Karier Baru Sri Mulyani, Membimbing Mahasiswa Global di Oxford

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Setelah menuntaskan masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati memulai babak baru dengan bergabung sebagai pengajar di Blavatnik School of Government, Universitas Oxford.

Penunjukan ini dilakukan melalui program World Leaders Fellowship dan akan dimulai pada tahun akademik 2026.

Langkah ini menandai pergeseran Sri Mulyani dari ranah pemerintahan nasional ke dunia akademik internasional.

Sekaligus membuka peluang bagi mantan Menkeu Indonesia untuk berbagi pengalaman dalam mengelola kebijakan ekonomi dan fiskal.

Di Oxford, Sri Mulyani akan membimbing mahasiswa dan calon pemimpin dari lebih dari 60 negara, memfasilitasi diskusi intensif terkait kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan.

Kehadirannya diharapkan memperkaya perspektif akademik dengan pengalaman nyata dari praktik pemerintahan di Indonesia, serta memungkinkan pertukaran gagasan lintas budaya mengenai ekonomi makro dan tata kelola publik.

Karier internasional Sri Mulyani mencakup jabatan sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, di mana ia terlibat dalam berbagai inisiatif pembangunan dan reformasi kebijakan ekonomi global. Di tingkat nasional, ia dikenal sebagai Menteri Keuangan yang memimpin sektor fiskal Indonesia dalam berbagai periode, termasuk menghadapi tantangan pandemi dan reformasi struktural.

 “Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk bergabung dengan Blavatnik School of Government sebagai World Leaders Fellow di Universitas Oxford sebuah institusi yang menyatukan beragam perspektif untuk merefleksikan kebijakan publik dan tantangan tata kelola yang dihadapi di seluruh dunia,” kata Sri Mulyani.

Selama satu tahun masa fellowship, Sri Mulyani dijadwalkan aktif membimbing mahasiswa, mengikuti seminar dan diskusi kebijakan, serta berbagi pengalaman dari pengambilan keputusan di pemerintahan.

Kehadirannya juga membuka peluang kolaborasi akademik antara Indonesia dan institusi internasional.

Termasuk pertukaran gagasan terkait kebijakan ekonomi, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan global.

Bagi Indonesia, penunjukan ini menegaskan pengakuan global terhadap pengalaman negara berkembang. Kehadiran Sri Mulyani di Oxford tidak hanya mengangkat citra Indonesia.

Tetapi juga memperlihatkan praktik pemerintahan di negara berkembang sebagai sumber pembelajaran bagi calon pemimpin dunia.

Langkah ini menandai fase baru dalam karier Sri Mulyani, dari pengelola kebijakan nasional menjadi figur internasional yang membentuk pemimpin masa depan.(*)




Oxford Dikecam Usai Tak Cantumkan Peneliti Indonesia dalam Publikasi Rafflesia Hasseltii

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID  – Universitas Oxford menjadi sorotan publik Indonesia setelah tidak mencantumkan nama tiga peneliti lokal dalam publikasi ilmiah terkait penemuan spesies langka Rafflesia hasseltii.

Keputusan tersebut memicu kritik terkait etika kolaborasi riset internasional dan pentingnya penghargaan yang setara bagi ilmuwan dari negara berkembang.

Kontroversi muncul setelah publik mengetahui bahwa nama Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi tiga peneliti Indonesia yang terlibat dalam riset lapangan, pengumpulan data, hingga pendampingan teknis tidak masuk dalam daftar penulis publikasi tersebut.

Padahal, kontribusi mereka dinilai krusial bagi keberhasilan eksplorasi biodiversitas di lapangan.

Kritik publik semakin meluas setelah mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyampaikan protes terbuka melalui media sosial.

Ia mengingatkan bahwa peneliti Indonesia tidak boleh diperlakukan sebagai pihak sampingan dalam kolaborasi ilmiah.

