17 Anjal Terjaring Razia Satpol PP Kota Jambi, Ada Anak-anak dan Pasangan Suami Istri

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Aktivitas anak jalanan (anjal), gelandangan dan pengemis kembali menjadi perhatian Pemerintah Kota Jambi.

Tim Reaksi Cepat (TRC) Srikandi Satpol PP Kota Jambi menemukan 17 orang saat menyisir sejumlah ruang publik pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Penyisiran tidak hanya menyasar persimpangan lampu merah yang selama ini identik dengan aktivitas meminta-minta.

Petugas bergerak ke sejumlah kawasan lain, mulai dari Tugu Juang, rumah ibadah, kawasan Kambang, Kompi C hingga lingkungan kampus.

Temuan tersebut menunjukkan persoalan anjal di Kota Jambi tidak berada di satu titik saja.

Kasat Pol PP Kota Jambi, Iper Riyansuni mengatakan operasi dilakukan untuk menjaga ruang publik tetap tertib sekaligus mencegah aktivitas yang dapat mengganggu pengguna jalan.

“Penertiban ini kita lakukan untuk memastikan ruang publik tetap tertib dan tidak dijadikan tempat untuk melakukan aktivitas yang mengganggu pengguna jalan maupun masyarakat,” ujar Iper.

Dalam penyisiran tersebut, empat orang ditemukan di kawasan Tugu Juang. Mereka terdiri dari tiga orang dewasa dan seorang anak-anak.

Petugas kemudian bergerak ke sekitar Masjid Nurdin Hamzah dan menemukan tiga orang dewasa.

Penyisiran berlanjut ke kawasan Kambang. Di lokasi ini, petugas menemukan dua orang dewasa yang diketahui merupakan pasangan suami istri.

Dua orang dewasa lainnya ditemukan di kawasan Kompi C dan sekitarnya.

Sementara itu, di sekitar Universitas Batanghari (Unbari), petugas menemukan empat orang dewasa. Dua orang lainnya terjaring di kawasan Simpang Pulai.

Jika seluruh temuan tersebut dijumlahkan, terdapat 17 orang yang ditertibkan dalam kegiatan tersebut.

Di antara berbagai lokasi yang disisir, persimpangan lampu merah menjadi salah satu perhatian khusus Satpol PP.

Aktivitas meminta-minta di tengah arus kendaraan dinilai tidak hanya berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas, tetapi juga menempatkan orang yang beraktivitas di jalan pada situasi berisiko.

Karena itu, petugas memberikan imbauan agar mereka tidak kembali melakukan aktivitas di persimpangan.

“Untuk yang beraktivitas di lampu merah, kita imbau agar meninggalkan lokasi. Jangan melakukan aktivitas di tengah atau di sekitar persimpangan karena selain mengganggu pengguna jalan, juga berisiko terhadap keselamatan,” kata Iper.

Satpol PP menyadari penertiban satu kali tidak otomatis menghilangkan persoalan.

Setelah ditertibkan, anjal dapat berpindah ke lokasi lain. Kondisi inilah yang membuat petugas memilih melakukan pemantauan dan penyisiran secara berkala.

“Setelah ditertibkan bukan berarti persoalannya selesai. Kita akan terus melakukan pemantauan karena mereka bisa berpindah ke titik lain. Kalau ditemukan kembali, tentu akan kita tindak sesuai ketentuan,” tegas Iper.

Meluasnya titik aktivitas membuat penanganan anjal tidak cukup hanya dengan menyisir persimpangan.

Tugu Juang, rumah ibadah, kawasan Kambang, Kompi C dan lingkungan kampus juga menjadi lokasi yang masuk dalam pemantauan Satpol PP.

Menurut Iper, konsistensi diperlukan agar ruang publik tidak berubah menjadi lokasi aktivitas anjal secara berulang.

“Yang kita tertibkan bukan hanya yang ada di lampu merah. Semua lokasi yang menjadi titik aktivitas mereka akan kita pantau,” ujarnya.

Di sisi lain, Satpol PP juga meminta masyarakat tidak memberikan uang secara langsung kepada pengemis atau anjal di jalan.

Menurut Iper, pemberian uang secara langsung dapat menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas meminta-minta di ruang publik terus berlangsung.

“Kalau masyarakat terus memberikan uang di jalan, secara tidak langsung aktivitas seperti ini akan terus muncul. Kalau memang ingin membantu, salurkan melalui tempat atau lembaga yang memang menangani persoalan sosial,” katanya.

Satu temuan yang menjadi perhatian dalam operasi tersebut adalah adanya anak-anak yang berada dalam aktivitas di ruang publik.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan anjal tidak seluruhnya dapat dipandang sebagai persoalan ketertiban.

Sebagian kasus juga berkaitan dengan persoalan sosial yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Karena itu, untuk kelompok yang memerlukan intervensi sosial, Satpol PP dapat berkoordinasi dengan instansi terkait berdasarkan kondisi masing-masing.

Iper menegaskan pendekatan persuasif tetap dikedepankan dalam penertiban.

“Kita tetap mengedepankan pendekatan persuasif. Tetapi ketika sudah diberikan imbauan dan masih kembali melakukan aktivitas di lokasi yang dilarang, tentu penertiban akan terus kita lakukan,” ujarnya.

Satpol PP Kota Jambi selanjutnya akan melanjutkan pemantauan terhadap titik-titik lain yang berpotensi menjadi lokasi aktivitas anjal.

