Banjir Didominasi Dua Faktor, BPBD Kota Jambi Segera Susun Kajian Risiko

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.IDBadan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Jambi tengah mempersiapkan langkah strategis dengan menyusun kajian risiko bencana sebagai dasar penanganan banjir dan bencana lainnya di Kota Jambi dalam waktu dekat.

Langkah ini dinilai penting mengingat tingginya potensi bencana, khususnya banjir, yang masih menjadi ancaman utama di sejumlah wilayah kota.

Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Suamtriadi, mengatakan bahwa kajian tersebut akan menjadi acuan dalam merumuskan strategi mitigasi yang lebih terukur dan terintegrasi.

“Dalam waktu dekat kami akan melakukan kajian risiko bencana, sebagai dasar penyusunan penanganan banjir maupun bencana lainnya di Kota Jambi,” ujarnya.

Doni menjelaskan, banjir di Kota Jambi umumnya dipicu oleh dua faktor utama.

Pertama, curah hujan lokal dengan intensitas tinggi yang menyebabkan genangan dalam waktu singkat.

Kedua, limpahan air kiriman dari wilayah hulu melalui aliran Sungai Batanghari.

“Selain hujan lokal, kita juga menghadapi kiriman air dari kabupaten/kota di hulu. Ini yang sering menyebabkan debit air meningkat di wilayah Kota Jambi,” jelasnya.

Dalam penyusunan kajian risiko tersebut, BPBD Kota Jambi akan melibatkan para lurah se-Kota Jambi serta berbagai pemangku kepentingan terkait.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan pemetaan risiko yang lebih akurat hingga tingkat wilayah terkecil.

Pendekatan berbasis data dan partisipasi ini dinilai penting agar penanganan bencana tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif.

Berdasarkan data tahun sebelumnya, tercatat sekitar 24 RT di 22 kelurahan terdampak banjir.

Bahkan, sekitar 55,85 persen wilayah Kota Jambi masuk dalam kategori rawan terdampak banjir.

Selain itu, data dari Badan Pusat Statistik kata dia, menunjukkan bahwa terdapat potensi hingga 38 kelurahan yang berisiko terdampak banjir di Kota Jambi.

Data tersebut menjadi dasar penting bagi BPBD dalam menyusun strategi mitigasi yang lebih komprehensif.

Dengan adanya kajian risiko ini, BPBD Kota Jambi berharap upaya penanganan bencana ke depan dapat dilakukan secara lebih sistematis dan tepat sasaran.

Selain itu, masyarakat juga diharapkan dapat lebih siap menghadapi potensi bencana, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap banjir.(*)




Status Masih Aman, BPBD Tetap Ingatkan Risiko Banjir di Kota Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.IDBadan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Jambi mengeluarkan imbauan kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS), agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan debit air Sungai Batanghari.

Imbauan ini disampaikan menyusul terjadinya banjir di sejumlah wilayah bagian barat Provinsi Jambi dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada peningkatan volume air yang mengalir ke wilayah hilir, termasuk Kota Jambi.

Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Suamtriadi, mengatakan bahwa pihaknya saat ini terus melakukan pemantauan intensif terhadap ketinggian muka air sungai, terutama di titik pengukuran Tanggo Rajo.

“Monitoring terus kami lakukan secara berkala sebagai langkah antisipasi dini apabila terjadi kenaikan debit air yang signifikan,” ujarnya.

Status Masih Siaga IV

Berdasarkan data terbaru, ketinggian muka air Sungai Batanghari tercatat berada di angka 12,80 meter. Kondisi ini masih masuk dalam kategori Siaga IV atau relatif aman.

Meski demikian, masyarakat diminta untuk tidak lengah mengingat potensi kenaikan debit air masih bisa terjadi, terutama jika curah hujan di wilayah hulu terus meningkat.

Warga Diminta Aktif Pantau Kondisi

BPBD juga mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan DAS Batanghari, agar aktif memantau perkembangan kondisi sungai di lingkungan masing-masing.

Warga diminta segera melaporkan kepada pihak berwenang jika terjadi kenaikan air secara cepat atau tanda-tanda potensi banjir lainnya.

Antisipasi dan Koordinasi Diperkuat

Selain pemantauan, BPBD Kota Jambi juga telah menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi peningkatan status siaga.

