.ID – Keraton Kasepuhan, salah satu keraton tertua di Jawa Barat, masih berdiri kokoh hingga kini dan tetap berfungsi sebagai pusat tradisi Kesultanan Cirebon.

Didirikan pada abad ke-16, keraton ini menjadi simbol harmonisasi budaya Jawa, Sunda, Islam, Tiongkok, dan Eropa, sekaligus saksi sejarah panjang Cirebon sebagai pelabuhan penting di pesisir utara Pulau Jawa.

Saat memasuki kompleks, pengunjung disambut gerbang merah bata yang megah.

Ornamen keramik khas Tiongkok menghiasi dinding, sementara tata ruang bangunan mengikuti filosofi keraton Jawa, menciptakan perpaduan unik yang sulit ditemukan di keraton lain.

Di dalam kompleks, museum menyimpan berbagai benda pusaka, termasuk Kereta Singa Barong, kereta kerajaan dengan desain gabungan naga, singa, dan burung.

Simbol ini mencerminkan hubungan diplomatik Cirebon dengan budaya Tiongkok, India, dan Timur Tengah pada masa lalu.

Suasana keraton terasa tenang dan sakral. Halaman luas, pendopo megah, serta ruang-ruang tua yang masih terawat menghadirkan pengalaman seolah waktu berjalan lebih lambat.

Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berfoto, tapi juga untuk menelusuri sejarah panjang Cirebon dan memahami akar budayanya.

Keraton Kasepuhan juga aktif sebagai pusat tradisi. Berbagai upacara adat dan peringatan hari besar masih dijalankan secara rutin, membuat keraton tetap hidup sebagai ruang budaya yang dinamis, bukan sekadar museum.

Letaknya yang strategis di tengah kota memudahkan akses pengunjung.

Banyak wisatawan bahkan mengombinasikan kunjungan dengan wisata kuliner khas Cirebon.

Seperti empal gentong dan nasi jamblang, yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari keraton.

Dengan pesona sejarah dan budaya yang kental, Keraton Kasepuhan menawarkan pengalaman wisata edukatif yang mendalam.

Setiap sudutnya bercerita tentang kejayaan Cirebon sebagai kota pelabuhan dan titik pertemuan berbagai peradaban yang membentuk identitasnya hingga kini.(*)




Dieng Bukan Sekadar Dingin, Ini Daya Tarik yang Jarang Disadari

SEPUCUKJAMBI.ID – Dieng dikenal sebagai kawasan dataran tinggi yang berada di perbatasan Jawa Tengah, dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.

Begitu memasuki kawasan ini, udara dingin langsung menyambut, bahkan saat matahari bersinar terang.

Kabut tipis yang kerap turun perlahan menambah kesan dramatis, membuat Dieng sering dijuluki sebagai negeri di atas awan.

Bentang alam Dieng didominasi perbukitan hijau, ladang kentang milik warga, serta lanskap vulkanik yang masih aktif.

Salah satu destinasi yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Kawah Sikidang.

Di kawasan ini, pengunjung bisa melihat langsung aktivitas geotermal dari dekat.

Uap panas keluar dari permukaan tanah, aroma belerang tercium kuat, dan warna tanah yang kontras menciptakan pemandangan unik yang jarang ditemui di daerah lain.

Tak jauh dari kawasan kawah, Telaga Warna menjadi daya tarik berikutnya.

Danau ini terkenal karena warna airnya yang bisa berubah-ubah, tergantung pantulan cahaya matahari dan kandungan mineral di dalamnya.

Dalam kondisi tertentu, air telaga tampak hijau, biru, hingga kekuningan.

Lingkungan sekitar yang masih asri membuat kawasan ini cocok untuk berjalan santai sambil menikmati udara sejuk pegunungan.

Dieng juga menyimpan nilai sejarah yang kuat melalui kompleks candi Hindu kuno.

Candi Arjuna dan beberapa candi di sekitarnya menjadi bukti peradaban lama yang pernah berkembang di kawasan ini.

Pada pagi hari, area candi sering diselimuti kabut, menciptakan suasana hening yang memberi kesan sakral dan magis.

Banyak wisatawan memilih datang lebih awal untuk menikmati suasana tersebut.

Keunikan Dieng tidak hanya terletak pada alam dan sejarahnya, tetapi juga pada budaya masyarakat setempat. Fenomena anak berambut gimbal menjadi ciri khas yang masih dijaga hingga kini.

Rambut gimbal tersebut dipercaya memiliki makna khusus dan hanya bisa dipotong melalui ritual adat tertentu.

Tradisi ini biasanya menjadi bagian dari Dieng Culture Festival, sebuah acara tahunan yang menampilkan pertunjukan seni, upacara adat, dan pelepasan lampion.

Cuaca ekstrem juga menjadi bagian dari kehidupan di Dieng. Pada musim kemarau tertentu, embun es atau embun upas dapat muncul di pagi hari.

Lapisan es tipis ini membuat permukaan tanaman dan tanah tampak memutih seperti salju.

Meski indah, fenomena ini cukup menantang bagi petani karena dapat merusak tanaman.

Dieng mungkin bukan destinasi wisata yang menawarkan kenyamanan maksimal, namun justru di situlah daya tariknya.

