Mengenal Kemas Faried Alfarelly, Ketua DPRD Kota Jambi yang Mulai Disandingkan dengan Diza untuk 2029

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Nama Kemas Faried Alfarelly kembali menjadi perhatian dalam dinamika politik Kota Jambi.

Bukan hanya karena posisinya sebagai Ketua DPRD Kota Jambi periode 2024–2029, tetapi juga karena belakangan namanya mulai muncul bersama Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha dalam pembicaraan mengenai peta politik menuju 2029.

Wacana tersebut masih jauh dari keputusan politik. Belum ada deklarasi, pembentukan pasangan, maupun keputusan partai yang menetapkan Kemas dan Diza akan maju bersama dalam kontestasi politik berikutnya.

Namun, intensitas kebersamaan keduanya dalam sejumlah agenda yang bersentuhan langsung dengan masyarakat membuat pembicaraan mengenai kemungkinan tersebut mulai berkembang.

Kemas dan Diza berada di dua institusi berbeda. Diza menjalankan peran di eksekutif sebagai Wakil Wali Kota Jambi, sedangkan Kemas memimpin lembaga legislatif sebagai Ketua DPRD.

Dalam konteks pemerintahan, komunikasi antara keduanya merupakan bagian dari kebutuhan koordinasi antara eksekutif dan legislatif.

Akan tetapi, politik kerap membaca lebih jauh setiap pertemuan, komunikasi, dan kedekatan figur yang memiliki basis sosial serta posisi strategis.

Lantas, siapa sebenarnya Kemas Faried Alfarelly?

Dua periode di DPRD Kota Jambi

Kemas Faried Alfarelly merupakan politisi Partai Golkar yang kini menjalani periode keduanya sebagai anggota DPRD Kota Jambi.

Partai Golkar menunjuk Kemas sebagai Ketua DPRD Kota Jambi periode 2024–2029.

Surat keputusan tersebut diterimanya pada September 2024 dari Ketua DPD I Partai Golkar Jambi saat itu, Cek Endra.

Sebelumnya, Kemas telah menjadi anggota DPRD Kota Jambi periode 2019–2024.

Pada Pemilu 2024, ia kembali maju dari daerah pemilihan yang meliputi Danau Teluk, Telanaipura dan Danau Sipin.

Perjalanan politiknya sendiri tidak dimulai ketika ia berhasil duduk di DPRD.

Sebelum terpilih sebagai anggota DPRD Kota Jambi, Kemas pernah mencoba peruntungan di tingkat nasional.

Ia mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI dari daerah pemilihan Jambi pada Pemilu 2009 dan kemudian maju sebagai calon anggota DPR RI pada Pemilu 2014.

Dua kontestasi tersebut belum membawanya ke parlemen.

Namun, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan politiknya sebelum akhirnya berhasil memenangkan kursi DPRD Kota Jambi pada Pemilu 2019.

Bukan politisi yang muncul secara tiba-tiba

Jejak Kemas di dunia politik dan organisasi cukup panjang.

Di internal DPRD Kota Jambi, ia pernah dipercaya sebagai Sekretaris dan Ketua Fraksi Golkar.

Ia juga pernah menjabat Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah serta terlibat dalam Komisi IV dan Badan Anggaran.

Pengalaman organisasi Kemas juga membentang di berbagai bidang.

Ia pernah aktif di KNPI, AMPG, AMPI, HIPMI, Kosgoro 1957, Pemuda Pancasila hingga KADIN.

Di bidang olahraga, Kemas juga pernah memimpin Perbasi Jambi dan menduduki posisi di KONI Kota Jambi.

Jejak tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas Kemas tidak hanya berada di ruang politik formal.

Ia juga membangun relasi melalui organisasi kepemudaan, dunia usaha, olahraga dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dari Seberang ke panggung politik Kota Jambi

Kemas juga dikenal sebagai putra asli Seberang Kota Jambi.

Latar belakang tersebut menjadi salah satu bagian dari identitas politiknya di Kota Jambi.

Selama menjalankan aktivitas sebagai legislator, ia kerap hadir dalam kegiatan masyarakat dan berbagai agenda sosial.

Sebagai Ketua DPRD, ruang geraknya kini semakin luas.