Koordinasi dengan berbagai instansi terkait terus dilakukan untuk memastikan respons cepat dalam menghadapi potensi bencana.

Dengan adanya peringatan dini ini, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk, sekaligus dapat meminimalkan risiko jika debit air Sungai Batanghari mengalami kenaikan dalam waktu dekat.(*)




Saat Logistik Menjadi Nadi Ekonomi: Peran PTP Nonpetikemas di Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Di tengah ambisi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, satu hal yang kerap luput dari perhatian adalah logistik.

Padahal, sekuat apa pun produksi suatu daerah baik itu karet, pinang, maupun komoditas perkebunan lainnya tanpa sistem logistik yang efisien, semuanya akan terhambat di titik distribusi.

Di Provinsi Jambi, denyut logistik itu salah satunya bertumpu pada Pelabuhan Talang Duku.

Sebagai pelabuhan sungai, Talang Duku memiliki keunggulan tersendiri: relatif stabil dari pengaruh pasang surut air laut.

Namun keunggulan geografis ini tidak otomatis menjamin efisiensi jika tidak diimbangi dengan sistem yang modern dan terintegrasi.

Di sinilah peran PTP Nonpetikemas menjadi penting. Upaya yang dilakukan melalui digitalisasi layanan, peningkatan fasilitas, serta penguatan kolaborasi lintas sektor menunjukkan arah transformasi yang tepat.

Namun, pertanyaannya: apakah itu sudah cukup?

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa efisiensi logistik masih menghadapi tantangan klasik.

Proses bongkar muat, misalnya, bisa memakan waktu hingga enam sampai tujuh hari untuk satu muatan tongkang.

Bahkan, keterbatasan operasional gudang penerima yang tidak berjalan 24 jam turut memperlambat distribusi barang.

Ini bukan semata persoalan pelabuhan, tetapi persoalan ekosistem logistik secara keseluruhan.

Branch Manager PTP Nonpetikemas Pelabuhan Talang Duku, Romi Hasbeni, menyebut bahwa pihaknya terus melakukan inovasi, termasuk melalui penerapan sistem digital seperti Truck Identification Data (STID) dan sistem operasional berbasis daring.

“Kami berkomitmen mempercepat distribusi barang melalui digitalisasi dan peningkatan layanan agar daya saing industri di Jambi semakin meningkat,” ujarnya.

Langkah ini patut diapresiasi. Digitalisasi memang menjadi kunci dalam menekan biaya logistik yang selama ini dikenal tinggi di Indonesia.

Dengan sistem yang mampu memantau arus kendaraan secara real-time serta menyediakan data operasional secara terbuka, transparansi dan efisiensi dapat ditingkatkan.

Namun, digitalisasi saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan pola kerja seluruh rantai distribusi.

Efisiensi pelabuhan akan sia-sia jika tidak diikuti kesiapan sektor lain, seperti pergudangan, transportasi darat, hingga regulasi yang mendukung kelancaran arus barang.

Lebih jauh, logistik bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga soal daya saing. Ketika biaya distribusi tinggi, maka harga komoditas ikut terdorong naik.

Dampaknya, produk daerah menjadi kurang kompetitif di pasar nasional maupun global.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Data arus barang yang mencapai sekitar 81 ribu ton sejak awal 2026 menunjukkan bahwa aktivitas logistik di Jambi terus bergerak.

Namun angka tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai capaian, melainkan sebagai sinyal bahwa kebutuhan akan sistem logistik yang lebih efisien semakin mendesak.

Di sisi lain, kontribusi sosial melalui program TJSL juga menjadi elemen penting. Kehadiran pelabuhan tidak boleh hanya dirasakan sebagai pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Di sinilah keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sosial diuji.

Ke depan, penguatan logistik di Jambi membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.

