Kenali Bahaya Jantung Koroner dan Cara Mendeteksinya Lebih Awal

SEPUCUKJAMBI.ID – Penyakit Jantung Koroner (PJK) masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia.

Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah yang menyuplai jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan, sehingga aliran darah ke otot jantung terganggu.

Yang sering kali menjadi masalah, PJK kerap berkembang tanpa gejala jelas di tahap awal.

Banyak kasus baru terdeteksi saat kondisi sudah parah, bahkan setelah terjadi serangan jantung mendadak.

Karena itu, deteksi dini menjadi langkah krusial yang tidak boleh diabaikan.

Pentingnya Deteksi Dini

Salah satu karakteristik utama penyakit ini adalah sifatnya yang “silent” atau tersembunyi. Tanpa pemeriksaan rutin, seseorang bisa saja tidak menyadari adanya gangguan pada jantungnya.

Deteksi dini memungkinkan risiko komplikasi ditekan sejak awal. Dengan mengetahui kondisi jantung lebih cepat, penanganan bisa dilakukan sebelum terjadi kerusakan yang lebih serius.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko PJK antara lain:

  • Tekanan darah tinggi
  • Kadar kolesterol tinggi
  • Diabetes
  • Kebiasaan merokok
  • Obesitas
  • Kurangnya aktivitas fisik

Selain itu, riwayat keluarga dengan penyakit jantung juga menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.

Metode Pemeriksaan Jantung

Untuk mendeteksi kondisi jantung, terdapat berbagai metode yang bisa dilakukan, mulai dari pemeriksaan sederhana hingga lanjutan, seperti:

  • Cek tekanan darah
  • Tes kolesterol
  • Elektrokardiogram (EKG)
  • CT scan jantung

Dengan teknologi medis yang semakin canggih, dokter kini dapat melihat kondisi pembuluh darah secara detail, termasuk mendeteksi adanya plak atau penyumbatan sejak dini.

Peran Gaya Hidup Sehat

Hasil deteksi dini dapat menjadi dasar untuk melakukan perubahan gaya hidup.

Langkah sederhana seperti menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, berhenti merokok, dan mengelola stres terbukti mampu menurunkan risiko penyakit jantung.

Selain itu, dokter juga dapat memberikan terapi atau pengobatan yang sesuai untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih parah.

Jangan Tunggu Gejala Muncul

Pemeriksaan jantung tidak hanya penting bagi mereka yang sudah merasakan keluhan.

Bahkan orang yang merasa sehat sekalipun disarankan untuk melakukan skrining secara rutin, terutama jika memiliki faktor risiko.

Langkah ini penting untuk mengidentifikasi potensi gangguan yang belum menunjukkan gejala, sehingga pencegahan dapat dilakukan lebih awal.

Kesimpulan

Penyakit jantung koroner sering berkembang tanpa tanda yang jelas, sehingga deteksi dini menjadi kunci utama dalam pencegahan.

Dengan pemeriksaan rutin dan gaya hidup sehat, risiko dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.(*)




Klaim Penyakit Kronis Terus Naik, BPJS Kesehatan Tekankan Gaya Hidup Sehat

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan mencatat total pembayaran biaya pelayanan kesehatan mencapai Rp190,3 triliun.

Angka tersebut mencakup layanan kesehatan primer di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) hingga pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit.

Dari total tersebut, lebih dari Rp50,2 triliun dialokasikan untuk membiayai 59,9 juta kasus penyakit kronis. Penyakit yang mendominasi antara lain jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hati, thalassemia, dan hemofilia.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, mengungkapkan bahwa penyakit jantung menjadi penyumbang klaim terbesar dengan total 29,7 juta kasus dan biaya mencapai Rp17,3 triliun.

“Selanjutnya disusul gagal ginjal dengan 12,6 juta kasus dan biaya Rp13,3 triliun, serta kanker sebanyak 7,2 juta kasus dengan biaya Rp10,3 triliun,” ujarnya, Jumat (23/01).

Rizzky menambahkan, tren biaya penyakit kronis terus meningkat dari tahun ke tahun. Padahal, sebagian besar penyakit tersebut dapat dicegah sejak dini melalui penerapan pola hidup sehat.

“Penyakit kronis sangat erat kaitannya dengan gaya hidup. Jika pencegahan dilakukan secara konsisten, risiko dan beban biaya dapat ditekan,” jelasnya.

Sebagai langkah preventif, BPJS Kesehatan menginisiasi program Gerak 335, yaitu aktivitas fisik sederhana berupa jalan santai selama tiga menit, dilanjutkan jalan cepat tiga menit, dan diulang sebanyak lima kali hingga mencapai total 30 menit.

Aktivitas ini dapat dilakukan kapan saja tanpa memerlukan alat khusus.

Selain aktivitas fisik, BPJS Kesehatan juga mendorong masyarakat melakukan Skrining Riwayat Kesehatan melalui Aplikasi Mobile JKN, WhatsApp PANDAWA di nomor 08118165165, website resmi BPJS Kesehatan, atau langsung di FKTP.

“Prosesnya hanya membutuhkan waktu 5–10 menit, tetapi manfaatnya sangat besar karena bisa mendeteksi risiko penyakit kronis sejak dini,” kata Rizzky.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Prof Trina Astuti, menekankan bahwa penyakit kronis umumnya membutuhkan pengobatan jangka panjang.

Oleh karena itu, pencegahan melalui pola hidup sehat menjadi kunci utama.

Menjelang peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 pada 25 Januari, Prof Trina mengingatkan pentingnya penerapan empat Pilar Gizi Seimbang, yakni mengonsumsi makanan beragam, membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, aktif bergerak, serta menjaga berat badan tetap normal.

Ia juga mengajak masyarakat menerapkan panduan makan “Isi Piringku”, dengan komposisi setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat piring karbohidrat, serta seperempat piring protein hewani atau nabati.

“Selain itu, konsumsi gula, garam, dan lemak juga perlu dibatasi agar risiko penyakit kronis dapat ditekan,” pungkasnya.(*)