Mata Kunang-Kunang Disertai Pusing? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

SEPUCUKJAMBI.ID – Mata yang terasa seperti melihat kunang-kunang disertai pusing bisa muncul secara tiba-tiba.

Kondisi ini sering terjadi akibat tubuh kekurangan cairan, gula darah rendah, atau tekanan darah turun secara mendadak, misalnya saat bangun dari duduk atau tidur.

Meskipun biasanya tidak berbahaya, gejala ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari jika dibiarkan.

Langkah awal penanganan yang efektif adalah segera duduk atau berbaring untuk mengembalikan keseimbangan aliran darah ke otak.

Teknik pernapasan yang tenang juga membantu sistem saraf rileks dan mempercepat pemulihan.

Dehidrasi sering menjadi penyebab utama. Minum air putih secara perlahan atau menambahkan elektrolit setelah olahraga berat atau berkeringat banyak dapat membantu meringankan gejala.

Jika penyebabnya kadar gula darah rendah, konsumsi makanan ringan seperti buah, biskuit tawar, atau roti dapat menstabilkan energi tubuh.

Selain itu, hindari berdiri terlalu cepat setelah tidur atau duduk lama.

Bangkit secara perlahan memberi waktu bagi tubuh menyesuaikan tekanan darah dan mengurangi risiko munculnya mata kunang-kunang dan pusing.

Pencegahan jangka panjang meliputi menerapkan gaya hidup sehat: makan teratur dengan menu bergizi, minum cukup air (minimal delapan gelas sehari), tidur cukup (7–8 jam), serta rutin berolahraga ringan seperti berjalan kaki 30 menit per hari.

Meski keluhan biasanya membaik dengan istirahat, makanan, atau cairan yang cukup, segera konsultasikan ke dokter jika gejala sering muncul, berlangsung lama, atau disertai sesak napas, muntah, atau detak jantung tidak teratur.(*)




Kurang Tidur Bukan Hal Sepele, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Fisik dan Mental

SEPUCUKJAMBI.ID – Kurang tidur masih sering dianggap hal biasa oleh banyak orang.

Selama tubuh terasa masih kuat beraktivitas dengan bantuan kopi atau minuman berkafein, masalah tidur kerap diabaikan.

Padahal, berbagai lembaga kesehatan dunia telah lama menegaskan bahwa kurang tidur dapat berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut tidur berkualitas sebagai kebutuhan dasar manusia, setara dengan asupan nutrisi dan aktivitas fisik.

Orang dewasa dianjurkan tidur selama 7 hingga 9 jam setiap malam. Jika kekurangan tidur terjadi secara terus-menerus, tubuh akan mulai merasakan konsekuensi yang nyata.

Berdasarkan penjelasan dari Harvard Medical School, kurang tidur dapat menurunkan kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan kualitas pengambilan keputusan.

Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit fokus, dan cenderung lebih emosional.

Dalam jangka panjang, kebiasaan kurang tidur juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko stres kronis serta gangguan kecemasan.

Dari sisi kesehatan fisik, dampaknya tak kalah serius

Sejumlah penelitian medis menunjukkan bahwa kurang tidur berhubungan dengan gangguan metabolisme, penurunan daya tahan tubuh, hingga meningkatnya risiko penyakit jantung

Tubuh yang tidak mendapat waktu istirahat cukup akan kesulitan melakukan proses pemulihan secara optimal.

Tak hanya durasi, kualitas tidur juga memegang peran penting

American Psychological Association (APA) menekankan bahwa tidur yang sering terganggum seperti mudah terbangun atau tidur tidak nyenyak tetap menyebabkan tubuh kelelahan meskipun jam tidur terlihat mencukupi.

Paparan cahaya layar ponsel sebelum tidur menjadi salah satu faktor utama yang menurunkan kualitas tidur.

Kabar baiknya, pola tidur dapat diperbaiki melalui langkah-langkah sederhana.

Menjaga jadwal tidur yang konsisten, mengurangi konsumsi kafein di malam hari, serta membatasi penggunaan gawai sebelum tidur terbukti membantu meningkatkan kualitas istirahat.

Lingkungan tidur yang tenang, gelap, dan nyaman juga berperan besar.

Meski terlihat sederhana, perubahan kebiasaan ini memberikan dampak nyata.

Banyak orang melaporkan suasana hati yang lebih stabil, fokus yang meningkat, serta energi yang lebih terjaga setelah menerapkan pola tidur sehat.

Pada akhirnya, tidur bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan biologis.

Mengorbankan waktu tidur demi produktivitas justru berisiko merugikan kesehatan.

Tidur cukup bukan tanda malas, melainkan langkah dasar untuk menjaga tubuh dan pikiran tetap sehat.(*)