Puasa Berselang Jadi Tren, Apa Manfaat dan Risikonya?

SEPUCUKJAMBI.ID – Intermittent fasting atau puasa berselang semakin banyak diterapkan sebagai cara mengatur pola makan yang lebih terstruktur.
Metode ini diminati bukan hanya oleh mereka yang ingin menurunkan berat badan, tetapi juga oleh orang-orang yang ingin membangun kebiasaan makan lebih sadar dan terkontrol.
Berbeda dengan pola diet yang menitikberatkan pada pembatasan jenis makanan, intermittent fasting lebih berfokus pada pengaturan waktu makan.
Prinsip dasarnya adalah membagi hari ke dalam periode makan dan periode puasa, sehingga tubuh memiliki jeda tanpa asupan kalori dalam jangka waktu tertentu.
Salah satu pola yang paling populer adalah metode 16/8, yakni berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam.
Selain itu, ada metode 5:2 yang memungkinkan seseorang makan seperti biasa selama lima hari, lalu membatasi asupan kalori pada dua hari lainnya.
Beberapa orang juga memilih puasa penuh selama 24 jam satu atau dua kali dalam seminggu.
Daya tarik utama intermittent fasting terletak pada fleksibilitasnya. Dengan membatasi jam makan, asupan kalori sering kali berkurang secara alami tanpa perlu menghitung makanan secara detail.
Karena itu, metode ini kerap dikaitkan dengan penurunan berat badan dan perbaikan metabolisme.
Sejumlah penelitian awal juga menunjukkan bahwa intermittent fasting berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin, yang berperan penting dalam pengaturan kadar gula darah.
Selain itu, pola ini disebut-sebut dapat membantu tubuh lebih efisien dalam menggunakan energi yang tersimpan.
Meski terdengar sederhana, intermittent fasting sebaiknya dijalani secara bertahap, terutama bagi pemula.
Menggeser waktu makan secara perlahan dapat membantu tubuh beradaptasi tanpa menimbulkan efek tidak nyaman seperti pusing atau lemas berlebihan.
Selama masa puasa, kebutuhan cairan tetap harus dipenuhi. Air putih, teh tanpa gula, atau kopi hitam tanpa tambahan pemanis umumnya masih diperbolehkan.
Sementara itu, saat waktu makan tiba, pemilihan makanan bergizi seimbang menjadi kunci agar tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
Perlu diingat, intermittent fasting tidak cocok untuk semua orang.
Ibu hamil dan menyusui, individu dengan riwayat gangguan makan, serta penderita kondisi medis tertentu disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menerapkan pola ini.
Hingga kini, penelitian mengenai dampak jangka panjang intermittent fasting masih terus berkembang.
Meski sejumlah temuan menunjukkan potensi manfaat bagi metabolisme dan kesehatan jantung, diperlukan bukti ilmiah yang lebih kuat untuk memastikan keamanannya dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, intermittent fasting bukan sekadar tren diet, melainkan salah satu pendekatan dalam membentuk kebiasaan makan.
Jika dilakukan secara bijak dan disesuaikan dengan kondisi tubuh, metode ini dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.(*)
