Kobra Satu Meter Gegerkan Warga Danau Teluk, Tim Damkar Jambi Bergerak 4 Menit ke Lokasi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kemunculan seekor ular kobra di kawasan permukiman kembali membuat warga Kota Jambi waspada.

Reptil berbisa itu ditemukan di sekitar rumah warga di Jalan Hj Nurijah, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Danau Teluk, Kamis 6 Agustus 2026.

Laporan warga langsung ditindaklanjuti Tim Penyelamat Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Kota Jambi.

Hanya berselang empat menit setelah menerima laporan, petugas tiba di lokasi dan segera melakukan proses evakuasi.

Kepala Damkartan Kota Jambi, Mustari Affandy, mengatakan laporan diterima melalui layanan WhatsApp Damkar sekitar pukul 11.36 WIB. Tim Rescue Regu 2 Pos Pelayanan Kebakaran (Posyankar) Jamkose kemudian diterjunkan untuk mengamankan ular tersebut.

“Begitu menerima laporan, personel langsung menuju lokasi. Penanganan dilakukan sesuai prosedur sehingga ular berhasil diamankan tanpa menimbulkan korban maupun gangguan terhadap warga,” kata Mustari.

Ular kobra sepanjang sekitar satu meter dengan berat diperkirakan mencapai setengah kilogram itu ditemukan berada di sekitar lingkungan rumah warga.

Keberadaannya dikhawatirkan membahayakan penghuni, terutama anak-anak maupun hewan peliharaan.

Dalam proses evakuasi, petugas menggunakan peralatan khusus berupa stick hook dan stick grab untuk menjepit tubuh ular.

Setelah itu, bagian mulut ular diamankan menggunakan lakban guna mencegah risiko gigitan selama proses penyelamatan.

Seluruh proses evakuasi berlangsung sekitar 10 menit dan berjalan lancar tanpa kendala.

Mustari menjelaskan, kemunculan ular di kawasan permukiman kerap dipengaruhi perubahan lingkungan, termasuk cuaca, berkurangnya habitat alami, hingga keberadaan semak belukar dan lahan kosong di sekitar rumah warga.

Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di dekat kawasan perairan maupun area yang masih banyak ditumbuhi vegetasi liar.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mencoba menangkap ular sendiri karena sangat berisiko, terutama jika jenisnya berbisa seperti kobra. Segera laporkan kepada petugas agar penanganan dilakukan secara aman,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain menangani kebakaran, Damkartan Kota Jambi juga memberikan layanan penyelamatan (rescue), termasuk evakuasi satwa liar yang berpotensi mengancam keselamatan masyarakat.

Untuk mempercepat respons, masyarakat dapat melaporkan kejadian melalui WhatsApp Damkar di 0811-7113-113, telepon (0741) 41171, atau layanan darurat 112 yang beroperasi selama 24 jam.

Menurut Mustari, pelaporan sejak dini sangat membantu petugas mencegah potensi bahaya yang lebih besar.

“Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula petugas melakukan penanganan sehingga risiko terhadap masyarakat dapat diminimalkan,” pungkasnya.(*)




Heboh Lutung Kelabu Sembunyi di Kamar Mandi Rumah Warga, Damkartan Kota Jambi Turun Tangan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Warga Perumahan Aura Bimantara, RT 07, Kelurahan Sungai Putri, Kecamatan Danau Sipin, dibuat geger setelah seekor lutung kelabu masuk ke dalam kamar mandi salah satu rumah, Senin 6 Juli 2026.

Keberadaan satwa liar itu akhirnya dievakuasi oleh Tim Rescue Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Kota Jambi.

Pemilik rumah, Zamroni, melaporkan kejadian tersebut melalui layanan WhatsApp Damkartan sekitar pukul 14.14 WIB setelah tidak berani menangani satwa itu sendiri.

Kepala Dinas Damkartan Kota Jambi, Mustari Affandy, mengatakan laporan warga langsung ditindaklanjuti dengan mengerahkan Tim Rescue Pleton 2 menuju lokasi.

“Begitu menerima laporan, personel langsung bergerak melakukan penanganan. Prioritas kami adalah memastikan keselamatan warga sekaligus mengamankan satwa tanpa melukainya,” ujar Mustari.

Berdasarkan keterangan pemilik rumah, lutung kelabu itu pertama kali terlihat berada di sekitar warung depan rumah saat warga sedang membersihkan lingkungan.

Ketika didekati, satwa tersebut justru berlari masuk ke area rumah dan bersembunyi di kamar mandi.

