Neymar Tutup Karier Internasional, Brasil Kehilangan Top Skor Sepanjang Masa

SEPUCUKJAMBI.ID – Era Neymar bersama Timnas Brasil resmi berakhir.

Penyerang berusia 34 tahun itu mengumumkan pensiun dari tim nasional setelah langkah Selecao terhenti di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Keputusan tersebut diumumkan Neymar sesaat setelah Brasil takluk 1-2 dari Norwegia.

Kekalahan itu sekaligus mengakhiri perjalanan Brasil di turnamen dan menjadi penampilan terakhir sang bintang bersama tim nasional.

Dalam pernyataannya, Neymar mengaku telah menuntaskan perjalanan panjangnya bersama Brasil yang dimulai sejak usia muda.

“Saya sudah mencoba dan terus mencoba. Saya mengawali karier saya di MetLife Stadium dan saya mengakhirinya di sini. Segalanya sudah selesai sekarang,” kata Neymar usai pertandingan.

Keputusan tersebut menandai berakhirnya perjalanan salah satu pemain terbaik dalam sejarah sepak bola Brasil.

Neymar tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Timnas Brasil dan menjadi bagian penting Selecao selama hampir dua dekade.

Sepanjang karier internasionalnya, Neymar tampil dalam berbagai turnamen besar, termasuk beberapa edisi Piala Dunia dan Copa America.

Ia menjadi salah satu ikon generasi emas Brasil berkat kontribusi gol, assist, serta perannya sebagai pemimpin di lapangan.

Pada Piala Dunia 2026, Neymar masih menjadi pilihan utama pelatih Carlo Ancelotti meski sempat mengalami cedera sebelum turnamen dimulai.

Dalam laga melawan Norwegia, Neymar sebenarnya masih mampu menunjukkan kualitasnya dengan mencetak satu gol melalui titik penalti pada masa injury time.

Namun gol tersebut tidak cukup menghindarkan Brasil dari kekalahan setelah Erling Haaland lebih dulu memborong dua gol kemenangan Norwegia.

Tersingkirnya Brasil di babak 16 besar menjadi penutup perjalanan Neymar bersama tim nasional.

Setelah mengakhiri karier internasionalnya, Neymar dipastikan akan mengalihkan seluruh fokus ke level klub.

Saat ini ia masih terikat kontrak bersama Santos hingga akhir musim dan bertekad membantu klub masa kecilnya kembali bersaing di kompetisi domestik Brasil.

Kepergian Neymar dari Timnas Brasil sekaligus menutup satu era penting dalam sejarah Selecao.

Regenerasi pemain kini menjadi pekerjaan besar bagi Brasil untuk kembali membangun kekuatan menuju turnamen internasional berikutnya.(*)




Meski Cuma Cetak Penalti, Ronaldo Raih Man of the Match Lawan Kroasia

SEPUCUKJAMBI.ID – Cristiano Ronaldo kembali menunjukkan pengaruh besarnya bagi Timnas Portugal.

Kapten Selecao itu dinobatkan sebagai Man of the Match versi FIFA setelah membawa Portugal menang dramatis 2-1 atas Kroasia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Jumat 3 Juli 2026.

Penghargaan tersebut diberikan setelah Ronaldo tampil sebagai sosok yang mengubah arah pertandingan ketika Portugal berada dalam situasi sulit.

Portugal sempat tertinggal lebih dulu akibat gol Ivan Perisic di awal babak kedua.

Dalam kondisi terus ditekan Kroasia, Selecao akhirnya mampu bangkit dan membalikkan keadaan hingga memastikan tiket ke babak 16 besar.

Peran Ronaldo menjadi salah satu faktor utama di balik kebangkitan tersebut.

Saat Portugal berusaha mengejar ketertinggalan, Renato Veiga dijatuhkan di dalam kotak penalti. Setelah wasit meninjau tayangan VAR, Portugal mendapat hadiah penalti.

Cristiano Ronaldo yang maju sebagai eksekutor tampil tenang.

Sepakannya sukses mengecoh Dominik Livakovic dan mengubah skor menjadi 1-1.