Posisi tersebut menempatkannya dalam salah satu simpul penting pengambilan kebijakan Kota Jambi.

DPRD memiliki fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan, sehingga komunikasi dengan pemerintah kota menjadi bagian penting dalam menjalankan pemerintahan daerah.

Pada titik inilah hubungan politik Kemas dengan figur eksekutif seperti Diza menjadi menarik untuk dicermati.

Mengapa nama Kemas mulai disandingkan dengan Diza?

Pembicaraan mengenai Kemas dan Diza tidak muncul dalam ruang kosong.

Keduanya beberapa kali terlihat bersama ketika menghadapi persoalan masyarakat.

Pada Selasa, 6 Oktober 2026, misalnya, Diza dan Kemas bersama-sama menjenguk Azalea, anak berusia lima tahun yang menjadi korban insiden di sekitar lokasi pekerjaan jaringan gas di Kelurahan Paal Lima.

Pada hari yang sama, keduanya kembali terlihat ketika mendampingi penyaluran bantuan air bersih bagi warga yang terdampak kemarau di kawasan Simpang Tiga Sipin.

Dua agenda tersebut sebenarnya dapat ditempatkan dalam konteks tugas masing-masing.

Diza hadir sebagai bagian dari pemerintahan kota, sementara Kemas menjalankan fungsi representasi dan pengawasan sebagai pimpinan DPRD.

Namun, bagi sebagian masyarakat, kebersamaan dua figur muda yang berada di posisi strategis tersebut kemudian memunculkan pertanyaan lain, apakah komunikasi Diza dan Kemas bisa berkembang menjadi kerja sama politik pada 2029?

Untuk saat ini, jawabannya belum ada.

Tidak ada keputusan resmi yang memastikan keduanya akan berpasangan.

2029 masih jauh, tetapi peta politik mulai dibaca

Pilkada 2029 masih memiliki rentang waktu yang cukup panjang. Karena itu, terlalu dini menyimpulkan konfigurasi pasangan calon yang akan bertarung.

Meski demikian, politik lokal tidak selalu menunggu tahapan resmi untuk mulai bergerak.

Nama-nama potensial biasanya mulai dibicarakan jauh sebelum pendaftaran calon dibuka.

Rekam jejak, popularitas, jaringan politik, kemampuan membangun komunikasi dan kedekatan dengan masyarakat menjadi sejumlah faktor yang dapat membentuk persepsi publik.

Kemas memiliki modal politik dari pengalaman dua periode di DPRD serta posisinya sebagai Ketua DPRD Kota Jambi.

Diza memiliki jalur berbeda. Ia merupakan Wakil Wali Kota Jambi periode 2025–2030 yang sebelumnya dikenal sebagai pengusaha dan aktivis organisasi kewirausahaan.

Keduanya juga berasal dari generasi yang relatif muda dalam lanskap politik Kota Jambi.

Perbedaan latar belakang itu justru membuat wacana mengenai keduanya menarik.

Diza berada di pemerintahan dan memiliki pengalaman eksekutif. Kemas berada di legislatif dengan pengalaman politik serta organisasi yang panjang.

Jika suatu saat keduanya benar-benar membangun kendaraan politik bersama, kombinasi tersebut tentu memiliki karakter yang berbeda dibanding sekadar menyatukan dua politisi dari jalur yang sama.

Namun, sekali lagi, itu masih sebatas kemungkinan politik, bukan keputusan.

Kemas dan tantangan membuktikan diri

Sebagai Ketua DPRD, tantangan Kemas tidak hanya berkaitan dengan popularitas.

Ia harus menunjukkan bahwa posisi politik yang dimilikinya mampu menghasilkan pengawasan dan kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Persoalan Kota Jambi masih cukup kompleks, mulai dari pelayanan dasar, infrastruktur, kemacetan, lingkungan, sampah hingga persoalan sosial perkotaan.

Di sisi lain, masyarakat semakin mudah menilai figur politik bukan hanya dari pernyataan, tetapi dari kehadiran dan respons mereka ketika persoalan muncul.

Karena itu, aktivitas Kemas di lapangan akan menjadi bagian penting dari rekam jejak politiknya.

Begitu pula dengan komunikasi yang dibangunnya bersama jajaran pemerintah kota, termasuk Diza.