Karena khawatir satwa itu bersikap agresif atau melukai penghuni rumah, warga memilih meminta bantuan petugas.

Sebanyak enam personel diterjunkan dalam operasi penyelamatan.

Tim membawa sejumlah peralatan khusus berupa jaring, tali jerat, stick hook, serta kandang evakuasi untuk mengamankan lutung tersebut.

Proses evakuasi berlangsung cukup menantang. Satwa sempat melakukan perlawanan sehingga petugas harus berhati-hati agar tidak melukai hewan maupun membahayakan warga di sekitar.

Setelah penanganan selama sekitar dua jam, lutung kelabu akhirnya berhasil diamankan ke dalam kandang evakuasi.

“Setelah berhasil dievakuasi, satwa langsung kami lepasliarkan ke kawasan hutan Sungai Gelam yang dinilai lebih aman dan merupakan habitat yang sesuai,” kata Mustari.

Ia mengimbau masyarakat tidak mencoba menangkap atau mengusir satwa liar yang masuk ke kawasan permukiman.

Menurutnya, tindakan tersebut berisiko membahayakan keselamatan warga maupun satwa.

Warga diminta segera melapor kepada Damkartan atau instansi terkait agar penanganan dilakukan sesuai prosedur.

Operasi penyelamatan berlangsung selama 2 jam 18 menit dan selesai sekitar pukul 16.51 WIB. Seluruh proses evakuasi berjalan aman tanpa korban maupun kerusakan.(*)




Tapir dari Muaro Jambi hingga Beruang Madu, 11 Satwa Dilepas ke Alam

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – BKSDA Jambi mencatat telah melakukan satu kali kegiatan pelepasliaran satwa liar sepanjang awal tahun 2026.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Maret lalu dengan total 11 ekor satwa yang dikembalikan ke habitat alaminya.

Ketua Pokja Konservasi Satwa Liar dan TPS BKSDA Jambi, drh Zulmanudin, menyampaikan bahwa satwa yang dilepas berasal dari berbagai sumber, baik hasil penyerahan masyarakat maupun hasil pengamanan dari peredaran tumbuhan dan satwa liar (TSL).

Adapun 11 satwa tersebut terdiri dari 2 ekor beruang madu, 2 burung betet, 1 elang brontok, 3 beo tiong emas, 1 tapir, 1 beruk, dan 1 musang pandan.

Seluruh satwa tersebut dilepasliarkan di kawasan Suaka Margasatwa Sungai Bengkal.

Lokasi ini dipilih karena memiliki kesesuaian habitat serta ketersediaan pakan yang dinilai memadai untuk mendukung kelangsungan hidup satwa.

Sebelum dilepas, sebagian besar satwa menjalani proses rehabilitasi terlebih dahulu di Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) Mendalo milik BKSDA Jambi.

Di fasilitas tersebut, satwa dipantau kondisi kesehatan, perilaku, serta kemampuannya agar siap kembali hidup di alam liar.

Namun, terdapat pula satwa yang tidak melalui rehabilitasi panjang.

Salah satunya adalah tapir yang ditemukan warga di kawasan Candi Muaro Jambi setelah terjatuh ke dalam sumur.

Setelah dievakuasi dan dinyatakan sehat, satwa tersebut langsung dilepasliarkan.

Selain itu, beberapa satwa lainnya merupakan hasil penanganan konflik dengan manusia.

Salah satunya beruang madu dari Kabupaten Batanghari yang sebelumnya mengalami luka dan menjalani perawatan intensif di TPS Mendalo hingga pulih.

BKSDA Jambi juga menyebut sebagian satwa berasal dari kesadaran masyarakat yang menyerahkan hewan peliharaan ilegal kepada pihak berwenang untuk dikembalikan ke alam.

Pihak BKSDA menegaskan bahwa pelepasliaran ini merupakan bagian dari upaya konservasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi satwa liar dari kepunahan.

Sebagai penutup, BKSDA Jambi mengimbau masyarakat agar tidak memelihara maupun memburu satwa yang dilindungi, karena merupakan bagian penting dari kekayaan hayati yang harus dijaga bersama.(*)




Temuan Gajah Mati Pascabanjir Aceh Soroti Kerusakan Hutan dan Risiko Ekologi

ACEH, SEPUCUKJAMBI.ID – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, menyisakan temuan mengejutkan.

Warga menemukan seekor gajah Sumatera mati di tumpukan kayu dan lumpur di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu.