Bagi pemerintah, penertiban tersebut bukan semata-mata soal membersihkan jalan dari aktivitas anjal.

Tantangan yang lebih besar adalah memastikan ruang publik tetap aman sekaligus mendorong kelompok rentan yang ditemukan di jalan mendapatkan penanganan yang sesuai.

Dengan pola penyisiran berkelanjutan dan koordinasi dengan unsur terkait, Pemkot Jambi berharap persoalan anjal tidak terus berulang dari satu titik ke titik lainnya.(*)




Keliling Jambi Naik Fazzio dan Grand Filano, Puluhan Rider Beri Penghormatan untuk Pejuang

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Jambi tidak hanya berlangsung melalui upacara dan berbagai perlombaan.

Semangat kemerdekaan juga dibawa ke jalanan oleh 50 rider pengguna Yamaha Fazzio dan Yamaha Grand Filano melalui kegiatan touring sekaligus aksi sosial.

Kegiatan yang dikemas dengan nuansa kemerdekaan tersebut menjadi ajang bagi para pengguna skuter Yamaha untuk mempererat silaturahmi sekaligus memberikan penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan yang masih berada di Jambi.

Rombongan memulai perjalanan dari Yamaha Flagship Shop Jambi. Dengan mengenakan atribut bernuansa merah putih, para rider kemudian berkonvoi menyusuri sejumlah kawasan di Kota Jambi.

Namun, kegiatan tersebut bukan sekadar riding bersama.

Salah satu agenda utama justru diarahkan pada aksi sosial sebagai bentuk penghargaan kepada para pejuang kemerdekaan.

Singgah di Tugu Juang Jambi

Tugu Juang menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan para rider.

Lokasi tersebut dipilih karena memiliki nilai sejarah dan menjadi salah satu simbol perjuangan masyarakat Jambi.

Setibanya di kawasan Tugu Juang, para peserta memberikan cinderamata bertema kemerdekaan sebagai bentuk penghormatan dan kepedulian.

Momen tersebut menjadi bagian yang membedakan touring kemerdekaan ini dari kegiatan komunitas otomotif pada umumnya.

Para rider tidak hanya berkendara bersama, tetapi juga menjadikan momentum HUT RI sebagai kesempatan untuk mengenang kembali jasa generasi yang telah berjuang bagi bangsa.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang riding atau kumpul bersama komunitas. Kami ingin kemerdekaan tahun ini memiliki makna lebih dengan memberikan apresiasi kepada para pejuang yang telah berjasa bagi bangsa dan negara,” ujar Elvaro, salah satu perwakilan peserta.

Riding Sekaligus Mengenang Perjuangan

Bagi peserta, perjalanan berkeliling Kota Jambi memberikan pengalaman berbeda.

Selain menjadi sarana rekreasi dan memperkuat hubungan sesama pengguna Fazzio dan Grand Filano, kegiatan tersebut juga membawa pesan sosial.

Salah seorang rider mengaku senang dapat mengikuti kegiatan yang memadukan touring dengan aksi sosial.

“Senang sekali bisa ikut event ini. Selain bisa riding bareng teman-teman, kami juga bisa melakukan kegiatan positif untuk memperingati kemerdekaan. Apalagi bisa bertemu dan memberikan apresiasi langsung kepada para pejuang,” ungkapnya.

Peserta lainnya menilai kegiatan tersebut memberikan makna berbeda dibandingkan touring yang biasanya hanya berorientasi pada kebersamaan komunitas.

“Biasanya riding hanya untuk refreshing dan silaturahmi. Kali ini rasanya lebih berkesan karena ada nilai sosialnya. Kami bisa menikmati perjalanan keliling Jambi sekaligus belajar menghargai perjuangan generasi sebelumnya,” katanya.

Dari Komunitas Otomotif untuk Nilai Kemerdekaan

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa komunitas pengguna kendaraan tidak hanya berkutat pada aktivitas otomotif.

Para pengguna Fazzio dan Grand Filano mencoba membawa karakter komunitas mereka ke kegiatan yang lebih luas dengan menggabungkan gaya hidup, touring dan kepedulian sosial.

Atribut kemerdekaan yang dikenakan peserta juga membuat konvoi terlihat semarak saat melintasi sejumlah ruas jalan Kota Jambi.

Bagi generasi muda, cara tersebut menjadi salah satu bentuk ekspresi dalam memperingati kemerdekaan tanpa meninggalkan pesan utama tentang penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.

Ditutup dengan Kebersamaan di Tugu Juang

Setelah menyelesaikan rangkaian touring dan agenda sosial, rombongan kemudian menuju LTR Cafe & Resto di kawasan Tugu Juang.

Di lokasi tersebut, para peserta melanjutkan kegiatan dengan berkumpul dan berbagi pengalaman mengenai perjalanan yang telah mereka ikuti.

Kegiatan ditutup dengan suasana santai dan kebersamaan antarpeserta.

Momentum HUT ke-81 RI tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui berbagai cara.

Bagi 50 rider Fazzio dan Grand Filano, kemerdekaan diterjemahkan melalui perjalanan bersama, menjaga silaturahmi dan memberikan penghormatan kepada mereka yang telah lebih dulu berjuang.

Dari jalanan Kota Jambi, semangat merah putih pun kembali digaungkan dengan cara yang dekat dengan generasi muda: riding bersama, mengenang sejarah dan berbagi kepedulian.(*)