Wisata Sejarah di Cirebon, Jelajahi Keunikan Keraton Kasepuhan

SEPUCUKJAMBI.ID – Keraton Kasepuhan, salah satu keraton tertua di Jawa Barat, masih berdiri kokoh hingga kini dan tetap berfungsi sebagai pusat tradisi Kesultanan Cirebon.

Didirikan pada abad ke-16, keraton ini menjadi simbol harmonisasi budaya Jawa, Sunda, Islam, Tiongkok, dan Eropa, sekaligus saksi sejarah panjang Cirebon sebagai pelabuhan penting di pesisir utara Pulau Jawa.

Saat memasuki kompleks, pengunjung disambut gerbang merah bata yang megah.

Ornamen keramik khas Tiongkok menghiasi dinding, sementara tata ruang bangunan mengikuti filosofi keraton Jawa, menciptakan perpaduan unik yang sulit ditemukan di keraton lain.

Di dalam kompleks, museum menyimpan berbagai benda pusaka, termasuk Kereta Singa Barong, kereta kerajaan dengan desain gabungan naga, singa, dan burung.

Simbol ini mencerminkan hubungan diplomatik Cirebon dengan budaya Tiongkok, India, dan Timur Tengah pada masa lalu.

Suasana keraton terasa tenang dan sakral. Halaman luas, pendopo megah, serta ruang-ruang tua yang masih terawat menghadirkan pengalaman seolah waktu berjalan lebih lambat.

Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berfoto, tapi juga untuk menelusuri sejarah panjang Cirebon dan memahami akar budayanya.

Keraton Kasepuhan juga aktif sebagai pusat tradisi. Berbagai upacara adat dan peringatan hari besar masih dijalankan secara rutin, membuat keraton tetap hidup sebagai ruang budaya yang dinamis, bukan sekadar museum.

Letaknya yang strategis di tengah kota memudahkan akses pengunjung.

Banyak wisatawan bahkan mengombinasikan kunjungan dengan wisata kuliner khas Cirebon.

Seperti empal gentong dan nasi jamblang, yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari keraton.

Dengan pesona sejarah dan budaya yang kental, Keraton Kasepuhan menawarkan pengalaman wisata edukatif yang mendalam.

Setiap sudutnya bercerita tentang kejayaan Cirebon sebagai kota pelabuhan dan titik pertemuan berbagai peradaban yang membentuk identitasnya hingga kini.(*)




Konflik Internal Keraton Solo Meningkat Setelah Wafatnya Pakubuwono XIII

SOLO, SEPUCUKJAMBI.ID – Suasana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memanas pada Minggu (18/1/2026) saat Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyerahkan Surat Keputusan (SK) Nomor 8 Tahun 2026 yang menunjuk KGPA Tedjowulan sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Solo.

Acara yang digelar di Sasana Handrawina sempat diwarnai protes dan adu mulut antar anggota keluarga keraton.

Penunjukan Tedjowulan dimaksudkan pemerintah untuk memperkuat pengelolaan dan pelestarian Keraton Solo sebagai situs cagar budaya nasional.

Namun, beberapa anggota keluarga menilai prosesnya kurang melibatkan mereka dan tidak sepenuhnya selaras dengan tradisi internal.

Ketegangan meningkat saat Lembaga Dewan Adat (LDA) membuka Pintu Kori Gajahan, yang memiliki makna simbolis sensitif bagi sebagian pihak. Aparat keamanan terpaksa siaga untuk menjaga ketertiban.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menanggapi santai, menyebut insiden tersebut hal yang biasa dan bagian dari proses penyelesaian.

Sementara itu, KGPA Tedjowulan mengajak seluruh keluarga besar untuk menahan diri, menekankan tugasnya adalah memperbaiki pengelolaan keraton agar lebih rapi dan profesional, bukan memicu konflik.

Kubu penolak tetap menyuarakan keberatan, menilai campur tangan pemerintah berpotensi menggerus nilai adat.

Konflik internal memang meningkat pasca wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII akhir 2025, yang memicu tarik-menarik pengaruh di keluarga keraton.

Pemerintah berargumen bahwa status Keraton Solo sebagai kawasan cagar budaya nasional menuntut pengelolaan jelas dan terstruktur.

Penunjukan pelaksana dianggap langkah administratif penting agar perawatan dan pemanfaatan situs bersejarah lebih terjamin.

Hingga kini, ketegangan di Keraton Solo masih menjadi sorotan publik. Banyak pihak berharap dialog dan mediasi segera dilakukan agar Keraton Solo tetap berfungsi sebagai pusat budaya, sejarah, dan identitas Jawa.(*)