Pemerintah daerah, operator pelabuhan, pelaku usaha, hingga masyarakat harus berada dalam satu visi yang sama. Kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Transformasi yang dilakukan saat ini adalah langkah awal. Namun untuk benar-benar menjadikan logistik sebagai penggerak utama ekonomi daerah, diperlukan keberanian untuk melakukan reformasi yang lebih luas mulai dari infrastruktur, sistem kerja, hingga kebijakan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dari tepian Sungai Batanghari, kita belajar satu hal: bahwa ekonomi tidak hanya tumbuh dari apa yang diproduksi, tetapi juga dari seberapa cepat dan efisien produk itu sampai ke pasar.(*)




El Nino 2026, Petani Terancam Gagal Panen? Ini Langkah Antisipasi BWSS VI

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Menghadapi potensi kemarau panjang pada 2026 akibat fenomena El Nino, Balai Wilayah Sungai Sumatera VI mulai memperkuat langkah antisipasi, terutama terkait potensi penurunan debit air di sejumlah wilayah irigasi.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi berdampak langsung terhadap sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Kasi Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air BWSS Sumatera VI, Yudhi Praktikno, menyampaikan bahwa penurunan debit air menjadi tantangan utama yang harus segera diantisipasi dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.

“Dalam kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, terutama El Nino, kita harus benar-benar siap bagaimana cara mengantisipasinya,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah penting adalah penyesuaian pola tata tanam serta pengelolaan irigasi agar distribusi air tetap berjalan optimal meski dalam kondisi minim curah hujan.

Sebagai langkah awal, BWSS Sumatera VI melakukan penelusuran lapangan atau walkthrough pada jaringan irigasi untuk mengidentifikasi kondisi aktual di lapangan.

Selain itu, penguatan data hidrologi juga menjadi fokus utama, terutama dalam memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

“Kita akan melihat sejauh mana data hidrologi yang kita butuhkan, terutama daerah kekeringan yang menjadi prioritas,” jelasnya.

Yudhi juga mengingatkan bahwa dampak kekeringan dapat berpengaruh signifikan terhadap hasil pertanian.

Produksi yang biasanya optimal bisa menurun drastis hingga 50 persen bahkan 30 persen akibat keterbatasan air.

Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi ancaman tersebut, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kabupaten.

Sementara itu, kondisi debit air di Sungai Batanghari saat ini masih terpantau normal.

Berdasarkan data teknis, debit normal berada di angka sekitar 2.503 meter kubik per detik.

Dalam kondisi kering dapat turun hingga 1.000 meter kubik per detik, sedangkan saat banjir bisa meningkat di atas 3.000 meter kubik per detik.

Meski demikian, BWSS Sumatera VI tetap menekankan pentingnya pengelolaan air secara maksimal agar kebutuhan irigasi tetap terpenuhi.

“Kondisi apa pun, air harus dikelola sebaik mungkin melalui pengaturan dan pengendalian agar tetap sesuai kebutuhan,” tutupnya.(*)




Ombudsman Soroti Transportasi Sungai Tanggo Rajo Saat Mudik 2026, Tak Ada Posko Pengawasan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Jambi melakukan pemantauan pelayanan mudik Lebaran 2026 di sejumlah titik transportasi.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah penyeberangan angkutan sungai di kawasan Tanggo Rajo, Angso Duo, Kota Jambi.

Dalam pemantauan tersebut, Ombudsman menyoroti belum adanya posko pengawasan maupun petugas khusus dari instansi terkait di lokasi transportasi sungai yang berada di sekitar kawasan rumah dinas Gubernur Jambi itu.

Asisten Pencegahan Ombudsman RI Perwakilan Jambi, Korinna Al Emira, mengatakan keberadaan posko sangat penting, terutama pada masa arus mudik ketika jumlah penumpang meningkat.

Menurutnya, pengawasan diperlukan untuk memastikan keselamatan masyarakat yang menggunakan transportasi sungai sebagai sarana perjalanan mudik.

Korinna menjelaskan, jalur Sungai Batanghari merupakan salah satu moda transportasi tertua di Jambi yang hingga kini masih digunakan masyarakat, terutama untuk menghubungkan wilayah pesisir dan daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Dari hasil pemantauan di lapangan, terlihat ratusan pemudik memadati kawasan penyeberangan Tanggo Rajo untuk menaiki kapal cepat atau speedboat.

Para penumpang tersebut berasal dari Kota Jambi dengan berbagai tujuan di wilayah pesisir, seperti Sadu, Nipah Panjang, Simpang Desa, Rantau Rasau hingga Sungai Lokan.

