Tol Jambi-Rengat Segera Masuk Tahap Konstruksi, Ini Wilayah yang Akan Dilintasi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Proyek Jalan Tol Jambi-Rengat segera memasuki tahap pembangunan fisik.

Pemerintah Provinsi Jambi menargetkan konstruksi ruas tol yang menghubungkan Jambi dengan Riau tersebut mulai dikerjakan pada awal 2027.

Sebelum alat berat masuk ke lokasi proyek, pemerintah masih mengejar penyelesaian pengadaan tanah.

Tahapan ini ditargetkan tuntas pada Desember 2026, setelah Penetapan Lokasi (Penlok) Tol Jambi-Rengat dinyatakan selesai.

Jika seluruh proses berjalan sesuai target, pekerjaan fisik dapat dimulai pada Januari 2027.

Gubernur Jambi, Al Haris mengatakan dokumen Penlok telah diserahkan kepada pihak terkait untuk dilanjutkan ke tahap pengadaan tanah, termasuk proses pembayaran ganti rugi kepada pemilik lahan.

“Penetapan lokasi sudah selesai dan sudah kita serahkan kepada pihak terkait. Sekarang tinggal mempercepat proses pengadaan tanah, termasuk proses ganti rugi tanahnya,” kata Al Haris.

Ia menegaskan pemerintah mengejar penyelesaian pengadaan tanah hingga akhir 2026 agar pekerjaan konstruksi dapat segera dimulai.

“Targetnya Desember selesai, karena Januari sudah mulai pengerjaan fisik,” ujarnya.

Ini Wilayah yang Akan Dilintasi Tol Jambi-Rengat

Rencana pembangunan Tol Jambi-Rengat akan membawa jalur baru yang menghubungkan sejumlah wilayah di Provinsi Jambi sebelum tersambung menuju Rengat, Riau.

Di wilayah Jambi, trase tol direncanakan melintasi tiga kabupaten, yakni Muarojambi, Batanghari, dan Tanjung Jabung Barat.

Untuk Kabupaten Muarojambi, jalur tol direncanakan melewati Kelurahan Pijoan serta Desa Tantan, Rantau Majo, Gerunggung, Bukit Baling, dan Suko Awin Jaya.

Setelah itu, trase berlanjut ke Kabupaten Batanghari melalui Desa Selat dan Desa Teluk.

Jalur kemudian masuk ke Kabupaten Tanjung Jabung Barat melalui Desa Dusun Mudo, Kecamatan Muara Papalik.

Wilayah-wilayah tersebut menjadi bagian dari trase yang perlu dipersiapkan dalam tahapan pengadaan tanah sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.

Panjang Tol Jambi-Rengat Capai 67,45 Kilometer

Tol Jambi-Rengat direncanakan memiliki panjang sekitar 67,45 kilometer dan terbagi dalam dua seksi.

Seksi I membentang dari Simpang Ness menuju Cinto Kenang di Kabupaten Muarojambi dengan panjang sekitar 18,75 kilometer.

Sementara Seksi II menghubungkan Bukit Cinto Kenang hingga Merlung dengan panjang sekitar 48,70 kilometer.

Dengan dua seksi tersebut, pembangunan Tol Jambi-Rengat akan menjadi bagian penting dari pengembangan jaringan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) di wilayah Jambi.

Proyek ini juga telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sebagaimana tercantum dalam Lampiran Angka 14 Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025.

Pengadaan Tanah Jadi Kunci Sebelum Konstruksi

Meski Penlok telah rampung, pekerjaan fisik belum dapat langsung dimulai. Pemerintah masih harus menyelesaikan tahapan pengadaan tanah, termasuk proses ganti rugi lahan.

Karena itu, Desember 2026 menjadi tenggat penting bagi proyek tersebut.

Pemerintah berharap proses pengadaan tanah dapat berjalan sesuai target sehingga pekerjaan konstruksi bisa dimulai pada Januari 2027.

