Jangan Kalap! Ini Jumlah Kalori Opor Ayam dan Tips Aman Mengonsumsinya

SEPUCUKJAMBI.ID – Opor Ayam menjadi salah satu menu wajib saat perayaan Lebaran. Rasanya yang gurih dan kaya rempah membuat hidangan ini sulit ditolak.

Namun, di balik kelezatannya, tersimpan kandungan kalori yang cukup tinggi sehingga perlu dikonsumsi dengan bijak.

Dalam satu porsi opor ayam seberat sekitar 240 gram, terkandung kurang lebih 392 kalori.

Sementara itu, dalam 100 gram saja, jumlah kalorinya mencapai sekitar 163 kalori.

Angka ini tergolong cukup besar, terutama jika dikonsumsi bersama menu pelengkap khas Lebaran.

Kombinasi makanan seperti Ketupat dapat meningkatkan total kalori menjadi sekitar 552 kalori dalam satu kali makan.

Bahkan, jika ditambah Kerupuk, jumlahnya bisa melonjak hingga 617 kalori.

Tingginya kalori dalam opor ayam berasal dari bahan utama seperti santan, minyak, dan daging ayam.

Santan sendiri mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi, sehingga perlu dibatasi, terutama bagi yang menjaga berat badan atau kesehatan jantung.

Jika dibandingkan dengan kebutuhan energi harian, satu porsi opor ayam dapat memenuhi sekitar 20 hingga 27 persen kebutuhan kalori tubuh.

Artinya, konsumsi berlebihan berpotensi menyebabkan asupan kalori berlebih yang dapat memicu kenaikan berat badan.

Meski demikian, bukan berarti opor ayam harus dihindari sepenuhnya. Hidangan ini tetap bisa dinikmati, termasuk bagi yang sedang menjalani program diet, asalkan porsinya terkontrol.

Disarankan untuk menjadikan opor ayam sebagai menu utama, bukan camilan, serta menghindari kombinasi dengan terlalu banyak makanan tinggi kalori dalam satu waktu.

Selain itu, Anda juga bisa melakukan penyesuaian agar lebih sehat, seperti mengurangi penggunaan santan atau memilih alternatif bahan yang lebih rendah lemak.

Mengimbangi konsumsi opor ayam dengan sayur dan buah juga penting untuk menjaga keseimbangan nutrisi.

Dengan begitu, Anda tetap bisa menikmati hidangan khas Lebaran tanpa mengorbankan kesehatan.

Kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara kenikmatan makanan dan kebutuhan tubuh agar tetap sehat selama momen spesial.(*)




Puasa Berselang Jadi Tren, Apa Manfaat dan Risikonya?

SEPUCUKJAMBI.ID Intermittent fasting atau puasa berselang semakin banyak diterapkan sebagai cara mengatur pola makan yang lebih terstruktur.

Metode ini diminati bukan hanya oleh mereka yang ingin menurunkan berat badan, tetapi juga oleh orang-orang yang ingin membangun kebiasaan makan lebih sadar dan terkontrol.

Berbeda dengan pola diet yang menitikberatkan pada pembatasan jenis makanan, intermittent fasting lebih berfokus pada pengaturan waktu makan.

Prinsip dasarnya adalah membagi hari ke dalam periode makan dan periode puasa, sehingga tubuh memiliki jeda tanpa asupan kalori dalam jangka waktu tertentu.

Salah satu pola yang paling populer adalah metode 16/8, yakni berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam.

Selain itu, ada metode 5:2 yang memungkinkan seseorang makan seperti biasa selama lima hari, lalu membatasi asupan kalori pada dua hari lainnya.

Beberapa orang juga memilih puasa penuh selama 24 jam satu atau dua kali dalam seminggu.

Daya tarik utama intermittent fasting terletak pada fleksibilitasnya. Dengan membatasi jam makan, asupan kalori sering kali berkurang secara alami tanpa perlu menghitung makanan secara detail.

Karena itu, metode ini kerap dikaitkan dengan penurunan berat badan dan perbaikan metabolisme.

Sejumlah penelitian awal juga menunjukkan bahwa intermittent fasting berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin, yang berperan penting dalam pengaturan kadar gula darah.

Selain itu, pola ini disebut-sebut dapat membantu tubuh lebih efisien dalam menggunakan energi yang tersimpan.

Meski terdengar sederhana, intermittent fasting sebaiknya dijalani secara bertahap, terutama bagi pemula.

Menggeser waktu makan secara perlahan dapat membantu tubuh beradaptasi tanpa menimbulkan efek tidak nyaman seperti pusing atau lemas berlebihan.

Selama masa puasa, kebutuhan cairan tetap harus dipenuhi. Air putih, teh tanpa gula, atau kopi hitam tanpa tambahan pemanis umumnya masih diperbolehkan.

Sementara itu, saat waktu makan tiba, pemilihan makanan bergizi seimbang menjadi kunci agar tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

Perlu diingat, intermittent fasting tidak cocok untuk semua orang.

Ibu hamil dan menyusui, individu dengan riwayat gangguan makan, serta penderita kondisi medis tertentu disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menerapkan pola ini.

Hingga kini, penelitian mengenai dampak jangka panjang intermittent fasting masih terus berkembang.

Meski sejumlah temuan menunjukkan potensi manfaat bagi metabolisme dan kesehatan jantung, diperlukan bukti ilmiah yang lebih kuat untuk memastikan keamanannya dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, intermittent fasting bukan sekadar tren diet, melainkan salah satu pendekatan dalam membentuk kebiasaan makan.

Jika dilakukan secara bijak dan disesuaikan dengan kondisi tubuh, metode ini dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.(*)




Fakta Tersembunyi di Balik Gelas Es Teh Manis

SEPUCUKJAMBI.ID – Es teh manis hampir selalu hadir di meja makan orang Indonesia, mulai dari warung kaki lima, rumah makan, hingga restoran mewah.

Rasanya segar, murah, dan cocok diminum kapan saja.

Namun, di balik kenikmatannya, minuman populer ini menyimpan fakta penting: kalori dari gula tambahan bisa cukup tinggi.

Teh itu sendiri hampir tidak mengandung kalori. Masalah muncul ketika gula ditambahkan.

Satu gelas es teh manis ukuran sedang bisa memiliki kalori setara camilan kecil, terutama jika gulanya banyak.

Kalori dari minuman manis cenderung “tidak terasa”, sehingga kita bisa mengonsumsinya tanpa sadar.

Kebiasaan ini bisa memicu kenaikan berat badan, lonjakan gula darah, dan risiko gangguan metabolik jangka panjang.

Apakah ini berarti es teh manis harus dihindari sepenuhnya? Tidak. Kuncinya ada pada cara menikmati.

Beberapa tips yang bisa dicoba:

  • Kurangi takaran gula secara bertahap. Jika biasanya memakai dua sendok gula, coba satu setengah atau satu sendok. Lidah akan menyesuaikan rasa.

  • Gunakan pemanis rendah kalori seperti stevia atau monk fruit. Rasanya sedikit berbeda, tapi membantu menekan kalori.

  • Pilih teh dingin tanpa gula dengan perasan lemon, jeruk nipis, atau potongan buah segar. Tetap segar dan lebih ramah tubuh.

  • Perhatikan porsi. Nikmati es teh manis dalam jumlah kecil atau sesekali sebagai kompromi antara kesehatan dan kenikmatan.

Intinya, menikmati minuman manis bukan masalah selama diimbangi dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan cukup minum air putih.

Dengan strategi tepat, segelas es teh manis tetap bisa menjadi teman yang menyegarkan tanpa membebani tubuh.(*)