Pada hari biasa, penyeberangan hanya melayani satu kali keberangkatan kapal. Namun saat musim mudik Lebaran, jumlah perjalanan meningkat menjadi dua kali keberangkatan untuk mengakomodasi lonjakan penumpang.

Ombudsman menilai pemerintah melalui instansi terkait perlu memberikan perhatian lebih terhadap transportasi sungai, baik dari sisi keselamatan penumpang maupun kualitas pelayanan kepada masyarakat yang melakukan perjalanan antar kabupaten dan kota.

Sebagai tindak lanjut, Ombudsman menyatakan akan berkoordinasi dengan instansi berwenang, termasuk Dinas Perhubungan Provinsi Jambi, untuk meningkatkan pengawasan terhadap transportasi sungai selama periode mudik.

Selain memantau jalur sungai, Ombudsman juga melakukan pengecekan layanan mudik di Bandara Sultan Thaha Jambi.

Koordinator Komersial Angkasa Pura Jambi, Endah, mengatakan pihak bandara telah menyiapkan berbagai langkah untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama musim mudik.

Ia memastikan fasilitas bandara serta petugas operasional telah siap melayani masyarakat yang menggunakan transportasi udara.

Menurutnya, koordinasi juga dilakukan dengan sejumlah instansi terkait seperti Karantina dan Kantor Kesehatan Pelabuhan guna memastikan pelayanan berjalan lancar.

Saat ini jumlah penumpang di Bandara Sultan Thaha diperkirakan sudah mencapai sekitar dua ribu orang per hari.

Sementara pada puncak arus mudik Lebaran, jumlah penumpang diprediksi dapat mencapai lima ribu orang.

Bandara juga telah menyiapkan berbagai fasilitas bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, ibu menyusui, serta lansia. Selain itu tersedia pula saluran informasi dan pengaduan bagi para penumpang.(*)




Patroli Polri di Sungai Batanghari, ABK dan Nakhoda Diberi Imbauan Keselamatan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Wakil Direktur Polisi Perairan dan Udara (Wadirpolairud) Polda Jambi, AKBP Abilio Dos Santos, memimpin patroli perairan di Sungai Batanghari, Kamis (15/01/2026).

egiatan ini dilakukan menggunakan Kapal Patroli KP. XXVI-1017 sebagai langkah preventif untuk memastikan keamanan dan ketertiban di wilayah perairan.

Selama patroli, tim Polairud memeriksa kapal-kapal yang melintas di alur Sungai Batanghari.

Pemeriksaan difokuskan untuk memastikan aktivitas pelayaran berjalan aman, bebas dari gangguan kamtibmas, serta meminimalisir risiko pelanggaran yang dapat membahayakan keselamatan.

AKBP Abilio Dos Santos menyampaikan imbauan langsung kepada nakhoda dan anak buah kapal (ABK) untuk selalu mengutamakan keselamatan, mematuhi aturan pelayaran, dan meningkatkan kewaspadaan selama berada di perairan.

“Patroli ini kami lakukan agar seluruh pengguna transportasi air merasa aman dan nyaman. Kehadiran Polri di perairan Sungai Batanghari diharapkan dapat menjaga stabilitas keamanan sekaligus mencegah potensi gangguan,” ujar AKBP Abilio Dos Santos.

Dengan kegiatan ini, Ditpolairud Polda Jambi menegaskan komitmennya untuk mengawal keamanan transportasi air, memperkuat pengawasan, dan menjaga kondusivitas Sungai Batanghari bagi masyarakat.(*)




TMA Pos Tanggo Rajo Fluktuatif, BPBD Kota Jambi Minta Warga DAS Lebih Waspada

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kondisi Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Batanghari di wilayah Kota Jambi terpantau masih relatif aman.

Namun menunjukkan pola fluktuatif seiring meningkatnya intensitas hujan di Provinsi Jambi dalam beberapa hari terakhir.

Hal tersebut berdasarkan hasil pemantauan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI pada Sabtu, 3 Januari 2026.

Dari total 43 titik Pos Duga Air yang tersebar di Wilayah Sungai Batanghari, tidak ditemukan adanya kenaikan TMA secara kumulatif yang signifikan atau melebihi 1 meter.

Meski demikian, dinamika naik-turun muka air tetap menjadi perhatian, terutama bagi wilayah yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).