Sebelumnya, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait juga menggelar rapat persiapan untuk mempercepat pelaksanaan JTTS Jambi-Rengat.

Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rustam Efendi mengatakan koordinasi lintas sektor diperlukan agar proses pembangunan berjalan sesuai tahapan.

“Rapat ini digelar untuk menyamakan persepsi dan membangun komitmen bersama mengenai tata cara percepatan pelaksanaan JTTS ini,” kata Rustam.

Dengan demikian, setelah Penlok selesai, fokus pemerintah kini bergeser pada pembebasan dan pengadaan tanah.

Tahapan inilah yang akan menentukan apakah target konstruksi pada awal 2027 dapat direalisasikan sesuai rencana.

Proyek Tol Jambi-Rengat Diperkirakan Rp17 Triliun

Pembangunan ruas Tol Jambi-Rengat membutuhkan anggaran yang diperkirakan mencapai Rp17 triliun.

Proyek tersebut mendapat dukungan pembiayaan melalui pinjaman luar negeri dari Islamic Development Bank (IsDB) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Kehadiran ruas tol ini diharapkan memperkuat konektivitas Jambi-Riau sekaligus memperlancar pergerakan orang dan barang.

Jalur tol juga diproyeksikan membuka akses yang lebih cepat bagi kawasan-kawasan yang berada di sepanjang koridor pembangunan.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah trase, tahapan berikutnya menjadi bagian yang paling dinantikan: proses pengadaan tanah, penetapan ganti rugi, hingga akhirnya pekerjaan fisik dimulai.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai target pemerintah, Januari 2027 akan menjadi awal pembangunan fisik Tol Jambi-Rengat.

Dengan trase yang melintasi Muarojambi, Batanghari, dan Tanjung Jabung Barat, proyek ini nantinya tidak hanya menghadirkan koneksi baru menuju Riau, tetapi juga mengubah peta konektivitas antarwilayah di Provinsi Jambi.(*)




Kabar Terbaru Tol Jambi-Rengat: Penlok Tuntas, Fisik Ditarget Mulai 2027

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Proyek Jalan Tol Jambi-Rengat memasuki tahapan penting setelah Pemerintah Provinsi Jambi menuntaskan Penetapan Lokasi (Penlok).

Penyelesaian Penlok membuka jalan bagi tahapan pengadaan tanah sebelum proyek masuk ke pekerjaan fisik.

Pemerintah Provinsi Jambi menargetkan proses pengadaan tanah, termasuk pembayaran ganti rugi lahan, rampung pada Desember 2026.

Jika target tersebut tercapai, pembangunan fisik Tol Jambi-Rengat ditargetkan mulai pada awal 2027.

Gubernur Jambi, Al Haris mengatakan, dokumen Penlok telah diserahkan kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti.

“Penetapan lokasi sudah selesai dan sudah kita serahkan kepada pihak terkait. Sekarang tinggal mempercepat proses pengadaan tanah, termasuk proses ganti rugi tanahnya,” kata Al Haris.

Menurutnya, pemerintah mengejar penyelesaian pengadaan tanah hingga akhir 2026 agar pekerjaan konstruksi dapat dimulai pada Januari 2027.

“Targetnya Desember selesai, karena Januari sudah mulai pengerjaan fisik,” ujarnya.

Proyek Tol Jambi-Rengat Tembus Rp17 Triliun

Tol Jambi-Rengat merupakan bagian dari jaringan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) yang diproyeksikan memperkuat konektivitas Jambi dengan Riau.

Proyek tersebut juga telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sebagaimana tercantum dalam Lampiran Angka 14 Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025.

Ruas Jambi-Rengat direncanakan memiliki panjang total sekitar 67,45 kilometer dan terbagi dalam dua seksi.

Seksi I menghubungkan Simpang Ness dengan Cinto Kenang di Kabupaten Muarojambi sepanjang 18,75 kilometer.