Dalam unggahannya, Anies menulis:

“Dear @UniofOxford, our Indonesian researchers Joko Witono, Septi Andriki, and Iswandi  are not NPCs. Name them too.”

Ia kemudian memberikan terjemahan:

“Para peneliti Indonesia bukan tokoh figuran. Cantumkan nama mereka juga.”

Istilah NPC (non-player character), yang merujuk pada karakter pendukung dalam gim, dianggap sebagai kritik keras terhadap praktik pengabaian kontribusi ilmuwan lokal oleh institusi besar dunia.

Peneliti biodiversitas dan pegiat konservasi di Indonesia menilai kasus ini sebagai contoh ketidakadilan struktural dalam kerja sama riset internasional.

Mereka menegaskan bahwa, riset flora dan fauna di Indonesia sangat bergantung pada keahlian ilmuwan lokal mulai dari akses wilayah, pengetahuan ekologis, hingga pemahaman konteks sosial setempat.

Warganet pun ramai menyuarakan kekecewaan dan menilai bahwa tidak dicantumkannya nama peneliti Indonesia merupakan praktik yang merugikan, serta melemahkan semangat kolaborasi ilmiah yang adil.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Universitas Oxford belum mengeluarkan tanggapan resmi.

Meski demikian, tekanan publik terus meningkat.

Komunitas akademik Indonesia berharap polemik ini dapat menjadi momentum untuk menata ulang standar kolaborasi riset internasional terutama dalam memastikan pengakuan yang setara dan transparan bagi semua peneliti, tanpa memandang asal negara.(*)




Setelah 13 Tahun, Ilmuwan Temukan Rafflesia ‘Wajah Harimau’ Mekar di Hutan Sumbar

SEPUCUKJAMBI.ID – Bunga langka Rafflesia hasseltii, yang dijuluki “Rafflesia Wajah Harimau”, akhirnya ditemukan mekar di hutan hujan Sumatera Barat.

Momen langka ini menjadi buah dari ekspedisi selama 13 tahun yang dilakukan ilmuwan internasional bersama pemandu lokal, dan kini viral di media sosial.

Video haru saat bunga tersebut mekar diunggah oleh akun Instagram Universitas Oxford (@oxford_uni).

Dalam rekaman itu, pemandu lokal Septian “Deki” Andriki tampak menangis bahagia ketika kelopak Rafflesia terbuka perlahan di tengah malam-momen yang selama ini ia kejar tanpa kenal lelah.

Ekspedisi ini dipimpin oleh Dr. Chris Thorogood dari University of Oxford.

Ia dan tim melakukan perjalanan panjang menembus hutan lebat yang menjadi habitat harimau Sumatra, berjalan siang dan malam demi menyaksikan mekarnya spesies yang sangat sulit ditemukan tersebut.

“Tiga belas tahun. Saya sangat beruntung,” ujar Deki dengan suara bergetar setelah impiannya akhirnya terwujud.

“Hanya sedikit orang di dunia yang pernah melihat bunga ini,” tambah Dr Thorogood, menegaskan betapa langkanya momen tersebut.

Rafflesia hasseltii dikenal dengan pola kelopaknya yang menyerupai wajah harimau.

Spesies ini hanya mekar dalam hitungan hari, membuat peluang untuk menemukan bunga dalam kondisi sempurna menjadi sangat kecil.

Bunga tersebut ditemukan mekar di Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Sumatera Barat.

Akses menuju lokasi sangat menantang dan berisiko tinggi karena berada di wilayah jelajah harimau.

Penemuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara peneliti internasional dan masyarakat lokal.

Deki telah menjadi “mata dan telinga” tim selama bertahun-tahun, menyusuri hutan demi mendeteksi tanda-tanda kemunculan Rafflesia.

Para ahli kini menyerukan upaya perlindungan yang lebih serius terhadap habitat Rafflesia hasseltii.

Kerusakan hutan dapat membuat peluang munculnya bunga langka ini semakin menipis di masa mendatang.(*)