Perpaduan udara dingin, alam vulkanik yang aktif, sejarah panjang, serta tradisi yang masih terjaga menjadikan Dieng sebagai destinasi dengan karakter kuat.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berbeda di pegunungan, Dieng tetap menjadi tujuan yang layak untuk dikunjungi.(*)




Danau Sentani Papua, Pesona Tenang di Tengah Pegunungan Cycloop

SEPUCUKJAMBI.ID – Danau Sentani menjadi salah satu ikon wisata alam Papua yang menyuguhkan perpaduan lanskap indah dan kekayaan budaya lokal.

Terletak di Kabupaten Jayapura, danau terbesar di Papua ini terhampar luas di kaki Pegunungan Cycloop, menghadirkan panorama alam yang masih alami dan menenangkan.

Keuntungan berkunjung ke Danau Sentani bukan hanya pada keindahan visualnya, tetapi juga pengalaman menyatu dengan kehidupan masyarakat adat.

Permukaan air danau yang luas dipenuhi pulau-pulau kecil, menciptakan pemandangan unik yang memikat wisatawan dan fotografer.

Pada pagi hari, kabut tipis kerap menyelimuti danau, sementara sore hari menghadirkan panorama matahari terbenam yang dramatis.

Di sekitar Danau Sentani, kampung-kampung adat masih berdiri kokoh dengan rumah panggung yang mengapung di atas air. Aktivitas warga yang menggunakan perahu sebagai sarana transportasi utama memperlihatkan hubungan erat antara manusia dan alam. Wisatawan dapat menyaksikan langsung kehidupan masyarakat lokal yang bergantung pada danau sebagai sumber penghidupan.

Danau Sentani juga dikenal sebagai pusat seni lukis kulit kayu khas Papua.

Motif-motif tradisional yang menggambarkan alam, leluhur, dan kehidupan sehari-hari menjadi daya tarik budaya yang bernilai tinggi.

Kekayaan budaya ini mencapai puncaknya dalam Festival Danau Sentani, agenda tahunan yang menampilkan tarian adat, musik tradisional, dan ritual budaya khas Papua.

Bagi wisatawan, menyusuri Danau Sentani dengan perahu menjadi cara terbaik menikmati keindahan alam dari jarak dekat.

Pulau-pulau kecil di tengah danau menawarkan ketenangan, cocok untuk wisata alam, fotografi, maupun wisata budaya.

Tanpa kemewahan buatan, Danau Sentani justru menghadirkan pengalaman autentik yang meninggalkan kesan mendalam.

Dengan keindahan alam yang terjaga dan budaya yang hidup, Danau Sentani menjadi destinasi wisata Papua yang menawarkan ketenangan, kehangatan, dan makna bagi setiap pengunjung.(*)




Pantai Parangtritis, Perpaduan Wisata Alam dan Budaya di Yogyakarta

YOGYAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Pantai Parangtritis, salah satu destinasi wisata paling populer di Yogyakarta, terus menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Terletak sekitar 27 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, pantai di pesisir selatan Jawa ini dikenal dengan panorama alam yang khas, ombak besar, hamparan pasir luas, serta nuansa budaya yang kuat.

Saat memasuki kawasan Pantai Parangtritis, pengunjung langsung disambut angin laut yang berhembus kencang dan suara ombak yang bergulung tanpa henti.

Garis pantainya membentang panjang dengan pasir berwarna gelap yang halus, menciptakan kesan eksotis dan berbeda dibandingkan pantai-pantai lain di Indonesia.

Ombak Pantai Parangtritis tergolong besar dan kuat, sehingga wisatawan diimbau untuk tidak berenang terlalu ke tengah laut.

Meski demikian, pengunjung tetap dapat menikmati keindahan pantai dengan berjalan santai di tepi laut, bersantai menikmati pemandangan, atau mencoba pengalaman menyusuri pantai menggunakan andong dan ATV yang tersedia di area wisata.

Daya tarik lain yang tak kalah unik adalah gumuk pasir Parangtritis.

Gundukan pasir alami ini menjadi lokasi favorit untuk aktivitas sandboarding dan fotografi.

Pemandangan gumuk pasir dengan latar langit biru dan sinar matahari menjadikannya salah satu spot ikonik di kawasan wisata Bantul.

Pantai Parangtritis juga dikenal lekat dengan nilai budaya dan cerita mistis yang telah hidup turun-temurun.

Legenda Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan, menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat Jawa dan menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal sisi budaya Yogyakarta.

Menjelang senja, Pantai Parangtritis berubah menjadi lokasi favorit untuk menikmati matahari terbenam.

Langit berwarna jingga, pantulan cahaya di permukaan laut, serta siluet pengunjung menciptakan suasana yang hangat dan menenangkan.

Banyak wisatawan memilih menikmati sore sambil mencicipi jajanan lokal yang dijual di sekitar pantai.

Akses menuju Pantai Parangtritis terbilang mudah, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Fasilitas pendukung wisata seperti area parkir, penginapan, warung makan, hingga toko suvenir tersedia cukup lengkap.

Hal ini membuat Pantai Parangtritis tetap menjadi destinasi favorit lintas generasi di Yogyakarta.

Pantai Parangtritis bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga ruang untuk menikmati keindahan alam, budaya, dan atmosfer khas Yogyakarta dalam satu pengalaman yang berkesan.(*)