Gol itu menjadi momentum penting bagi Portugal.

Setelah berhasil menyamakan kedudukan, kepercayaan diri Selecao meningkat hingga akhirnya Goncalo Ramos mencetak gol kemenangan pada masa injury time.

Sebenarnya, Ronaldo sempat lebih dahulu menggetarkan gawang Kroasia pada pertandingan tersebut.

Namun gol itu dianulir karena VAR memastikan penyerang berusia 41 tahun itu sudah berada dalam posisi offside sebelum menerima umpan.

Meski hanya mencetak satu gol dari titik penalti, kontribusi Ronaldo dinilai jauh lebih besar dari sekadar torehan angka di papan skor.

Pengalaman, kepemimpinan, dan ketenangannya saat mengeksekusi penalti membuat Portugal mampu keluar dari tekanan dan membalikkan jalannya pertandingan.

Atas performa tersebut, FIFA menetapkan Cristiano Ronaldo sebagai Man of the Match.

Penghargaan itu sekaligus menegaskan bahwa sang kapten masih menjadi figur sentral dalam perjalanan Portugal di Piala Dunia 2026.

Berkat kemenangan atas Kroasia, Portugal melangkah ke babak 16 besar dan akan menghadapi Spanyol dalam duel sesama raksasa Eropa yang diprediksi menjadi salah satu laga paling menarik di fase gugur.(*)




VAR Gagalkan Harapan Kroasia, Portugal Menang Dramatis dan Hadapi Spanyol

SEPUCUKJAMBI.ID – Timnas Portugal memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 usai menundukkan Kroasia dengan skor tipis 2-1 pada pertandingan babak 32 besar yang berlangsung di Toronto Stadium, Jumat 3 Juli 2026.

Selecao sempat berada dalam posisi tertinggal setelah Ivan Perisic membawa Kroasia unggul di awal babak kedua.

Namun Portugal mampu membalikkan keadaan lewat eksekusi penalti Cristiano Ronaldo sebelum Goncalo Ramos muncul sebagai pahlawan lewat gol kemenangan pada masa injury time.

Kemenangan ini mengantar Portugal melaju ke fase berikutnya dan akan menghadapi rival sesama Semenanjung Iberia, Spanyol, dalam laga babak 16 besar.

Babak Pertama Berjalan Ketat

Pertandingan berlangsung dalam tempo cukup tinggi pada awal laga.

Kroasia lebih dulu mengancam melalui Ante Budimir, tetapi penyelesaiannya masih melebar dari sasaran.

Portugal merespons beberapa menit kemudian. Bruno Fernandes melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang memaksa Dominik Livakovic melakukan penyelamatan penting.

Setelah awal pertandingan yang terbuka, ritme permainan berubah lebih hati-hati.

Kedua tim sama-sama tampil disiplin sehingga duel lebih banyak berlangsung di sektor tengah lapangan.

Hingga turun minum tidak banyak peluang bersih yang tercipta. Babak pertama pun ditutup tanpa gol dengan skor tetap 0-0.

Kroasia Unggul Lebih Dulu

Memasuki babak kedua, pelatih Zlatko Dalic melakukan perubahan dengan memasukkan Igor Matanovic menggantikan Ante Budimir.

Pergantian tersebut membuat Kroasia tampil lebih agresif. Mateo Kovacic lebih dulu menguji ketangguhan Diogo Costa sebelum Nikola Vlasic gagal memanfaatkan bola muntah.

Tekanan Kroasia akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-53.

Ivan Perisic menerima umpan dari Josip Stanisic, mengontrol bola di dalam kotak penalti, lalu melepaskan tembakan yang gagal dibendung Diogo Costa. Kroasia unggul 1-0.

Beberapa saat kemudian, Nikola Vlasic sebenarnya kembali membobol gawang Portugal.

Namun gol tersebut dianulir setelah VAR memastikan dirinya telah berada dalam posisi offside.

Ronaldo Samakan Kedudukan

Portugal berusaha meningkatkan intensitas serangan. Rafael Leao nyaris mencetak gol melalui sepakan keras yang hanya membentur mistar.