Data Terkini Tinggi Muka Air Batanghari

Hasil pengamatan BWS Sumatera VI mencatat:

  • 14 titik pantau mengalami kenaikan TMA

  • 2 titik dalam kondisi stabil

  • 26 titik mengalami penurunan muka air

  • Sejumlah lokasi seperti Rimbo Bujang, Kotoboyo, Teluk Kuali, dan Simpang Desa tercatat mencapai batas Muka Air Banjir

  • Pos Pantau Tanggo Rajo, Kota Jambi, mencatat TMA di level 13,37 meter, masih berada 0,5 meter di bawah batas Siaga III (13,87 meter)

Selain itu, terdapat satu lokasi dengan data belum lengkap dan tidak ada titik pantau yang sama sekali tidak melaporkan data.

Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, mengimbau masyarakat untuk tidak lengah, khususnya warga yang bermukim di kawasan DAS Sungai Batanghari.

“Walaupun tinggi muka air Sungai Batanghari saat ini masih di bawah status siaga, kami mengingatkan masyarakat agar tetap waspada,” kata dia.

“Curah hujan di Provinsi Jambi belakangan ini cukup tinggi dan berpotensi memicu kenaikan air secara cepat,” ujar Doni Sumatriadi.

Ia juga meminta masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca serta informasi resmi dari pemerintah daerah dan instansi terkait.

“Warga di bantaran sungai agar menyiapkan langkah antisipasi sejak dini, terutama jika hujan dengan durasi panjang terjadi. Jangan menunggu air naik baru bersiap,” tambahnya.

BPBD Kota Jambi bersama instansi terkait akan terus melakukan pemantauan intensif serta koordinasi guna memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir.(*)




Warning! Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kota Jambi Diperpanjang, Berikut Informasinya

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Kota Jambi resmi memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi selama 31 hari, terhitung mulai 1 Januari hingga 31 Januari 2026, menyusul kondisi cuaca ekstrem dan peningkatan tinggi muka air Sungai Batanghari.

Keputusan ini dituangkan melalui Keputusan Wali Kota Jambi Nomor 1217 Tahun 2025.

Plt Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, menyampaikan bahwa perpanjangan status siaga darurat dilakukan berdasarkan kajian situasi lapangan, laporan BMKG Jambi, serta rekomendasi rapat konsolidasi kesiapsiagaan bencana nasional.

“Meskipun beberapa titik pantau masih berada di bawah batas Siaga III, kenaikan muka air Sungai Batanghari dan potensi hujan lebat tetap menjadi perhatian utama,” sebutnya.

“Kami terus melakukan pemantauan intensif dan koordinasi dengan semua instansi terkait,” ujar Doni Sumatriadi.

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Jambi, Maulana, melalui Plt Kepala BPBD Doni Sumatriadi, menegaskan bahwa, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi banjir dan angin kencang, terutama bagi warga yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah rawan banjir.

“Keputusan perpanjangan ini bertujuan untuk memastikan keselamatan warga dan kesiapsiagaan pemerintah daerah,” kata dia.

“Warga diimbau mengikuti arahan BPBD dan selalu memperbarui informasi terkait perkembangan kondisi cuaca dan tinggi muka air,” jelasnya.

Keputusan ini juga merujuk pada beberapa peraturan perundang-undangan, termasuk UU Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007, UU Pemerintahan Daerah Nomor 23 Tahun 2014, Peraturan Daerah Kota Jambi Nomor 4 Tahun 2025, serta pedoman BNPB Tahun 2016 tentang Penetapan Status Keadaan Darurat Bencana.

Status siaga darurat hidrometeorologi dapat diperpanjang atau dipersingkat sesuai kebutuhan, tergantung perkembangan kondisi di lapangan.

Baca selengkapnya di sini surat SK Perpanjangan status siaga darurat Kota Jambi!




BPBD Kota Jambi: TMA Tanggo Rajo Jambi Masih Aman, Tapi Waspada Fluktuasi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Ketinggian muka air Sungai Batanghari di Kota Jambi terus menjadi perhatian menyusul fluktuasi debit air di sejumlah wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.

Berdasarkan hasil pengamatan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI pada Kamis, 1 Januari 2026, tercatat kondisi tinggi muka air (TMA) bervariasi di puluhan titik pantau.

