TPS Talang Banjar Ditutup, Pemkot Jambi Terapkan Konsep Sampah Terpilah

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi mulai melakukan transformasi besar dalam sistem pengelolaan sampah, khususnya di wilayah Jambi Timur

. Salah satu langkah awalnya ditandai dengan peninjauan sekaligus penutupan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di depan Pasar Talang Banjar oleh Wali Kota Jambi, Maulana, didampingi Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, Kamis (21/5).

Di balik penutupan tersebut, Pemkot Jambi tengah menyiapkan konsep baru pengelolaan sampah berbasis pemilahan dan pengolahan sementara.

Bekas area pasar lama Talang Banjar akan dijadikan transfer depo sementara sekaligus lokasi percontohan pengolahan sampah modern di Kota Jambi.

Wali Kota Jambi, Maulana, menyebut Jambi Timur menjadi salah satu wilayah dengan produksi sampah terbesar di kota tersebut.

Setiap harinya, sedikitnya 14 truk fuso sampah diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talang Gulo.

“Jambi Timur ini produksinya sangat besar, sementara kita belum punya transfer depo permanen. Jadi selama ini semua langsung dibawa ke Talang Gulo,” ujar Maulana.

Menurutnya, sistem baru yang akan diterapkan tidak lagi sekadar menampung sampah, melainkan melakukan pemilahan sejak awal.

Sampah organik dan non-organik akan dipisahkan sebelum residunya dikirim ke TPA akhir.

“Di sini nanti ada pemilahan organik dan non-organik. Bekas ruangan pasar lama akan dimanfaatkan untuk pengolahan sementara. Jadi bukan sekadar TPS,” jelasnya.

Pemkot Jambi sebenarnya telah menyiapkan lokasi transfer depo permanen di kawasan dekat Pertamina. Namun, pembangunan fasilitas tersebut masih dalam tahap perencanaan dan penganggaran.

Karena itu, kawasan Talang Banjar dipilih sebagai solusi sementara untuk mengatasi kebutuhan pengelolaan sampah di Jambi Timur, terlebih beberapa TPS lain seperti di Tanjung Sari dan Pasar 46 juga akan ditutup secara bertahap.

Menariknya, penataan kawasan ini juga melibatkan partisipasi masyarakat. Maulana menyebut ada peran aktif warga dan tokoh masyarakat yang turut mendukung penataan secara swadaya.

“Ada inisiatif dari Ketua LPM dan masyarakat di sini. Nantinya area ini akan ditutup menggunakan seng secara gotong royong,” katanya.

Selain itu, alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum juga akan diturunkan untuk membantu penataan lokasi, serta penambahan armada pengangkut sampah guna mempercepat proses pengangkutan.

Maulana menegaskan penutupan TPS dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan persoalan baru di masyarakat.

Penutupan hanya dilakukan jika program Operasi Pengelolaan Berbasis Masyarakat (OPBM) telah berjalan minimal 80 persen di wilayah terkait.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih aktif dalam sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan, seperti bank sampah dan kelompok pengelola sampah di tingkat RT.

“Jangan pasif lagi. Masyarakat harus aktif mencari informasi ke RT, ikut bank sampah, TPS 3R, atau kelompok pengelola yang sudah berjalan,” tegasnya.

Selain itu, Pemkot Jambi juga telah memetakan armada bentor pengangkut sampah untuk mendukung penutupan TPS liar dan titik penumpukan sampah di berbagai wilayah kota.

Dengan langkah ini, Pemkot Jambi berharap sistem pengelolaan sampah di Jambi Timur tidak lagi bergantung pada pola lama, melainkan bertransformasi menjadi sistem modern berbasis pemilahan, lingkungan, dan partisipasi masyarakat.(*)




Dukung Energi Alternatif, Wakil Wali Kota Jambi Bahas Kendala Biomassa di Pasar Talang Banjar

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Kota Jambi terus mendorong pengolahan sampah berbasis masyarakat sebagai solusi untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menekan pencemaran lingkungan akibat penumpukan sampah rumah tangga.

Langkah ini dikembangkan melalui pemanfaatan sampah organik menjadi energi alternatif berbasis biomassa, yang juga dinilai dapat meningkatkan nilai ekonomi dan keberlanjutan lingkungan di Kota Jambi.

Pada Selasa (9/9/2025), Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha bersama pejabat terkait menggelar diskusi bersama Santoso, Kepala UPT Bank Sampah di fasilitas Waste to Energy (WTE) Pasar Tradisional Talang Banjar.

Diskusi membahas berbagai kendala yang dihadapi Dinas Lingkungan Hidup (DLH), khususnya dalam pengelolaan sampah organik dan implementasi energi biomassa.

Saat ini, sebagian besar sampah organik dimanfaatkan untuk pakan ternak, sedangkan pengolahan menjadi ekoenzim dan biomassa masih menghadapi kendala teknis dan minimnya penggunaan di tingkat rumah tangga.

“Produksi biomassa sudah mulai berjalan, namun baru digunakan di beberapa rumah. Kami berharap pemanfaatannya bisa menjangkau lebih luas, termasuk pasar-pasar dan sentra produksi,” ujar Diza Hazra Aljosha.

Lebih lanjut, pemerintah membuka peluang kerja sama dengan organisasi internasional untuk memperkuat pengembangan energi alternatif ini.

“Kami ingin seluruh masyarakat merasakan manfaat dari biomassa, bukan hanya untuk energi terbarukan, tetapi juga sebagai solusi nyata untuk lingkungan yang lebih bersih,” tambah Diza.

Pemkot Jambi menargetkan program ini menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah berkelanjutan yang dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis bagi masyarakat.(*)