Festival Batanghari 2026 Bidik Wisatawan, 12 Agenda Disiapkan Selama 9 Hari

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kota Jambi kembali bersiap menjadi panggung perayaan budaya dan pariwisata melalui Festival Batanghari 2026.

Event yang masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 tersebut akan berlangsung selama sembilan hari, mulai 14 hingga 22 Agustus 2026.

Pusat kegiatan dipusatkan di Taman Mini Melayu, kawasan eks Arena MTQ Jambi, dengan mengusung tema “Dari Jejak Jalur Perdagangan Rempah”.

Festival ini tidak hanya menawarkan pertunjukan budaya. Sejumlah agenda olahraga, kuliner, seni, ekonomi kreatif hingga promosi produk lokal turut disiapkan untuk menarik masyarakat dan wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi Imron Rosyadi mengatakan Festival Batanghari menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif di daerah.

“Ini bukan hanya festival biasa. Ada 12 rangkaian acara yang memadukan tradisi, budaya, olahraga, hingga kuliner. Kita ingin pengunjung merasakan langsung pesona Batanghari,” ujar Imron, Sabtu 9 Agustus 2026.

12 agenda Festival Batanghari 2026

Beragam kegiatan akan mengisi Festival Batanghari 2026 selama sembilan hari.

Agenda yang disiapkan antara lain Parade Kapal Dagang Jalur Rempah, yang mengangkat kembali sejarah Batanghari sebagai bagian dari jalur perdagangan.

Selain itu, pengunjung dapat menyaksikan Pacu Perahu serta mengikuti Batanghari FUNRUN 7K.

Festival juga menghadirkan Exhibition Layang-Layang Hias, Gastronomi Masakan Tradisional, serta Penampilan Seni dan Musik Tradisi.

Agenda lainnya yakni Malam Anugerah Duta Wisata 2026, Expo & Bazaar Kuliner, Tarian Massal Dagang Rempah, serta Pertunjukan Kreatif Pelajar dan Mahasiswa.

Sementara untuk sektor ekonomi kreatif, panitia menyiapkan Kampung E-Kraf sebagai ruang promosi sekaligus etalase produk kreatif lokal.

Panitia juga menyediakan Expo & Bazaar UMKM untuk mempertemukan produk pelaku usaha lokal dengan masyarakat dan pengunjung festival.

Bawa jejak perdagangan rempah ke panggung festival

Tema jalur perdagangan rempah menjadi salah satu daya tarik utama Festival Batanghari tahun ini.

Konsep tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai tema acara, tetapi dikemas melalui sejumlah pertunjukan dan atraksi yang menghubungkan sejarah, budaya Melayu dan kehidupan masyarakat di sepanjang Batanghari.

Pemerintah Provinsi Jambi berharap festival dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas budaya daerah kepada wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.

Dengan masuknya Festival Batanghari dalam kalender KEN 2026, penyelenggaraan tahun ini juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat.

Tim Kementerian Pariwisata akan melakukan penilaian

Gubernur Jambi bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dijadwalkan membuka Festival Batanghari 2026 pada 14 Agustus 2026.

Perwakilan Kementerian Pariwisata juga dijadwalkan hadir dalam pembukaan.

Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata Raden Wisnu Sindhutrisno disebut akan mewakili Menteri Pariwisata Republik Indonesia bersama tim penilai untuk melihat langsung penyelenggaraan Festival Batanghari sebagai bagian dari KEN 2026.

Kehadiran tim tersebut menjadi momentum penting bagi penyelenggara untuk menunjukkan kualitas festival di tingkat nasional.

Gubernur Jambi mengatakan keterlibatan pemerintah pusat sekaligus menjadi dorongan bagi daerah untuk menghadirkan penyelenggaraan yang semakin baik.

“Kehadiran perwakilan Kementerian Pariwisata RI menjadi bukti bahwa Festival Batanghari sudah diakui di tingkat nasional. Ini motivasi kita untuk memberikan penyelenggaraan terbaik,” ujarnya.

Dorong UMKM dan ekonomi kreatif Jambi

Festival Batanghari 2026 juga diarahkan tidak berhenti sebagai tontonan.

Kehadiran Expo & Bazaar UMKM dan Kampung E-Kraf membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk kepada pengunjung.

Konsep tersebut diharapkan membuat perputaran ekonomi selama festival ikut dirasakan pelaku UMKM, kuliner, ekonomi kreatif hingga sektor pendukung pariwisata.

Bagi masyarakat, festival ini sekaligus menjadi pilihan agenda liburan selama sembilan hari penyelenggaraan.

Masyarakat Jambi dan wisatawan diimbau datang bersama keluarga untuk menikmati berbagai atraksi yang telah disiapkan.

Informasi mengenai rangkaian Festival Batanghari 2026 dapat dipantau melalui akun Instagram @festivalbatanghari dan @jambitourism.

