Temuan Gajah Mati Pascabanjir Aceh Soroti Kerusakan Hutan dan Risiko Ekologi

ACEH, SEPUCUKJAMBI.ID – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, menyisakan temuan mengejutkan.

Warga menemukan seekor gajah Sumatera mati di tumpukan kayu dan lumpur di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu.

Lokasi penemuan berada di kawasan hutan yang hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki selama hampir dua jam.

Menurut keterangan warga, sebagian tubuh gajah terbenam lumpur dan ditemukan dalam posisi kepala menghadap ke bawah.

“Gajahnya terseret arus banjir dan terjebak di tumpukan kayu hutan,” ujar Muhammad Ardi, warga yang ikut melakukan penyisiran.

Warga menduga gajah tersebut terbawa arus kuat dari kawasan hulu sungai karena sebelumnya tidak pernah ada satwa gajah yang berkeliaran di desa tersebut.

Banjir bandang membawa kayu, lumpur, dan material hutan sehingga diduga menjadi penyebab kematian satwa dilindungi itu.

Wakil Bupati Pidie Jaya, H. Tarmizi, mengatakan pihaknya masih menyelidiki apakah banjir bandang diperparah oleh kerusakan hutan di hulu, termasuk aktivitas penebangan liar.

“Kami akan memeriksa kondisi hutan di hulu sungai untuk menilai potensi risiko serupa ke depan,” ujarnya.

Ahli konservasi dari Forum Konservasi Gajah Sumatera, Dr. Lestari Widjaja, menilai kasus ini menunjukkan besarnya ancaman terhadap Gajah Sumatera, yang statusnya sudah rentan.

“Tidak hanya manusia dan infrastruktur yang perlu dilindungi dari bencana, tapi juga satwa liar. Gajah Sumatera menghadapi ancaman ganda dari kerusakan hutan dan bencana alam,” kata Dr. Lestari.

Penemuan bangkai gajah ini mempertegas pentingnya pengelolaan hutan dan daerah aliran sungai secara berkelanjutan.

Upaya mitigasi bencana berbasis ekologi dinilai dapat meminimalkan dampak bagi warga sekaligus melindungi satwa liar di Aceh dan wilayah rawan bencana lainnya di Sumatera.(*)




Buaya Raksasa 585 Kg di Riau Mati, Ditemukan Puluhan Sampah di Dalam Perut

SEPUCUKJAMBI.ID – Seekor buaya raksasa yang sebelumnya ditangkap warga di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, mati setelah sekitar 20 hari menjalani perawatan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) setempat.

Buaya berukuran 5,7 meter dengan berat sekitar 585 kilogram itu menjadi salah satu temuan buaya terbesar di wilayah Riau dalam beberapa tahun terakhir.

Buaya yang dijuluki warga sebagai “Si Undan” tersebut ditangkap pada awal November di Sungai Undan, Kecamatan Reteh.

Penangkapan dilakukan karena hewan itu dianggap mengganggu aktivitas masyarakat.

Setelah diamankan, buaya diserahkan ke DPKP Inhil untuk dirawat sambil menunggu arahan lembaga konservasi.

Selama dirawat, kondisi buaya terus menurun. Kepala DPKP Inhil, Junaidi, mengatakan bahwa buaya tidak menunjukkan respons makan sejak hari pertama.

“Buaya tidak mau makan meski sudah diberi umpan beberapa kali. Kondisinya semakin lemah sampai akhirnya tidak lagi bereaksi,” kata Junaidi.

Setelah dinyatakan mati, tim melakukan pemeriksaan lanjutan dan menemukan dugaan penyebab kematian yang mengejutkan.

Di dalam perut buaya, petugas menemukan berbagai benda asing seperti puluhan kantong plastik, karung goni, tutup minuman, pisau kecil, pecahan mata tombak, hingga bagian tabung televisi.

Selain itu, terdapat luka lecet yang diduga muncul sejak proses penangkapan.

Menurut Junaidi, sampah-sampah yang tidak dapat dicerna itu sangat mungkin telah merusak sistem pencernaan buaya hingga menyebabkan kematian.

“Ini bukti betapa seriusnya pencemaran sampah di aliran sungai. Semua benda itu ditemukan masih utuh,” ujarnya.

Usai diperiksa, bangkai buaya kemudian dikirim ke lembaga konservasi di Jakarta untuk diawetkan dan dijadikan bahan penelitian.

Bangkai diangkut menggunakan mobil boks berpendingin untuk mencegah pembusukan selama perjalanan.

Kematian buaya raksasa Si Undan kembali menyoroti masalah pencemaran sungai dan pentingnya pengelolaan habitat satwa liar di Riau.

Kasus ini juga menjadi pengingat perlunya edukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah dan konservasi agar satwa besar yang menjadi bagian penting ekosistem sungai tidak kembali terancam.(*)