Dari total 43 Pos Duga Air (PDA) yang tersebar di Wilayah Sungai Batanghari, terdapat empat lokasi yang mengalami kenaikan TMA kumulatif signifikan, dengan kenaikan lebih dari satu meter.

Sementara itu, sebagian besar titik pantau justru menunjukkan tren penurunan muka air.

Secara keseluruhan, fluktuasi TMA pada hari ini tercatat di 36 titik pantau, dengan rincian 10 lokasi mengalami kenaikan, 5 lokasi dalam kondisi stabil, dan 21 lokasi mengalami penurunan.

Namun demikian, terdapat beberapa daerah yang sudah mencapai batas Muka Air Banjir, yakni Rimbo Bujang, Kotoboyo, dan Teluk Kuali.

Khusus di Sungai Batanghari wilayah Kota Jambi, hasil pengamatan di Pos Pantau Tanggo Rajo menunjukkan tinggi muka air berada di angka 12,84 meter.

Angka tersebut masih di bawah batas elevasi Siaga III, yaitu 13,87 meter, dengan selisih sekitar 1,03 meter.

Plt Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, menyampaikan bahwa kondisi ini masih tergolong aman.

Namun masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca dan kenaikan debit air secara tiba-tiba.

“Ketinggian muka air di Tanggo Rajo saat ini masih berada di bawah status Siaga III. Meski demikian, kami dari BPBD Kota Jambi terus melakukan pemantauan intensif dan mengimbau masyarakat,” kata dia.

“Khususnya yang tinggal di bantaran Sungai Batanghari, agar tetap meningkatkan kewaspadaan,” ujar Doni Sumatriadi.

Ia menambahkan, BPBD Kota Jambi juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan kesiapsiagaan apabila terjadi peningkatan muka air dalam beberapa hari ke depan.

Terutama mengingat masih adanya empat lokasi yang belum menyampaikan data dan enam lokasi dengan data tidak lengkap.(*)




Hujan Berjam-jam, BPBD Kota Jambi Imbau Warga DAS Waspada Banjir

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, mengimbau masyarakat yang bermukim di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) agar meningkatkan kewaspadaan.

Imbauan ini disampaikan menyusul hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Kota Jambi sejak Jumat (2 Januari 2025) dini hari hingga menjelang siang.

Doni mengatakan, curah hujan yang terjadi dalam beberapa jam terakhir berpotensi memicu peningkatan debit air sungai, khususnya di wilayah DAS Batanghari dan anak-anak sungainya.

“Kami mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar DAS, untuk lebih berhati-hati dan terus memantau perkembangan kondisi sungai,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pengamatan Tinggi Muka Air (TMA) pada Kamis, 1 Januari 2026, yang dilakukan di Pos Duga Air Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI pada Wilayah Sungai Batanghari, tercatat kondisi TMA yang bervariasi di sejumlah titik pantau.

Dari total 43 titik pemantauan, terdapat empat lokasi Pos Duga Air yang mengalami kenaikan TMA kumulatif cukup signifikan dengan kenaikan lebih dari satu meter.

Sementara itu, sebagian titik lainnya justru mengalami penurunan ketinggian muka air.

Secara umum, fluktuasi TMA pada hari pengamatan menunjukkan 10 titik mengalami kenaikan, lima titik dalam kondisi stabil, dan 21 titik mengalami penurunan.

Namun demikian, terdapat beberapa lokasi yang telah mencapai batas Muka Air Banjir, di antaranya Rimbo Bujang, Kotoboyo, dan Teluk Kuali.

Untuk Sungai Batanghari di wilayah Kota Jambi, hasil pengamatan di Pos Tanggo Rajo menunjukkan TMA berada pada ketinggian 12,84 meter.

Angka tersebut masih berada di bawah batas elevasi Siaga III, yakni 13,87 meter, dengan selisih sekitar 1,03 meter.

BPBD Kota Jambi juga mencatat masih terdapat empat lokasi pos pantau yang belum menyampaikan data, serta enam lokasi dengan data yang belum lengkap.

Kondisi ini terus dipantau secara berkala guna memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir.

BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menjaga keselamatan, serta segera melaporkan kepada pihak terkait apabila terjadi kenaikan debit air yang berpotensi menimbulkan banjir di lingkungan sekitar.(*)