Jangan Abaikan! Ini 7 Larangan Imlek dan Maknanya Menurut Tradisi Tionghoa

SEPUCUKJAMBI.ID – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, selain lampion merah, angpao, dan makanan khas, masyarakat Tionghoa juga menekankan sejumlah pantangan yang diyakini dapat memengaruhi keberuntungan.
Tradisi ini tidak sekadar takhayul, tetapi bagian dari filosofi budaya yang menekankan keseimbangan, keharmonisan, dan energi positif di awal tahun.
Berikut tujuh pantangan yang umum dijaga saat Imlek beserta maknanya:
1. Hindari Menyapu atau Membuang Sampah di Hari Pertama
Menyapu atau membuang sampah pada hari pertama Imlek diyakini bisa “menyapu pergi” rezeki dan keberuntungan yang baru tiba.
Karena itu, banyak keluarga membersihkan rumah sebelum pergantian tahun agar awal tahun lebih berlimpah berkah.
2. Jangan Mengucapkan Kata Negatif
Kata-kata seperti “sakit”, “mati”, atau istilah buruk lainnya sebaiknya dihindari. Ucapan positif diyakini dapat menarik energi baik dan keberuntungan untuk keluarga sepanjang tahun.
3. Tidak Menagih atau Meminjam Uang
Hari pertama Imlek dianggap waktu untuk menerima berkah, bukan urusan utang piutang. Menagih atau meminjam uang dipercaya membawa nasib kurang baik bagi kedua pihak.
4. Larangan Makan Bubur Saat Sarapan
Bubur identik dengan kesederhanaan atau kekurangan. Oleh karena itu, masyarakat biasanya memilih makanan yang melambangkan kelimpahan agar tahun baru diawali dengan energi positif.
5. Tidak Boleh Keramas atau Potong Rambut
Pelafalan kata “rambut” dalam bahasa Mandarin mirip dengan istilah kekayaan. Mencuci atau memotong rambut di hari pertama dianggap bisa “mencuci” atau menghilangkan rezeki.
6. Hindari Penggunaan Benda Tajam
Pisau atau gunting diyakini dapat “memotong” rezeki dan hubungan baik dalam keluarga.
Banyak orang menyiapkan semua bahan dan peralatan sebelum Imlek agar tidak perlu menggunakan benda tajam saat perayaan.
7. Tidak Boleh Memakai Pakaian Gelap
Warna hitam dan putih dikaitkan dengan duka, sehingga tidak dianjurkan dipakai.
Sebaliknya, warna cerah seperti merah dan emas dipercaya membawa keberuntungan, kebahagiaan, dan energi positif.
Mengikuti pantangan-pantangan ini bukan sekadar ritual, tetapi cara memfokuskan pikiran pada hal-hal positif di awal tahun.
Dengan menghormati tradisi turun-temurun, keluarga diyakini dapat meraih kesehatan, keharmonisan, dan keberuntungan sepanjang tahun.(*)