Cristiano Ronaldo sempat mencetak gol, tetapi kembali dianulir VAR karena sang kapten lebih dulu berada dalam posisi offside.

Momentum Portugal akhirnya datang ketika Renato Veiga dijatuhkan di area terlarang. Setelah meninjau tayangan VAR, wasit menunjuk titik putih.

Cristiano Ronaldo yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna untuk mengubah skor menjadi 1-1.

Goncalo Ramos Jadi Penentu

Setelah gol penyama kedudukan, Kroasia kembali mengambil inisiatif serangan dan beberapa kali menekan pertahanan Portugal.

Namun ketika laga memasuki masa injury time, Portugal justru berhasil mencuri gol kemenangan.

Rafael Leao mengirim umpan silang akurat yang disambut sundulan Goncalo Ramos hingga menggetarkan gawang Livakovic.

Kroasia sempat merayakan gol penyama kedudukan beberapa detik menjelang pertandingan berakhir melalui Josko Gvardiol yang memanfaatkan bola muntah di depan gawang.

Akan tetapi, VAR kembali menjadi penentu. Wasit membatalkan gol tersebut setelah Mario Pasalic lebih dahulu terjebak offside dalam proses terjadinya gol.

Skor 2-1 bertahan hingga laga usai. Portugal pun memastikan tiket ke babak 16 besar dan akan menghadapi Spanyol dalam salah satu duel paling dinanti di Piala Dunia 2026.

Susunan Pemain

Portugal (4-2-3-1): Diogo Costa; Joao Cancelo, Ruben Dias, Renato Veiga, Nuno Mendes; Vitinha, Joao Neves; Pedro Neto, Bruno Fernandes, Rafael Leao; Cristiano Ronaldo.

Pelatih: Roberto Martinez.

Kroasia (4-2-3-1): Dominik Livakovic; Josip Stanisic, Josip Sutalo, Marin Pongracic, Ivan Perisic; Luka Modric, Mateo Kovacic; Martin Baturina, Petar Sucic, Nikola Vlasic; Ante Budimir.

Pelatih: Zlatko Dalic.(*)




Gol Telat Martinelli Selamatkan Brasil, Jepang Gagal Pertahankan Keunggulan di Piala Dunia 2026

SEPUCUKJAMBI.ID – Timnas Brasil memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah melewati duel sengit melawan Jepang.

Sempat tertinggal lebih dulu, Selecao menunjukkan mental juara dengan membalikkan keadaan dan menang tipis 2-1 lewat gol dramatis Gabriel Martinelli pada masa injury time.

Kemenangan ini membuat skuad besutan Carlo Ancelotti mengamankan tiket ke fase gugur.

Di babak 16 besar, Brasil akan menghadapi pemenang pertandingan antara Pantai Gading kontra Norwegia.

Sejak peluit awal dibunyikan di Houston Stadium, kedua tim bermain hati-hati.

Brasil mendominasi penguasaan bola, tetapi disiplin lini belakang Jepang membuat Vinicius Junior dan kolega kesulitan menemukan ruang.

Peluang pertama Brasil lahir pada menit ke-14. Bruno Guimaraes dan Matheus Cunha bergantian mengancam gawang Jepang, namun penyelesaian akhir keduanya belum tepat sasaran.

Jepang yang lebih banyak menunggu justru mampu memanfaatkan kelengahan lawan.

Setelah sempat mengancam melalui tandukan Ueda, Samurai Blue membuka keunggulan pada menit ke-29.

Kaishu Sano berhasil memotong aliran bola Brasil sebelum menggiring bola ke depan kotak penalti dan melepaskan tembakan mendatar yang gagal diantisipasi Alisson.

Gol tersebut membawa Jepang unggul 1-0 sekaligus membuat Brasil berada dalam tekanan.

Selecao berusaha merespons sebelum turun minum. Vinicius Junior sempat menguji refleks kiper Suzuki melalui tendangan jarak jauh, tetapi peluang itu berhasil diamankan.

Hingga babak pertama usai, Jepang tetap mempertahankan keunggulan 1-0.

Memasuki babak kedua, Brasil langsung meningkatkan intensitas serangan tanpa melakukan pergantian pemain. Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-55.