Sementara Seksi II membentang dari Bukit Cinto Kenang hingga Merlung sepanjang 48,70 kilometer.

Jalur tersebut melintasi wilayah Kabupaten Muarojambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Kebutuhan anggaran pembangunan ruas tol tersebut diperkirakan mencapai Rp17 triliun.

Proyek ini juga mendapat dukungan pembiayaan melalui pinjaman luar negeri dari Islamic Development Bank (IsDB) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

Tiga Kabupaten di Jambi Masuk Jalur Tol

Pembangunan Tol Jambi-Rengat akan membawa perubahan pada konektivitas sejumlah wilayah di Provinsi Jambi.

Jalur tol direncanakan melewati Kabupaten Muarojambi, Kabupaten Batanghari, dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Di Muarojambi, sejumlah wilayah yang masuk dalam rencana trase antara lain Kelurahan Pijoan serta Desa Tantan, Rantau Majo, Gerunggung, Bukit Baling, dan Suko Awin Jaya.

Jalur kemudian berlanjut ke wilayah Kabupaten Batanghari melalui Desa Selat dan Teluk.

Selanjutnya, trase memasuki Kabupaten Tanjung Jabung Barat melalui Desa Dusun Mudo, Kecamatan Muara Papalik.

Rute tersebut membuat proses pengadaan tanah menjadi salah satu tahapan krusial sebelum pembangunan fisik berjalan.

Pemerintah Kejar Pengadaan Tanah

Percepatan pengadaan tanah menjadi perhatian karena target konstruksi bergantung pada kesiapan lahan.

Sebelumnya, rapat persiapan pada pertengahan Agustus 2026 juga membahas percepatan pelaksanaan JTTS Jambi-Rengat.

Rapat tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan untuk menyamakan langkah dari sisi teknis maupun administrasi.

Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rustam Efendi mengatakan koordinasi lintas sektor diperlukan agar tahapan proyek tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Rapat ini digelar untuk menyamakan persepsi dan membangun komitmen bersama mengenai tata cara percepatan pelaksanaan JTTS ini,” kata Rustam.

Dengan Penlok yang telah selesai, perhatian kini bergeser pada pengadaan tanah.

Target pemerintah cukup jelas: pengadaan tanah selesai Desember 2026 dan pekerjaan fisik mulai Januari 2027.

Namun, pencapaian target tersebut tetap bergantung pada kelancaran seluruh tahapan pengadaan tanah dan kesiapan proyek.

Bukan Sekadar Jalan Baru untuk Jambi

Jika terealisasi sesuai target, Tol Jambi-Rengat akan menjadi salah satu konektor penting antara Jambi dan Riau.

Kehadiran ruas tersebut diharapkan memperlancar mobilitas orang dan distribusi barang, sekaligus membuka akses yang lebih cepat menuju pusat-pusat kegiatan ekonomi.

Bagi Jambi, proyek ini juga strategis karena menghubungkan sejumlah wilayah yang selama ini menjadi bagian dari jalur distribusi antardaerah.

Karena itu, setelah Penlok rampung, pekerjaan terbesar berikutnya bukan lagi menentukan trase, melainkan memastikan proses pengadaan tanah berjalan sesuai target sehingga konstruksi benar-benar dapat dimulai pada 2027.

Tol Jambi-Rengat kini memasuki fase penentu: lahan harus siap, pendanaan harus terjaga, dan target konstruksi awal 2027 harus dibuktikan di lapangan.(*)




DPR Evaluasi Tol Trans Sumatera, Koridor Jambi–Rengat Ikut Jadi Sorotan

PEKANBARU, SEPUCUKJAMBI.ID — Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) memasuki fase yang semakin luas.

Hingga Agustus 2026, total jalan tol yang telah terbangun mencapai sekitar 1.160 kilometer, dengan sekitar 982 kilometer sudah beroperasi.