Bukan soal pasangan dulu, tetapi soal rekam jejak

Wacana Diza-Kemas untuk 2029 memang menarik perhatian. Namun, publik masih memiliki waktu panjang untuk melihat bagaimana perjalanan keduanya.

Apakah kebersamaan tersebut hanya sebatas koordinasi antara Wakil Wali Kota dan Ketua DPRD?

Ataukah komunikasi yang terbangun akan berkembang menjadi kerja sama politik?

Jawabannya akan sangat bergantung pada perkembangan pemerintahan Kota Jambi, dinamika partai politik, aspirasi masyarakat serta keputusan masing-masing figur.

Untuk Kemas, periode 2024–2029 akan menjadi ruang penting untuk memperkuat rekam jejaknya.

Sebagai politisi Golkar, anggota DPRD dua periode dan kini Ketua DPRD Kota Jambi, setiap kebijakan dan langkah politiknya akan menjadi bagian dari penilaian publik.

Sementara bagi Diza, periode pertamanya sebagai Wakil Wali Kota juga akan menjadi panggung untuk membuktikan kapasitasnya di pemerintahan.

Jika keduanya terus terlihat bekerja bersama, bukan tidak mungkin nama Diza-Kemas akan semakin sering muncul dalam percakapan politik Kota Jambi.

Tetapi untuk sampai pada tiket Pilkada 2029, masih ada perjalanan panjang yang harus dilalui.

Dan untuk saat ini, yang paling menarik bukan siapa menjadi nomor satu atau nomor dua.

Melainkan bagaimana Diza dan Kemas membangun rekam jejak di tengah masyarakat sebelum pertarungan politik itu benar-benar dimulai.(*)




Diza-Kemas Mulai Dibicarakan untuk 2029, Ini Rekam Jejak Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Diza Hazra Aljosha kini berada di salah satu posisi strategis dalam pemerintahan Kota Jambi.

Bersama Wali Kota Jambi Maulana, ia menjalankan roda pemerintahan Kota Jambi untuk periode 2025–2030.

Namun, perjalanan Diza menuju kursi Wakil Wali Kota Jambi tidak bermula dari dunia politik.

Sebelum masuk ke pemerintahan, Diza lebih dulu membangun rekam jejak di dunia usaha dan organisasi kepemudaan.

Ia tumbuh sebagai pengusaha muda, aktif membangun jejaring bisnis dan kemudian dipercaya memimpin organisasi pengusaha muda di Provinsi Jambi.

Latar belakang tersebut menjadi bagian penting untuk mengenal sosok Diza secara lebih dekat.

Berawal dari Dunia Bisnis

Mengutip dari Wikipedia , Diza Hazra Aljosha lahir pada 24 Oktober 1988. Ia merupakan putra pengusaha Hazrin Nurdin.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Indonesia dan Inggris, Diza memilih membangun karier profesional di dunia usaha.

Ia pernah menjabat sebagai General Manager PT Enha Putra Group pada 2010–2012.

Setelah itu, Diza dipercaya menduduki posisi Direktur Utama PT Enha Putra Group dan tetap menjalankan peran tersebut hingga kini.

Pengalaman bisnisnya juga berkembang ke sektor lain. Diza tercatat pernah memegang posisi Direktur Operasional PT Jambi Bangun Bara Perkasa.

Dunia usaha menjadi ruang awal bagi Diza untuk memahami bagaimana sebuah organisasi bekerja, bagaimana mengambil keputusan dan bagaimana membangun hubungan dengan berbagai pihak.

Pengalaman tersebut kemudian ia bawa ketika aktif dalam organisasi.

Karier Organisasi yang Dibangun dari Bawah

Jauh sebelum menjadi Wakil Wali Kota Jambi, Diza sudah aktif dalam berbagai organisasi.

Pengalaman organisasinya bahkan dimulai sejak sekolah. Saat bersekolah di SMA Negeri 6 Jakarta, Diza pernah dipercaya menjadi Ketua Bidang Etika dan Budaya OSIS.

Ketika melanjutkan pendidikan ke Inggris, aktivitas organisasi dan kewirausahaannya terus berkembang.

Diza pernah terlibat dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris serta sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan kewirausahaan dan pengembangan bisnis.