Berawal dari umpan silang Gabriel Magalhaes, Casemiro memenangkan duel udara dan menyundul bola masuk ke gawang Jepang. Skor berubah menjadi 1-1 dan pertandingan kembali terbuka.

Gol tersebut membuat tempo laga meningkat. Brasil semakin agresif mengejar kemenangan, sementara Jepang mulai keluar menyerang untuk mencari gol balasan melalui skema serangan balik.

Ketika pertandingan tampak akan berakhir imbang, Brasil justru menemukan momen penentunya.

Pada masa injury time, Bruno Guimaraes mengirim umpan terobosan yang berhasil dimanfaatkan Gabriel Martinelli.

Lolos dari jebakan offside, Martinelli dengan tenang melepaskan tembakan mendatar yang bersarang di pojok gawang Jepang. Gol itu sekaligus memastikan kemenangan 2-1 bagi Brasil.

Jepang masih berusaha mengejar ketertinggalan dalam sisa waktu yang ada. Namun pertahanan Brasil mampu menjaga keunggulan hingga wasit meniup peluit panjang.

Hasil ini memastikan Brasil melangkah ke babak 16 besar dengan penuh drama, sedangkan Jepang harus mengakhiri perjuangannya setelah gagal mempertahankan keunggulan yang sempat mereka raih pada babak pertama.

Susunan Pemain

Brasil (4-3-3): Alisson; Douglas Santos, Gabriel Magalhaes, Marquinhos, Danilo; Casemiro, Lucas Paqueta, Bruno Guimaraes; Vinicius Junior, Matheus Cunha, Rayan.

Pelatih: Carlo Ancelotti.

Jepang (3-4-3): Suzuki; Ito, Taniguchi, Tomiyasu; Nakamura, Kamada, Kaishu Sano, Doan; Maeda, Ueda, Ito.

Pelatih: Hajime Moriyasu.(*)




Prediksi Susunan Pemain Brasil vs Jepang: Vinicius Junior dan Matheus Cunha Jadi Andalan

SEPUCUKJAMBI.ID – Brasil menghadapi tantangan serius saat berjumpa Jepang pada babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Pertandingan yang digelar di NRG Stadium, Houston, Selasa 30 Juni 2026 pukul 00.00 WIB itu diprediksi menjadi salah satu laga paling menarik di fase gugur.

Meski lolos sebagai juara Grup C, langkah Brasil menuju babak 16 besar dipastikan tidak mudah.

Lawan yang dihadapi adalah Jepang, tim yang belum sekalipun menelan kekalahan sepanjang fase grup dan tampil konsisten dengan permainan disiplin serta intensitas tinggi.

Tim besutan Carlo Ancelotti memang menunjukkan kualitas sebagai salah satu kandidat juara. Namun, hingga fase grup berakhir, Selecao belum benar-benar mendapat tekanan besar.

Kondisi itu berbeda dengan duel melawan Jepang yang dikenal memiliki organisasi permainan rapi dan kemampuan melakukan pressing sejak lini depan.

Di bawah mistar gawang, Alisson Becker diperkirakan tetap menjadi pilihan utama.

Kiper Liverpool tersebut belum banyak mendapat ancaman berarti dalam dua laga terakhir, tetapi kali ini diprediksi menghadapi ujian lebih berat menghadapi produktivitas lini depan Samurai Biru.

Lini belakang Brasil kemungkinan masih dipercayakan kepada Danilo, Marquinhos, Gabriel, dan Douglas Santos.

Pengalaman empat pemain tersebut menjadi modal penting untuk membendung agresivitas Jepang yang mengandalkan transisi cepat dan pergerakan tanpa bola.

Marquinhos diperkirakan akan menjadi benteng utama dalam mengawal Ayase Ueda yang tampil tajam sepanjang turnamen.

Sementara Gabriel diharapkan mampu membantu membangun serangan dari lini belakang melalui distribusi bola yang akurat.

Di sektor tengah, Carlo Ancelotti diprediksi kembali memasang duet Bruno Guimaraes dan Casemiro.