Namun, pembangunan fisik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan proyek strategis tersebut.

Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI menyoroti tata kelola, efektivitas penggunaan sumber daya, hingga sejauh mana keberadaan JTTS benar-benar memberikan dampak terhadap transportasi dan perekonomian masyarakat Sumatra.

Sorotan itu muncul dalam kunjungan kerja BAKN DPR RI ke Hutama Karya di Pekanbaru, Jumat 2 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut membahas pelaksanaan penugasan pemerintah kepada Hutama Karya dalam pembangunan JTTS sekaligus mengevaluasi manfaat infrastruktur yang telah dibangun.

Ketua BAKN DPR RI Andreas Eddy Susetyo memimpin rombongan dalam pertemuan tersebut. Sejumlah kementerian, lembaga, badan usaha, serta pemangku kepentingan pembangunan infrastruktur turut hadir.

DPR: Tol Harus Beri Dampak Ekonomi

Andreas menegaskan, pembangunan JTTS perlu dinilai dari manfaat yang dapat diukur, bukan hanya dari panjang jalan yang berhasil dibangun.

Menurut dia, kualitas pelayanan jalan dan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dalam mengukur efektivitas pembangunan infrastruktur.

“Penelaahan ini bertujuan memastikan pembangunan JTTS didukung perencanaan yang matang dan pengelolaan sumber daya yang akuntabel. Efektivitasnya perlu dilihat dari kualitas pelayanan serta kontribusinya terhadap kelancaran transportasi dan kegiatan ekonomi masyarakat,” ujar Andreas.

Pandangan tersebut membuat pembangunan JTTS menghadapi ukuran keberhasilan yang lebih luas.

Jalan tol tidak cukup hanya menghubungkan satu daerah dengan daerah lain, tetapi juga harus mampu memperkuat rantai distribusi dan membuka akses ekonomi baru.

Anggota BAKN DPR RI Herman Khaeron menekankan pentingnya menghubungkan jaringan tol dengan kawasan industri, sentra produksi, hingga simpul logistik.

“Akses jalan tol perlu terhubung dengan kawasan industri, sentra produksi, dan simpul logistik. Dengan demikian, kemudahan transportasi dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperlancar distribusi, memperluas pasar, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” kata Herman.

JTTS Capai 1.160 Kilometer

Dalam pertemuan tersebut, Hutama Karya memaparkan perkembangan penugasan pembangunan JTTS.

Hingga Agustus 2026, sekitar 1.160 kilometer jalan tol telah terbangun. Dari jumlah tersebut, sekitar 982 kilometer sudah beroperasi.

Pembangunan berlangsung secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan proyek, kebutuhan konektivitas, manfaat koridor, serta kemampuan pendanaan.

Hutama Karya juga memperkuat tata kelola melalui penyempurnaan prosedur studi kelayakan, kajian risiko, dan pengendalian pelaksanaan proyek.

Langkah tersebut bertujuan memastikan proyek yang masuk tahap pembangunan memiliki perencanaan lebih matang dan selaras dengan kebutuhan investasi serta kesiapan pendanaan.

Jambi–Rengat Masuk Pengembangan

Salah satu agenda yang ikut dipaparkan Hutama Karya adalah rencana pengembangan koridor Jambi–Rengat dan Pekanbaru–Padang.

Kedua koridor tersebut masih mengikuti tahapan kesiapan proyek dan skema pengusahaan yang berlaku.

Pengembangan jaringan diarahkan untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi.

Khusus bagi wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan konektivitas, keberadaan jaringan tol diharapkan dapat memangkas hambatan distribusi barang dan memperluas akses pasar.

Hutama Karya juga menyiapkan sejumlah alternatif pendanaan untuk menjaga kesinambungan pembangunan.

Dua skema yang disebut antara lain Pembayaran Berkala Berbasis Layanan dan asset recycling.

