Candi Bajang Ratu hingga Candi Tikus, Jejak Kejayaan Majapahit di Trowulan

SEPUCUKJAMBI.ID – Kawasan Trowulan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu situs bersejarah paling penting di Indonesia.

Wilayah ini diyakini sebagai bekas ibu kota Kerajaan Majapahit, kerajaan besar yang pernah berjaya di Nusantara pada masa lampau.

Berbeda dengan situs tunggal, Trowulan merupakan kompleks arkeologi luas yang tersebar di berbagai titik.

Di kawasan ini, ditemukan berbagai peninggalan seperti candi, gerbang kuno, kolam, hingga sisa permukiman yang menggambarkan kehidupan masyarakat Majapahit.

Salah satu peninggalan paling ikonik adalah Candi Bajang Ratu, sebuah gerbang megah yang diduga menjadi pintu masuk kawasan penting kerajaan.

Struktur ini menjadi bukti tingginya nilai seni dan arsitektur pada masa Majapahit.

Selain itu, terdapat Candi Tikus, sebuah bangunan berbentuk kolam yang memiliki desain unik. Situs ini dipercaya memiliki fungsi ritual atau tempat pemandian pada masa kerajaan.

Keunikan Trowulan tidak hanya terletak pada bangunannya, tetapi juga pada luasnya kawasan serta sistem tata kota yang sudah tertata sejak ratusan tahun lalu.

Sejumlah penelitian menunjukkan adanya sistem drainase dan pola permukiman yang cukup maju untuk ukuran peradaban pada zamannya.

Hal ini memperkuat dugaan bahwa Majapahit bukan hanya kerajaan besar, tetapi juga memiliki perencanaan kota yang sangat berkembang.

Selain nilai sejarahnya, Trowulan juga menawarkan suasana pedesaan yang tenang.

Beberapa area masih berupa lahan terbuka yang belum sepenuhnya diekskavasi, sehingga menyimpan potensi penemuan arkeologi baru di masa depan.

Tidak hanya menarik bagi wisatawan, kawasan ini juga menjadi lokasi penting bagi peneliti dan arkeolog dalam mengungkap sejarah Nusantara.

Trowulan juga erat kaitannya dengan tokoh legendaris seperti Gajah Mada, yang dikenal melalui Sumpah Palapa dan perannya dalam penyatuan Nusantara pada masa Majapahit.

Akses menuju Trowulan terbilang mudah karena lokasinya dekat dengan Kota Mojokerto dan Surabaya.

Fasilitas wisata seperti museum dan pusat informasi sejarah juga terus dikembangkan untuk mendukung edukasi pengunjung.

Dengan kekayaan sejarah, temuan arkeologi yang beragam, serta nilai budaya yang tinggi, Trowulan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling penting di Indonesia yang terus menarik perhatian publik.(*)




Dari Istana Kadriah, Awal Mula Kota Pontianak Dimulai

SEPUCUKJAMBI.ID – Istana Kadriah menjadi salah satu ikon sejarah penting di Pontianak yang menyimpan kisah awal berdirinya kota tersebut.

Bangunan ini dulunya merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak, sekaligus titik awal berkembangnya Pontianak sebagai kota perdagangan yang strategis di Kalimantan Barat.

Istana Kadriah dibangun pada akhir abad ke-18 oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Ia memilih lokasi di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak karena dinilai strategis untuk aktivitas perdagangan dan pelayaran.

Dari kawasan inilah cikal bakal Kota Pontianak mulai tumbuh dan berkembang hingga menjadi ibu kota provinsi seperti saat ini.

Istana ini memiliki ciri khas arsitektur Melayu dengan dominasi warna kuning yang melambangkan kebesaran dan kehormatan kerajaan.

Struktur bangunan berupa rumah panggung berbahan kayu, menyesuaikan kondisi lingkungan tepian sungai. Meski terlihat sederhana, nilai historis dan filosofinya sangat kuat.

Di dalam istana, pengunjung dapat menemukan berbagai peninggalan Kesultanan Pontianak, mulai dari singgasana raja, pakaian adat, hingga senjata tradisional.

Nuansa ruangan yang masih terjaga membuat pengunjung seolah diajak kembali ke masa kejayaan kerajaan Melayu di wilayah tersebut.

Keunikan lain Istana Kadriah adalah lokasinya yang berada di tepi Sungai Kapuas, yang dikenal sebagai sungai terpanjang di Indonesia.

Letak ini menunjukkan betapa pentingnya jalur air sebagai pusat aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Hingga kini, suasana kawasan sekitar masih mempertahankan karakter kota tepian sungai.

Tak jauh dari istana berdiri Masjid Jami Pontianak, masjid tua yang juga dibangun oleh Sultan Syarif Abdurrahman.

Kedekatan lokasi keduanya mencerminkan hubungan erat antara pemerintahan dan kehidupan religius masyarakat pada masa Kesultanan Pontianak.

Saat ini, Istana Kadriah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan.

Selain menikmati keindahan arsitektur, pengunjung juga bisa belajar tentang asal-usul Pontianak dan peran penting Kesultanan Melayu dalam membentuk identitas daerah.(*)




Mengenal Lawang Sewu, Ikon Bersejarah dan Destinasi Wisata Populer di Semarang

SEMARANG, SEPUCUKJAMBI.ID – Lawang Sewu, ikon bersejarah Kota Semarang, Jawa Tengah, terkenal dengan arsitekturnya yang megah dan julukannya yang berarti “seribu pintu”.

Bangunan ini dibangun awal abad ke-20 sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api Hindia Belanda, dengan gaya Eropa yang disesuaikan iklim tropis.

Selain keindahan arsitektur, Lawang Sewu memiliki nilai sejarah penting.

Bangunan ini sempat digunakan pada masa pendudukan Jepang dan menjadi saksi berbagai peristiwa menjelang kemerdekaan.

Beberapa ruang bawah tanahnya memiliki fungsi penahanan, yang kemudian memunculkan cerita horor di masyarakat.

Meski dikenal angker karena kisah urban legend dan kondisi bangunan yang terbengkalai pada era 1980–1990-an, pengelola Lawang Sewu menegaskan destinasi ini bukan tempat wisata horor.

Setelah direvitalisasi, Lawang Sewu kini aman, terang, dan tertata rapi.

Wisatawan diajak memahami sejarah, arsitektur, serta peran bangunan ini dalam perjalanan bangsa.

Kini Lawang Sewu menjadi salah satu destinasi wisata populer di Semarang, menarik pengunjung untuk belajar sejarah dan budaya sekaligus berburu foto.

Pencahayaan artistik pada malam hari semakin menonjolkan kemegahan arsitektur bangunan bersejarah ini.()