Keduanya menjadi penyeimbang permainan Brasil, baik saat menguasai bola maupun ketika harus mematahkan serangan lawan.

Bruno Guimaraes datang dengan kepercayaan diri tinggi usai mencatatkan dua assist pada laga sebelumnya melawan Skotlandia.

Namun, perannya dipastikan lebih berat karena Jepang dikenal sangat disiplin menutup ruang di lini tengah.

Sementara itu, Casemiro membawa catatan impresif. Gelandang berpengalaman tersebut belum tersentuh kekalahan dalam sembilan pertandingan terakhir bersama klub maupun tim nasional, menjadikannya salah satu sosok penting di ruang mesin Selecao.

Di lini serang, Rayan berpeluang kembali mengisi sektor kanan setelah terus menunjukkan perkembangan positif sepanjang turnamen.

Lucas Paqueta diprediksi tetap dipercaya sebagai gelandang serang meski Neymar telah pulih dari cedera dan siap dimainkan.

Vinicius Junior hampir pasti menjadi tumpuan utama di sisi kiri.

Penyerang Real Madrid itu sedang berada dalam performa terbaik setelah selalu mencetak gol pada setiap pertandingan Brasil di Piala Dunia 2026.

Sementara posisi ujung tombak kemungkinan kembali ditempati Matheus Cunha.

Penyerang Manchester United tersebut sukses membayar kepercayaan Carlo Ancelotti dengan torehan tiga gol dalam dua pertandingan terakhir setelah sempat absen pada laga pembuka.

Secara kualitas individu dan pengalaman, Brasil masih lebih diunggulkan untuk mengamankan tiket ke babak 16 besar.

Namun, rekor tak terkalahkan Jepang sepanjang turnamen menjadi sinyal bahwa Selecao tidak akan menjalani pertandingan dengan mudah.

Jika mampu mempertahankan disiplin permainan dan memanfaatkan kecepatan serangan balik, Jepang berpeluang memberikan kejutan.

Sebaliknya, Brasil harus tampil lebih efektif dibanding fase grup apabila ingin menjaga asa meraih gelar juara dunia keenam.

Prediksi Starting XI Brasil (4-2-3-1):

Alisson; Danilo, Marquinhos, Gabriel, Douglas Santos; Bruno Guimaraes, Casemiro; Rayan, Lucas Paqueta, Vinicius Junior; Matheus Cunha.(*)




Brasil Juara Grup C! Skotlandia Tumbang, Vinicius Jr Tampil Memukau

SEPUCUKJAMBI.ID – Timnas Brasil menegaskan statusnya sebagai salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Skotlandia dengan skor meyakinkan 3-0 pada laga terakhir Grup C, Kamis 25 Juni 2026 WIB.

Kemenangan di Miami Stadium itu memastikan Selecao melangkah ke babak 32 besar dengan predikat juara grup.

Bintang kemenangan Brasil adalah Vinicius Jr yang mencetak dua gol, sementara satu gol lainnya disumbangkan Matheus Cunha pada babak kedua.

Tambahan tiga poin membuat Brasil menutup fase grup dengan koleksi tujuh angka. Di sisi lain, Skotlandia gagal memanfaatkan laga penentuan dan harus puas mengakhiri fase grup di posisi ketiga.

Brasil tidak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan dominasinya.

Baru tujuh menit pertandingan berjalan, tekanan tinggi yang dilakukan Rayan berhasil memaksa lini belakang Skotlandia melakukan kesalahan.

Bola liar yang tercipta langsung dimanfaatkan Vinicius Jr untuk menaklukkan Angus Gunn dan membawa Brasil unggul cepat 1-0.

Gol tersebut membuat permainan tim asuhan Carlo Ancelotti semakin hidup. Brasil mendominasi penguasaan bola dan terus menekan pertahanan Skotlandia yang kesulitan keluar dari tekanan.

Vinicius sebenarnya sempat kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-22. Namun gol tersebut dianulir wasit setelah menilai terjadi pelanggaran dalam proses perebutan bola.