Melalui asset recycling, nilai aset yang sudah beroperasi dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung investasi pembangunan berikutnya.

Hutama Karya Tekankan Manfaat Langsung

Direktur Operasi III Hutama Karya Iwan Hermawan mengatakan pembangunan JTTS tidak semata-mata mengejar pertambahan panjang jalan.

Menurut dia, setiap koridor yang tersambung harus memberikan manfaat langsung bagi mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi.

“Penugasan JTTS kami jalankan dengan menjaga tata kelola, kualitas infrastruktur, dan keberlanjutan pembangunan. Bagi kami, setiap ruas yang tersambung membawa harapan agar masyarakat dapat menjangkau keluarga dengan lebih mudah, pelaku usaha memiliki akses pasar yang lebih luas, dan pengguna jalan menikmati perjalanan yang aman serta nyaman,” ujar Iwan.

Ia menambahkan, pencapaian tersebut membutuhkan dukungan dan sinergi berbagai pemangku kepentingan.

Tantangan JTTS Bukan Lagi Sekadar Membangun Jalan

Dengan jaringan yang terus bertambah, tantangan JTTS kini bergerak dari sekadar pembangunan fisik menuju bagaimana infrastruktur tersebut menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar.

Kawasan industri, sentra pertanian dan perkebunan, pusat perdagangan, pelabuhan, serta simpul logistik perlu mendapatkan konektivitas yang efektif dari jaringan tol.

Tanpa keterhubungan tersebut, manfaat jalan tol berpotensi tidak maksimal bagi masyarakat dan dunia usaha.

Karena itu, evaluasi BAKN DPR RI terhadap JTTS menjadi penting untuk melihat apakah pembangunan yang berjalan telah sejalan dengan tujuan awal penugasan pemerintah.

Hutama Karya menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dengan kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan lain untuk menjaga keberlanjutan pembangunan.

Dengan progres sekitar 1.160 kilometer jalan tol terbangun dan 982 kilometer telah beroperasi, pekerjaan besar JTTS kini bukan hanya menyelesaikan ruas-ruas berikutnya.

Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap kilometer jalan yang dibangun benar-benar menggerakkan orang, barang, investasi, dan ekonomi di sepanjang Pulau Sumatera.(*)




BPJN Jambi Ungkap Detail Tol Jambi–Rengat Fase I, Panjang 67,45 Km dan Mulai Dibangun 2027

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Jambi memaparkan perkembangan terbaru proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Ruas Jambi–Rengat Fase I (Simpang Ness–Merlung) yang ditargetkan mulai dibangun pada 2027.

Ruas tol sepanjang 67,45 kilometer itu akan melintasi tiga kabupaten di Provinsi Jambi dan saat ini memasuki tahap percepatan pengadaan lahan.

Plt Kepala BPJN Jambi Robert Eduard Sihotang mengatakan, ruas Tol Jambi–Rengat Fase I akan membentang dari Simpang Ness hingga Merlung. Proyek tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat konektivitas Jalan Tol Trans Sumatera di wilayah Jambi.

Menurut Robert, jalan tol ini akan dilengkapi dua simpang susun, yakni Simpang Susun Cinto Kenang dan Simpang Susun Merlung, serta dibangun melalui empat paket pekerjaan, yaitu Paket 1A, 1B, 2A, dan 2B.

“Salah satu paket pekerjaan akan difokuskan pada pembangunan Jembatan Batanghari yang menjadi struktur utama pada ruas tol ini,” ujarnya saat Rapat Koordinasi Persiapan Pembangunan JTTS Ruas Jambi–Rengat Fase I di Auditorium Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jumat 24 Juli 2026.

Ia menjelaskan, ruas tol tersebut akan melintasi Kabupaten Muaro Jambi, Batanghari, dan Tanjung Jabung Barat.

