Rakerda PWI Kota Jambi Bahas Tantangan Jurnalistik, Ditutup Napak Tilas Sejarah

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Jambi memperkuat konsolidasi internal untuk menghadapi perubahan dunia jurnalistik di tengah derasnya arus informasi digital.
Penguatan tersebut menjadi salah satu fokus Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PWI Kota Jambi yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat, pada 1-4 Oktober 2026.
Selama tiga hari, jajaran pengurus mengevaluasi program organisasi sekaligus menyusun agenda kerja yang dinilai relevan dengan perkembangan profesi kewartawanan.
Rakerda menjadi ruang bagi pengurus untuk menyatukan arah organisasi, mengevaluasi pelaksanaan program sebelumnya, serta membahas tantangan yang muncul di tengah era disrupsi informasi.
Ketua PWI Kota Jambi, Irwansyah, mengatakan Rakerda memiliki posisi penting dalam menentukan arah organisasi ke depan.
“Rakerda di Bandung ini merupakan momentum penting bagi PWI Kota Jambi untuk merumuskan program kerja yang adaptif dan profesional,” ujar Irwansyah.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi informasi menuntut wartawan untuk terus meningkatkan kapasitas.
Organisasi profesi juga perlu merespons perubahan tersebut melalui program yang mampu memperkuat kompetensi sekaligus profesionalisme anggota.
Agenda PWI Kota Jambi tidak berhenti setelah Rakerda selesai.
Rombongan kemudian bergerak ke Jakarta untuk mengikuti agenda wawasan kebangsaan melalui kunjungan ke Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution di Jakarta Pusat.
Museum tersebut merupakan bekas kediaman Jenderal A.H. Nasution dan memiliki kaitan erat dengan salah satu episode penting sejarah Indonesia pada 1965.
Bagi PWI Kota Jambi, kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang menghubungkan penguatan organisasi dengan wawasan kebangsaan.
Irwansyah mengatakan seorang wartawan tidak cukup hanya memiliki kemampuan jurnalistik.
Pemahaman terhadap sejarah dan perjalanan bangsa juga penting untuk membentuk perspektif dalam menjalankan profesi.
“Wawasan organisasi tidak akan lengkap tanpa wawasan kebangsaan. Oleh karena itu, kami merangkainya dengan napak tilas sejarah ini,” katanya.
Kunjungan ke Museum Sasmitaloka juga menjadi ruang refleksi bagi jajaran PWI Kota Jambi.
Irwansyah menilai keteguhan Jenderal A.H. Nasution dalam menghadapi situasi sulit memiliki relevansi dengan tantangan profesi wartawan saat ini.
Menurutnya, wartawan menghadapi tuntutan untuk tetap berpegang pada fakta dan prinsip jurnalistik ketika arus informasi bergerak sangat cepat.
“Sebagai saksi bisu peristiwa sejarah bangsa, tempat ini mengajarkan keteguhan dan keberanian yang luar biasa. Jenderal A.H. Nasution adalah simbol keteguhan,” tegasnya.
Ia berharap semangat tersebut dapat menjadi inspirasi bagi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik, terutama ketika menghadapi tekanan, banjir informasi, maupun tantangan menjaga akurasi berita.
“Semangat mempertahankan kebenaran inilah yang harus diresapi dan diwarisi oleh setiap wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya,” lanjut Irwansyah.
Rangkaian kegiatan di Bandung dan Jakarta tersebut menjadi momentum bagi PWI Kota Jambi untuk memperkuat soliditas internal.
Hasil Rakerda diharapkan tidak berhenti sebagai agenda organisasi, tetapi diterjemahkan ke dalam program kerja yang mampu meningkatkan kapasitas wartawan dan memperkuat peran organisasi.
Di tengah perubahan lanskap media, tantangan wartawan tidak lagi sebatas mengejar kecepatan pemberitaan.
Akurasi, verifikasi, etika, dan kemampuan menyajikan informasi yang mencerahkan juga semakin penting.
Karena itu, PWI Kota Jambi menargetkan program kerja ke depan mampu menjawab perubahan tersebut sekaligus menjaga marwah profesi kewartawanan.
Rangkaian Rakerda hingga napak tilas sejarah akhirnya membawa satu pesan utama: penguatan organisasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan profesionalisme dan wawasan kebangsaan wartawan.(*)