Meski demikian, ancaman Brasil tidak berhenti. Skotlandia berusaha merespons melalui serangan balik dan bola-bola langsung ke area pertahanan lawan, tetapi lini belakang Brasil yang dikawal Marquinhos dan Gabriel Magalhaes tampil disiplin.

Saat pertandingan tampak akan memasuki jeda dengan keunggulan tipis, Brasil kembali menghukum lawannya.

Pada masa injury time babak pertama, Vinicius menyambut umpan silang Bruno Guimaraes dan mencetak gol keduanya dalam laga tersebut.

Gol itu membuat Brasil menutup babak pertama dengan keunggulan nyaman 2-0.

Memasuki babak kedua, Skotlandia mencoba tampil lebih agresif. Scott McTominay sempat menghadirkan ancaman lewat sundulan keras pada menit ke-49, namun Alisson mampu mengamankan bola dengan baik.

Brasil kemudian kembali mengambil alih kendali permainan. Vinicius nyaris mencetak hattrick setelah dua kali memaksa Angus Gunn melakukan penyelamatan penting dalam rentang waktu singkat.

Gol ketiga yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir pada menit ke-60. Bruno Guimaraes menusuk ke dalam kotak penalti sebelum mengirim umpan matang kepada Matheus Cunha.

Penyerang Brasil itu tanpa kesulitan melepaskan tembakan mendatar yang mengubah skor menjadi 3-0.

Tertinggal tiga gol tidak membuat Skotlandia menyerah begitu saja. Tim asuhan Steve Clarke tetap berupaya mencari gol hiburan, tetapi solidnya organisasi permainan Brasil membuat setiap peluang mampu diredam dengan baik.

Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 3-0 tetap bertahan untuk kemenangan Brasil.

Hasil ini mengukuhkan Brasil sebagai juara Grup C sekaligus memperpanjang catatan impresif mereka di Piala Dunia 2026.

Dengan performa yang semakin matang dan Vinicius Jr yang sedang berada dalam bentuk terbaiknya, Selecao mengirim pesan serius kepada para pesaing dalam perburuan gelar juara dunia.(*)




Brasil Gilas Haiti 3-0, Selecao Kudeta Puncak Klasemen Grup C Piala Dunia 2026

SEPUCUKJAMBI.ID – Timnas Brasil menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu kandidat juara Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Haiti dengan skor meyakinkan 3-0 pada laga kedua Grup C di Philadelphia Stadium, Sabtu 20 Juni 2026 pagi WIB.

Kemenangan ini mengantarkan Selecao ke puncak klasemen sementara Grup C dengan koleksi empat poin, menggeser Maroko ke posisi kedua.

Sebaliknya, hasil tersebut sekaligus memastikan langkah Haiti terhenti di fase grup setelah menelan dua kekalahan beruntun tanpa meraih poin.

Meski menang dengan margin tiga gol, Brasil sejatinya berpeluang mencatat kemenangan lebih besar.

Anak asuh Carlo Ancelotti tampil dominan sepanjang pertandingan dan terus menekan pertahanan Haiti sejak menit awal.

Brasil langsung mengambil alih kendali permainan. Baru dua menit laga berjalan, kombinasi Raphinha dan Casemiro nyaris membuka keunggulan.

Namun, peluang tersebut masih mampu dipatahkan lini belakang Haiti.

Tekanan Selecao semakin intens. Pada menit ke-12, Raphinha sempat menggetarkan gawang Haiti melalui tembakan melengkung yang indah.

Namun gol tersebut dianulir wasit setelah VAR memastikan sang pemain berada dalam posisi offside.

Ketangguhan Haiti dalam bertahan akhirnya runtuh pada menit ke-23.

Vinicius Junior melakukan penetrasi ke kotak penalti sebelum melepaskan tembakan yang gagal diantisipasi sempurna oleh kiper Johny Placide.

Bola liar kemudian mengenai Matheus Cunha dan bergulir masuk ke gawang.

Gol tersebut membuat Brasil semakin percaya diri mengendalikan pertandingan.

Keunggulan bertambah pada menit ke-36. Serangan balik cepat yang dipimpin Vinicius berhasil diselesaikan dengan sempurna oleh Cunha melalui tembakan keras kaki kiri yang menghujam sudut atas gawang Haiti.

