Jangan Salah Paham, Ini Ciri Paru-Paru Sehat dari Hasil Rontgen Dada

SEPUCUKJAMBI.ID – Rontgen dada atau toraks merupakan salah satu pemeriksaan medis yang paling umum digunakan untuk mendeteksi gangguan pada sistem pernapasan dan jantung.

Melalui hasil pencitraan ini, dokter dapat menilai kondisi rontgen dada untuk melihat struktur paru-paru, saluran pernapasan, hingga tulang rusuk secara menyeluruh.

Pada kondisi paru-paru yang sehat, hasil rontgen biasanya menunjukkan area paru berwarna lebih gelap.

Gambaran ini menandakan bahwa paru-paru terisi udara dengan baik tanpa adanya hambatan seperti cairan atau massa tertentu.

Selain itu, batas organ seperti jantung dan diafragma akan terlihat jelas dan teratur.

Sebaliknya, paru-paru yang mengalami gangguan sering memperlihatkan adanya bercak putih atau bayangan kabur pada hasil rontgen.

Kondisi ini dapat menjadi indikasi adanya infeksi atau peradangan pada sistem pernapasan.

Beberapa penyakit seperti pneumonia, tuberkulosis, atau bronkitis dapat meninggalkan pola tertentu yang terlihat pada hasil radiologi.

Pola tersebut kemudian dianalisis oleh dokter spesialis radiologi untuk membantu menegakkan diagnosis.

Selain munculnya bercak, perubahan bentuk atau ukuran paru juga bisa menjadi tanda adanya gangguan.

Paru-paru yang tampak terlalu mengembang atau justru mengempis dapat mengindikasikan masalah seperti asma kronis atau pneumotoraks yang memengaruhi tekanan udara dalam rongga dada.

Namun penting untuk dipahami bahwa hasil rontgen tidak boleh diinterpretasikan secara mandiri oleh pasien.

Penilaian medis tetap harus dilakukan oleh dokter dengan mempertimbangkan gejala klinis serta hasil pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Jika hasil rontgen menunjukkan adanya kelainan, langkah terbaik adalah segera melakukan konsultasi medis lanjutan.

Deteksi dini melalui rontgen sangat penting untuk mencegah kondisi paru-paru berkembang menjadi lebih serius dan berisiko tinggi bagi kesehatan.(*)




Dinkes Kota Jambi Catat 2.178 Kasus TBC, 163 Orang Meninggal

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jambi mencatat sebanyak 163 jiwa meninggal dunia akibat penyakit tuberkulosis (TBC).

Angka tersebut setara dengan 8,6 persen dari total kasus TBC yang ditemukan di Kota Jambi hingga 15 Desember 2025.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Jambi, Rini Kartika, mengatakan bahwa TBC merupakan penyakit menular yang sebenarnya dapat disembuhkan, asalkan penderita menjalani pengobatan secara teratur sesuai standar pelayanan kesehatan.

“Pengobatan TBC minimal dilakukan selama enam bulan dan harus dijalani secara konsisten agar pasien dapat sembuh dan mencegah penularan,” ujar Rini di Jambi, Senin.

Berdasarkan data Dinkes, hingga pertengahan Desember 2025 ditemukan 2.178 penderita tuberkulosis, termasuk 253 kasus TBC pada anak.

Jumlah ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi masalah kesehatan serius di Kota Jambi.

Rini mengungkapkan, upaya pengendalian TBC masih menghadapi sejumlah hambatan, salah satunya stigma negatif masyarakat terhadap penderita tuberkulosis.

“Masih kuatnya stigma negatif di masyarakat menjadi tantangan dalam menekan laju penularan TBC, karena banyak penderita yang enggan memeriksakan diri atau melanjutkan pengobatan,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, Pemkot Jambi telah mengimplementasikan Peraturan Wali Kota Jambi Nomor 32 Tahun 2025 tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Tuberkulosis Kota Jambi Tahun 2025–2030.

Peraturan tersebut menjadi pedoman strategis dalam upaya pencegahan dan penanggulangan TBC, sekaligus mendukung target eliminasi Tuberkulosis Nasional tahun 2030.

Menurut Rini, penanganan TBC tidak dapat hanya mengandalkan layanan medis semata.

“Faktor kesehatan hanya berkontribusi sekitar 25 persen. Sementara 75 persen pengendalian TBC ditopang oleh faktor non-kesehatan, seperti perbaikan gizi, kualitas lingkungan dan rumah sehat, serta peningkatan edukasi kesehatan di ruang publik,” jelasnya.

Dengan pendekatan komprehensif tersebut, Dinkes Kota Jambi berharap penularan TBC dapat ditekan dan kualitas kesehatan masyarakat semakin meningkat. (*)