13.134 Kasus Penyakit Tercatat di Kota Jambi, ISPA Mendominasi dengan 11.283 Kasus

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Sebanyak 13.134 kasus penyakit tercatat dalam data surveilans Posko Satuan Tugas (Satgas) Bencana dan Kekeringan Kota Jambi selama periode Januari hingga 8 Oktober 2026.

Dari jumlah tersebut, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendominasi dengan 11.283 kasus atau sekitar 85,9 persen.

Kepala Satgas Bencana dan Kekeringan Kota Jambi, Doni Sumatriadi mengatakan data tersebut berasal dari pemantauan dan pengelolaan surveilans penyakit yang dilakukan posko secara berkala.

Doni juga menjabat sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi.

“Berdasarkan data surveilans yang kami kelola, total ada 13.134 pasien yang tercatat sejak Januari hingga 8 Oktober 2026. ISPA masih menjadi penyakit yang paling banyak diderita warga dengan 11.283 kasus,” ujar Doni saat dikonfirmasi, Jumat 9 Oktober 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa ISPA menjadi kelompok penyakit dengan jumlah pencatatan tertinggi dalam laporan posko.

Namun, angka kumulatif ini belum menjelaskan tren kenaikan atau penurunan kasus dari bulan ke bulan.

Selain ISPA, posko juga mencatat kasus diare dan konjungtivitis atau peradangan pada selaput mata.

Berikut rincian data surveilans penyakit Kota Jambi hingga 8 Oktober 2026:

Jenis penyakit Jumlah kasus Persentase
ISPA 11.283 85,9%
Diare 1.339 10,2%
Konjungtivitis 512 3,9%
Total 13.134 100%

ISPA mencakup lebih dari empat perlima seluruh pencatatan penyakit dalam data tersebut.

Meski demikian, angka ini menggambarkan komposisi kasus yang tercatat di posko, bukan dengan sendirinya menunjukkan prevalensi ISPA pada seluruh penduduk Kota Jambi.

Doni mengatakan, kualitas udara menjadi salah satu faktor lingkungan yang perlu diperhatikan dalam upaya melindungi kesehatan masyarakat, terutama ketika kabut asap atau polusi udara memburuk.

“ISPA memang selalu menjadi perhatian utama kami. Kami terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara buruk, dan selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar,” katanya.

Paparan asap dan polusi udara dapat memperburuk gangguan pernapasan.

Namun, untuk memastikan seberapa besar kontribusi kabut asap terhadap angka ISPA di Kota Jambi, diperlukan data yang menghubungkan tren kasus dengan kondisi kualitas udara dan faktor penyebab lainnya.

Data posko turut mencatat 1.339 kasus diare atau sekitar 10,2 persen dari keseluruhan pencatatan.

Penyakit ini membutuhkan perhatian terhadap keamanan makanan dan minuman, kebersihan tangan, serta sanitasi lingkungan.

Sementara itu, konjungtivitis tercatat sebanyak 512 kasus atau sekitar 3,9 persen.

Kondisi ini dapat menimbulkan mata merah, perih, gatal, atau berair. Iritasi akibat debu dan asap dapat memicu keluhan mata, meskipun penyebab konjungtivitis tidak selalu sama pada setiap pasien.

Doni mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengonsumsi makanan serta minuman yang aman, dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mengganggu.

Imbauan tersebut penting agar perhatian terhadap kabut asap tidak mengesampingkan risiko kesehatan lain yang juga muncul dalam data surveilans.

Posko Satgas Bencana dan Kekeringan Kota Jambi mengelola data surveilans sebagai bagian dari pemantauan kondisi kesehatan masyarakat.

Menurut Doni, pembaruan data diperlukan untuk membantu pemerintah melihat perkembangan situasi dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.

Ia mengatakan, pemantauan akan terus berjalan dan masyarakat dapat mencari informasi melalui kanal resmi BPBD Kota Jambi serta Pemerintah Kota Jambi.

Meski demikian, rincian mengenai perkembangan kasus per bulan, persebaran kasus menurut kecamatan, kelompok usia yang paling terdampak, serta jumlah pasien yang membutuhkan perawatan belum tercantum dalam data yang disampaikan.

Informasi tersebut akan membantu memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang beban penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan di Kota Jambi.

Di tengah perhatian terhadap kualitas udara, masyarakat dianjurkan menyesuaikan aktivitas luar ruangan dengan kondisi udara setempat.

Jika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas berat di luar dan gunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit jantung atau gangguan paru.

Masyarakat yang mengalami sesak napas atau gejala berat perlu segera mencari pertolongan medis.

Untuk mencegah diare, warga perlu menjaga kebersihan tangan serta memastikan makanan dan air minum aman dikonsumsi.

Sementara itu, hindari mengucek mata ketika mengalami iritasi dan periksakan diri jika keluhan mata tidak membaik.

Data 13.134 kasus penyakit hingga 8 Oktober 2026 menjadi gambaran awal mengenai jenis penyakit yang tercatat dalam pemantauan posko.

Pembaruan data, informasi kualitas udara, dan rincian kasus yang lebih terperinci diperlukan agar pemerintah dan masyarakat dapat menilai perkembangan situasi secara lebih akurat.(*)