Menjelang turun minum, Brasil kembali menghukum kelengahan lawan.

Kali ini Vinicius Junior mencatatkan namanya di papan skor setelah menerima umpan panjang akurat dari Lucas Paqueta.

Penyelesaian tenang sang winger membawa Brasil unggul 3-0 saat babak pertama berakhir.

Pada babak kedua, Haiti mencoba tampil lebih berani dengan mengubah pendekatan permainan.

Tim Karibia itu mulai berani keluar menyerang dan sempat menciptakan peluang terbaik pada menit ke-63 melalui sundulan Ricardo Ade.

Namun, Alisson Becker menunjukkan kelasnya sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia.

Refleks cepatnya berhasil menggagalkan peluang emas tersebut tepat di depan garis gawang.

Brasil tetap mendominasi jalannya laga dan beberapa kali mengancam melalui Gabriel Martinelli, Endrick, hingga Douglas Santos.

Bahkan Endrick sempat mencetak gol, namun kembali dianulir akibat offside.

Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 3-0 tetap bertahan untuk kemenangan Brasil.

Hasil ini menempatkan Brasil dalam posisi ideal untuk mengamankan tiket ke fase gugur pada laga terakhir Grup C.

Sementara Haiti dipastikan tersingkir dan tidak lagi memiliki peluang melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026.

Susunan Pemain:

Brasil (4-2-3-1): Alisson Becker; Danilo, Marquinhos, Gabriel Magalhaes, Douglas Santos; Casemiro, Bruno Guimaraes; Raphinha, Lucas Paqueta, Vinicius Junior; Matheus Cunha.

Pelatih: Carlo Ancelotti.

Haiti (5-4-1): Johny Placide; Carlens Arcus, Ricardo Ade, Jean-Kevin Duverne, Hannes Delcroix, Martin Experience; Ruben Providence, Jean-Ricner Bellegarde, Danley Jean Jacques, Josue Casimir; Frantzdy Pierrot.

Pelatih: Sebastien Migne.(*)




Ditahan Maroko, Brasil Dapat Warning dari Ancelotti

SEPUCUKJAMBI.ID – Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, memberikan evaluasi terbuka usai timnya ditahan imbang Maroko 1-1 pada laga pembuka Grup C Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, Minggu 14 Juni 2026 waktu setempat.

Hasil tersebut membuat kedua tim harus berbagi satu poin dan membuka persaingan Grup C yang masih berlangsung ketat sejak awal turnamen.

Maroko lebih dulu unggul melalui gol Ismael Saibari pada menit ke-21.

Brasil kemudian merespons lewat aksi individu Vinicius Junior yang menyamakan kedudukan pada menit ke-32.

Namun, setelah gol tersebut, tidak ada tambahan skor hingga laga berakhir.

Kedua tim gagal memaksimalkan peluang di babak kedua, meski sempat meningkatkan intensitas permainan.

Brasil Kesulitan di Babak Pertama

Brasil tampil di bawah tekanan sejak menit awal. Tim Samba terlihat kesulitan mengendalikan ritme permainan dan kerap kalah dalam duel serta penguasaan bola di lini tengah.

Maroko tampil disiplin dan agresif, membuat Brasil kesulitan keluar dari tekanan selama babak pertama berlangsung.

Meski sempat tertinggal, Brasil menunjukkan perbaikan di babak kedua. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk mengamankan kemenangan di laga pembuka ini.

Ancelotti Akui Start Tidak Sesuai Harapan

Carlo Ancelotti secara jujur mengakui timnya tidak memulai pertandingan dengan baik dan sempat mengalami kesulitan besar menghadapi tekanan lawan.

“Saya pikir kami tidak memulai dengan sangat baik, saya sedikit khawatir. Kami kalah banyak duel dan penguasaan bola, tetapi kami membaik di babak kedua dalam pertandingan yang sulit karena Maroko adalah tim yang bagus,” ujar Ancelotti.

Ia menambahkan bahwa masalah utama Brasil terletak pada kontrol permainan, terutama saat menghadapi pressing tinggi dari Maroko di babak pertama.