Festival Batanghari 2026 berlangsung 14–22 Agustus 2026 di Taman Mini Melayu, eks Arena MTQ Jambi.(*)




Al Haris Buka Pekan Kebudayaan Jambi Elok Nian 2026, Dorong UMKM dan Hibahkan Anjungan ke Daerah

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Gubernur Jambi Al Haris resmi membuka Pekan Kebudayaan Jambi Elok Nian Kota Jambi 2026 di Anjungan Kota Jambi, Taman Mini Melayu Jambi, Kamis 23 Juli 2026 malam.

Namun, di balik kemeriahan festival budaya itu, Al Haris menyampaikan pesan yang lebih besar: budaya harus mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, bukan sekadar menjadi tontonan tahunan.

Dalam sambutannya, Al Haris menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurutnya, setiap agenda kebudayaan harus mampu menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

“Kalau kita bersyukur, insyaallah Allah akan menambah nikmat yang lainnya. Potensi budaya yang kita miliki harus kita manfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Al Haris.

Festival bertema “Bahagia Berbudaya di Serambi Tanah Pilih Pusako Betuah” itu menghadirkan berbagai pertunjukan seni, kuliner tradisional, produk batik, hingga kerajinan khas dari kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.

Budaya Bukan Sekadar Panggung Hiburan

Al Haris menilai kualitas produk lokal Jambi kini semakin kompetitif. Salah satu contohnya adalah batik Jambi yang mulai dikenal di berbagai daerah, termasuk Jakarta.

Karena itu, ia meminta seluruh pelaku UMKM memanfaatkan festival budaya sebagai ruang promosi sekaligus memperluas pasar.

Menurutnya, setiap kegiatan berskala besar akan menciptakan multiplier effect terhadap sektor perdagangan, pariwisata, kuliner, hingga ekonomi kreatif.

“Kalau event besar digelar, hotel ramai, kuliner hidup, UMKM bergerak. Ini yang harus terus kita dorong,” katanya.

Al Haris Siapkan Hibah Anjungan Daerah

Salah satu poin penting yang disampaikan Al Haris adalah rencana menghibahkan seluruh anjungan kabupaten dan kota di kawasan Taman Mini Melayu Jambi kepada masing-masing pemerintah daerah.

Langkah itu, menurutnya, agar setiap daerah memiliki keleluasaan mengelola, merawat, dan mengembangkan anjungan menjadi pusat promosi budaya dan ekonomi.

Namun, hibah tersebut baru bisa dilakukan apabila masing-masing kepala daerah mengajukan permohonan resmi.

“Saya minta para bupati dan wali kota segera membuat surat permohonan. Itu menjadi dasar bagi pemerintah provinsi untuk menghibahkan anjungan agar bisa dirawat dan dikembangkan oleh daerah masing-masing,” tegasnya.

Kota Jambi Harus Jadi Etalase Provinsi

Dalam sesi wawancara, Al Haris menyebut Kota Jambi memiliki posisi strategis sebagai wajah Provinsi Jambi.

Karena itu, ibu kota provinsi dinilai harus mampu menghadirkan pelayanan terbaik, event berkualitas, serta destinasi yang mampu menarik wisatawan dari luar daerah.

Menurutnya, Kota Jambi tidak memiliki ketergantungan terhadap sektor tambang maupun batu bara sehingga sektor jasa, kuliner, budaya, dan pariwisata harus menjadi kekuatan utama.

“Kita punya kuliner yang enak, budaya yang kuat, pelayanan yang baik. Itu yang harus dijual agar orang datang ke Jambi,” ujarnya.

Selain budaya, Al Haris juga menyinggung sejumlah proyek strategis yang tengah dipersiapkan pemerintah, mulai dari pembangunan museum, pelestarian cagar budaya, pemugaran candi, hingga rencana pembangunan jalan tol yang diharapkan meningkatkan konektivitas dan jumlah kunjungan ke Jambi.

Maulana: Jambi Harus Punya Identitas Berbeda

Sementara itu, Wali Kota Jambi Maulana mengatakan festival tersebut menjadi bagian dari program prioritas Jambi Bahagia, khususnya melalui konsep Bahagia Berbudaya.

Menurutnya, Kota Jambi harus memiliki identitas yang berbeda dibandingkan kota besar lain di Sumatera.

Dengan semakin terbukanya akses melalui Jalan Tol Trans Sumatera, Kota Jambi harus memperkuat daya tarik melalui budaya Melayu, kuliner, dan pelayanan publik.

Maulana berharap seluruh anjungan daerah nantinya dapat dikelola langsung oleh pemerintah kabupaten dan kota sehingga menjadi pusat promosi budaya, kuliner, batik, serta produk UMKM.

Ia optimistis kawasan Taman Mini Melayu Jambi dapat berkembang menjadi destinasi wisata sekaligus pusat oleh-oleh yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.(*)