Hingga saat ini, proses pengadaan lahan telah mencapai sekitar 9 persen, mencakup sembilan desa, yakni enam desa di Kabupaten Muaro Jambi, dua desa di Kabupaten Batanghari, dan satu desa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

BPJN Jambi menargetkan proses pengadaan tanah dapat diselesaikan dalam waktu sekitar sembilan bulan setelah seluruh dokumen administrasi dan perizinan terpenuhi.

Selain pembangunan fisik, BPJN juga memastikan proyek ini memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

Berbagai langkah mitigasi telah disiapkan, mulai dari pengendalian debu dan kebisingan, perlindungan habitat, keselamatan kerja, hingga penyediaan akses masyarakat melalui pembangunan underpass maupun overpass pada titik-titik yang dibutuhkan.

Tak hanya itu, pemerintah bersama mitra pendanaan juga menyiapkan program pemulihan mata pencaharian bagi masyarakat terdampak serta membuka mekanisme penyampaian keluhan dan konsultasi secara berkala bersama pemerintah desa dan warga.

Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris meminta seluruh proses persiapan dilakukan secara matang agar pembangunan dapat dimulai sesuai target pada 2027.

Menurutnya, pengalaman pembangunan Tol Jambi–Palembang menjadi pelajaran penting, terutama dalam proses pendataan lahan dan koordinasi lintas instansi.

“Kita belajar dari pengalaman pembangunan Jalan Tol Jambi–Palembang. Persiapan harus dilakukan sejak dini, terutama pendataan lahan, agar pelaksanaan pembangunan pada tahun 2027 dapat berjalan sesuai rencana,” kata Al Haris.

Ia juga meminta pemerintah kabupaten yang wilayahnya dilintasi jalan tol segera menyelesaikan pemetaan desa terdampak, jumlah bidang tanah, luas lahan, serta data masyarakat sebagai dasar percepatan pengadaan tanah.

Al Haris menegaskan, masyarakat yang lahannya terdampak akan memperoleh kompensasi sesuai hasil penilaian independen sehingga proses pembangunan dapat berjalan adil dan transparan.

Melalui koordinasi yang terus diperkuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPJN, BPN, serta mitra pendanaan internasional, proyek Tol Jambi–Rengat Fase I diharapkan dapat berjalan tepat waktu dan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi serta konektivitas di Provinsi Jambi.(*)




Rencana Tol Jambi–Rengat Dimatangkan, Target Selesaikan Konektivitas Sumatera

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – PT Hutama Karya (Persero) terus memperkuat perannya dalam mendukung pembangunan nasional melalui percepatan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Tahap II, khususnya di koridor Betung–Tempino–Jambi sepanjang 170,70 km.

Selain itu, perusahaan juga merencanakan pembangunan Ruas Tol Jambi–Rengat untuk memperlancar mobilitas, memperkuat konektivitas antarprovinsi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di Jambi, Sumatra Selatan, hingga Riau.

Saat ini, Tol Betung–Tempino–Jambi terdiri dari segmen yang sudah beroperasi dan segmen konstruksi yang masih berjalan.

Segmen Bayung Lencir–Tempino sepanjang 34,10 km dan Tempino–Ness 18,49 km sudah beroperasi tanpa tarif.

Sementara itu, 118,14 km masih dalam tahap konstruksi, terbagi menjadi Seksi 1 (Betung–Tungkal Jaya) sepanjang 62,38 km dan Seksi 2 (Tungkal Jaya–Bayung Lencir) sepanjang 55,76 km.

“Misi kami adalah memperkuat konektivitas antarwilayah, mempermudah arus logistik, dan memastikan manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat serta pelaku usaha,” kata Mardiansyah, Executive Vice President (EVP) Hutama Karya.

Progres pembebasan lahan dan konstruksi tiap seksi menunjukkan capaian signifikan.

Seksi 1A mencatat 48,32% pembebasan lahan dan 57,64% konstruksi, dengan target selesai Kuartal I 2027.