“Di babak pertama, kami kesulitan keluar dari tekanan dan seharusnya bisa lebih mengontrol permainan,” lanjutnya.

Jadi Evaluasi Penting Brasil

Ancelotti menegaskan bahwa hasil imbang ini akan menjadi bahan evaluasi penting bagi timnya sebelum menghadapi laga berikutnya di fase grup.

Ia mengakui ekspektasi terhadap Brasil cukup tinggi, namun belum semua berjalan sesuai rencana.

“Apakah saya puas? Tidak juga, saya mengharapkan awal yang lebih baik,” kata Ancelotti.

Meski demikian, ia menilai situasi seperti ini masih bisa terjadi dalam turnamen besar dan meminta timnya segera berbenah.

“Tetapi hal seperti ini bisa terjadi dan sekarang saya akan fokus ke pertandingan berikutnya,” pungkasnya.

Dengan hasil ini, Brasil harus segera memperbaiki konsistensi permainan jika ingin menjaga peluang melangkah jauh di Piala Dunia 2026.(*)




Brasil vs Maroko 1-1, Gustavo Poyet Kritik Tajam: Selecao di Luar Standar

SEPUCUKJAMBI.ID – Laga pembuka Grup C Piala Dunia 2026 antara Brasil dan Maroko berakhir tanpa pemenang.

Kedua tim harus puas berbagi angka setelah bermain imbang 1-1 di MetLife Stadium, East Rutherford, Minggu 14 Juni 2026 pagi WIB.

Hasil ini menjadi sorotan karena Brasil datang dengan status favorit juara, namun gagal menunjukkan dominasi penuh sepanjang pertandingan.

Maroko lebih dulu membuka keunggulan melalui gol Ismael Saibari pada menit ke-21.

Gol tersebut lahir dari skema serangan cepat yang dipimpin Brahim Diaz, yang memberikan umpan matang ke lini depan.

Brasil tidak butuh waktu lama untuk merespons. Vinicius Junior menyamakan kedudukan pada menit ke-32 lewat aksi individu yang memecah pertahanan Maroko.

Namun setelah gol tersebut, tidak ada tambahan skor hingga laga berakhir.

Memasuki babak kedua, tempo permainan kedua tim cenderung menurun.

Baik Brasil maupun Maroko terlihat lebih berhati-hati dalam membangun serangan, sehingga pertandingan berjalan kurang agresif.

Mantan pemain Chelsea dan pelatih Gustavo Poyet ikut memberikan pandangan kritis terhadap performa Brasil dalam laga tersebut.

Ia menilai Selecao tidak tampil sesuai ekspektasi, terutama dari sisi kolektivitas tim.

“Kami kecewa dengan Brasil. Kami berharap lebih, terutama dalam permainan tim,” ujar Poyet kepada BBC One.

Ia menilai kemampuan individu pemain Brasil memang tetap berbahaya, tetapi tidak cukup untuk memenangkan pertandingan.

“Secara individu kita tahu mereka bisa muncul kapan saja. Vinicius melakukannya hari ini, tapi itu tidak cukup,” lanjutnya.

Poyet juga menyoroti banyaknya kesalahan teknis yang dilakukan Brasil, terutama dalam distribusi bola sederhana yang biasanya menjadi kekuatan mereka.

“Saya terkejut melihat betapa buruknya mereka secara teknis hari ini. Saya tidak tahu apakah itu karena lapangan, tetapi mereka kehilangan banyak umpan sederhana,” katanya.

Menurutnya, kondisi lapangan memang bisa menjadi faktor, namun tidak sepenuhnya menjelaskan penurunan kualitas permainan Brasil.

Di sisi lain, ia menilai kedua tim sama-sama tidak tampil dengan intensitas tinggi untuk mencari kemenangan di babak kedua.

“Pada akhirnya kedua tim tidak bermain untuk menang, mereka bermain untuk tidak kalah,” tutup Poyet.

Hasil imbang ini membuat persaingan di Grup C Piala Dunia 2026 semakin terbuka, sementara Brasil harus segera berbenah untuk menjaga peluang lolos ke fase berikutnya.(*)