Lokasi penemuan berada di kawasan hutan yang hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki selama hampir dua jam.

Menurut keterangan warga, sebagian tubuh gajah terbenam lumpur dan ditemukan dalam posisi kepala menghadap ke bawah.

“Gajahnya terseret arus banjir dan terjebak di tumpukan kayu hutan,” ujar Muhammad Ardi, warga yang ikut melakukan penyisiran.

Warga menduga gajah tersebut terbawa arus kuat dari kawasan hulu sungai karena sebelumnya tidak pernah ada satwa gajah yang berkeliaran di desa tersebut.

Banjir bandang membawa kayu, lumpur, dan material hutan sehingga diduga menjadi penyebab kematian satwa dilindungi itu.

Wakil Bupati Pidie Jaya, H. Tarmizi, mengatakan pihaknya masih menyelidiki apakah banjir bandang diperparah oleh kerusakan hutan di hulu, termasuk aktivitas penebangan liar.

“Kami akan memeriksa kondisi hutan di hulu sungai untuk menilai potensi risiko serupa ke depan,” ujarnya.

Ahli konservasi dari Forum Konservasi Gajah Sumatera, Dr. Lestari Widjaja, menilai kasus ini menunjukkan besarnya ancaman terhadap Gajah Sumatera, yang statusnya sudah rentan.

“Tidak hanya manusia dan infrastruktur yang perlu dilindungi dari bencana, tapi juga satwa liar. Gajah Sumatera menghadapi ancaman ganda dari kerusakan hutan dan bencana alam,” kata Dr. Lestari.

Penemuan bangkai gajah ini mempertegas pentingnya pengelolaan hutan dan daerah aliran sungai secara berkelanjutan.

Upaya mitigasi bencana berbasis ekologi dinilai dapat meminimalkan dampak bagi warga sekaligus melindungi satwa liar di Aceh dan wilayah rawan bencana lainnya di Sumatera.(*)




Buaya Raksasa 585 Kg di Riau Mati, Ditemukan Puluhan Sampah di Dalam Perut

SEPUCUKJAMBI.ID – Seekor buaya raksasa yang sebelumnya ditangkap warga di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, mati setelah sekitar 20 hari menjalani perawatan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) setempat.

Buaya berukuran 5,7 meter dengan berat sekitar 585 kilogram itu menjadi salah satu temuan buaya terbesar di wilayah Riau dalam beberapa tahun terakhir.

Buaya yang dijuluki warga sebagai “Si Undan” tersebut ditangkap pada awal November di Sungai Undan, Kecamatan Reteh.

Penangkapan dilakukan karena hewan itu dianggap mengganggu aktivitas masyarakat.

Setelah diamankan, buaya diserahkan ke DPKP Inhil untuk dirawat sambil menunggu arahan lembaga konservasi.

Selama dirawat, kondisi buaya terus menurun. Kepala DPKP Inhil, Junaidi, mengatakan bahwa buaya tidak menunjukkan respons makan sejak hari pertama.

“Buaya tidak mau makan meski sudah diberi umpan beberapa kali. Kondisinya semakin lemah sampai akhirnya tidak lagi bereaksi,” kata Junaidi.

Setelah dinyatakan mati, tim melakukan pemeriksaan lanjutan dan menemukan dugaan penyebab kematian yang mengejutkan.

Di dalam perut buaya, petugas menemukan berbagai benda asing seperti puluhan kantong plastik, karung goni, tutup minuman, pisau kecil, pecahan mata tombak, hingga bagian tabung televisi.

Selain itu, terdapat luka lecet yang diduga muncul sejak proses penangkapan.

Menurut Junaidi, sampah-sampah yang tidak dapat dicerna itu sangat mungkin telah merusak sistem pencernaan buaya hingga menyebabkan kematian.

“Ini bukti betapa seriusnya pencemaran sampah di aliran sungai. Semua benda itu ditemukan masih utuh,” ujarnya.

Usai diperiksa, bangkai buaya kemudian dikirim ke lembaga konservasi di Jakarta untuk diawetkan dan dijadikan bahan penelitian.

Bangkai diangkut menggunakan mobil boks berpendingin untuk mencegah pembusukan selama perjalanan.

Kematian buaya raksasa Si Undan kembali menyoroti masalah pencemaran sungai dan pentingnya pengelolaan habitat satwa liar di Riau.

Kasus ini juga menjadi pengingat perlunya edukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah dan konservasi agar satwa besar yang menjadi bagian penting ekosistem sungai tidak kembali terancam.(*)