Seksi 1B mencapai 41,14% lahan dan 13,39% konstruksi, target Kuartal I 2027.

Sementara itu, Seksi 2A mencapai 28,45% lahan dan 22,03% konstruksi, Seksi 2B 40,48% lahan dan 22,37% konstruksi, target penyelesaian Kuartal IV 2027.

Dalam rangka pengawasan dan sinergi lintas pemangku kepentingan, Kamis (29/01), dilakukan kunjungan kerja ke Gerbang Tol Pijoan.

Hadir dalam kunjungan anggota Komisi V DPR RI, pejabat Kementerian Pekerjaan Umum, perwakilan Pemprov Jambi, serta jajaran Hutama Karya.

Ketua rombongan A. Bakri menyampaikan dukungan penuh agar pembangunan Tol Jambi–Rengat dapat terealisasi.

Selain memperkuat konektivitas, proyek ini diharapkan memberikan dampak sosial positif, antara lain mendukung pengembangan UMKM lokal di rest area, menyediakan fasilitas overpass dan underpass, serta menjaga mobilitas masyarakat sekitar.

Ruas Tol Jambi–Rengat sepanjang 198,13 km menjadi kelanjutan penting JTTS untuk menghubungkan Jambi dengan Riau dan pusat aktivitas ekonomi seperti kawasan industri Sungai Enok.

Tol ini juga membuka akses strategis ke destinasi wisata dan konservasi, seperti Kompleks Candi Muaro Jambi, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Berbak–Bukit Tigapuluh.

“Dengan pengembangan JTTS yang berkelanjutan, Hutama Karya berkomitmen menghadirkan infrastruktur andal dan terkoneksi, sehingga manfaatnya dirasakan langsung masyarakat dan mendukung daya saing ekonomi regional,” tutup Mardiansyah.(*)




Wamen PU: Tol Jambi-Rengat Segera Masuki Proses Lelang dan Konstruksi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Rencana pembangunan Tol Jambi-Rengat kini semakin matang.

Pendanaan melalui klon IB sudah dalam proses, termasuk tahap redinas kriteria.

Pihak terkait menargetkan proses lelang dimulai pada Juni 2026, sehingga pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan tahun ini.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana, melakukan pemantauan langsung terkait rencana pembangunan Tol Jambi-Rengat pada Kamis (8/2/2026).

Tol ini diproyeksikan dapat memangkas waktu tempuh perjalanan secara signifikan dan meningkatkan konektivitas antarwilayah.

Sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di Jambi dan sekitarnya.

Menurut Wamen PU Diana, tol ini akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

“Dengan tol Jambi-Rengat, perjalanan yang biasanya ditempuh selama 3 jam bisa dipangkas menjadi hanya 40 menit,” kata dia.

“Ini tentu akan mengurangi beban transportasi sekaligus meningkatkan mobilitas warga dan distribusi barang,” ujar Diana.

Rencana pembangunan Tol Jambi-Rengat kini telah memasuki tahap persiapan pendanaan melalui klon IB, yang sudah diproses.

Saat ini, proyek ini sedang melalui tahap redinas kriteria, sebelum persiapan lelang dilakukan.

Pemerintah menargetkan proses lelang dimulai pada Juni 2026, dengan harapan konstruksi bisa segera berjalan tahun ini.

Dengan begitu, Jambi-Rengat dapat segera terhubung ke jaringan tol Palembang-Jambi-Riau.

Tol ini diharapkan tidak hanya mempersingkat waktu perjalanan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, efisiensi transportasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Jambi dan sekitarnya.

Di akhir kunjungan, Anggota Komisi V DPR RI, H. A Bakri HM, SE, menambahkan bahwa proyek tol ini sangat strategis dan penting bagi masyarakat.

“Kami berharap tol Jambi-Rengat dapat segera tersambung, memberikan manfaat nyata, serta mendorong pembangunan di wilayah Jambi dan sekitarnya,” tuturnya.(*)