Sekembalinya ke Indonesia, aktivitasnya di dunia organisasi semakin kuat.

Di HIPMI, Diza menapaki jenjang organisasi dari tingkat kota hingga provinsi.

Ia pernah menjabat Ketua Bidang Hubungan Internasional Antar Lembaga BPC HIPMI Kota Jambi, Wakil Bendahara Umum BPD HIPMI Provinsi Jambi, hingga sejumlah posisi strategis lainnya.

Puncak perjalanan tersebut terjadi ketika Diza dipercaya menjadi Ketua Umum BPD HIPMI Provinsi Jambi periode 2021–2024.

Posisi itu membuat Diza semakin dikenal di kalangan pengusaha muda Jambi.

Ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan bisnis, tetapi juga aktif membangun komunikasi antara dunia usaha, pemerintah dan berbagai organisasi.

Pendidikan di Jambi, Jakarta hingga London

Diza menempuh pendidikan dasar di SD Islam Al-Falah Jambi.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di SMP Al-Azhar Syifa Budi Jakarta dan SMA Negeri 6 Jakarta.

Pendidikan tinggi ia tempuh di Universitas Bina Nusantara dengan mengambil bidang Manajemen.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Diza melanjutkan studi ke Inggris.

Ia meraih gelar magister Marketing Management dari Middlesex University London.

Pengalaman pendidikan di Indonesia dan Inggris kemudian berpadu dengan pengalaman profesional serta organisasi yang ia jalani.

Tidak Hanya Bisnis, Diza Aktif di Berbagai Organisasi

Di luar dunia usaha dan HIPMI, Diza juga aktif dalam sejumlah organisasi dan kegiatan kemasyarakatan.

Pada 2025, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia atau KORMI Kota Jambi untuk periode 2025–2029.

Diza juga dipercaya menjadi Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kota Jambi periode 2025–2030.

Pada tahun yang sama, ia mendapat amanah sebagai Bendahara Dewan Pengurus Daerah Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (DPD IKAL-Lemhannas) Provinsi Jambi periode 2025–2030.

Beragam posisi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas Diza tidak hanya berputar di dunia politik dan pemerintahan.

Ia juga memiliki ruang aktivitas di sektor olahraga masyarakat, keagamaan, kewirausahaan dan pengembangan jejaring organisasi.

Dari Pengusaha Muda ke Panggung Politik

Langkah Diza ke dunia politik mulai terlihat ketika ia maju sebagai calon Wakil Wali Kota Jambi pada Pilkada 2024.

Diza mendampingi Maulana yang sebelumnya pernah menjabat Wakil Wali Kota Jambi periode 2018–2023.

Pasangan Maulana-Diza mendapatkan dukungan dari koalisi besar yang terdiri dari 11 partai politik.

Dalam hasil rekapitulasi KPU Kota Jambi, pasangan tersebut meraih 192.623 suara atau 73,26 persen.

Kemenangan itu mengantarkan Maulana dan Diza menjadi pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jambi periode 2025–2030.

Keduanya kemudian mengikuti pelantikan kepala daerah hasil Pilkada Serentak 2024 pada 20 Februari 2025.

Sejak saat itu, Diza memasuki fase baru dalam perjalanan kariernya.

Jika sebelumnya ia banyak bergerak di sektor bisnis dan organisasi, kini keputusan dan aktivitasnya bersentuhan langsung dengan kepentingan publik.

Membawa Pengalaman Pengusaha ke Pemerintahan

Posisi sebagai Wakil Wali Kota Jambi membuat Diza harus berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih kompleks.

Persoalan pelayanan publik, pembangunan kota, ekonomi, generasi muda hingga berbagai kebutuhan masyarakat menjadi bagian dari dinamika pemerintahan yang harus ia jalankan bersama Wali Kota Maulana.

Latar belakangnya sebagai pengusaha membuat Diza memiliki pengalaman dalam pengelolaan organisasi dan dunia usaha.

Sementara pengalaman panjang di HIPMI memberinya ruang untuk memahami persoalan yang dihadapi pelaku usaha dan generasi muda.

Dua pengalaman tersebut kini bertemu dalam tugas pemerintahan.

Di sisi lain, keterlibatannya dalam berbagai organisasi setelah menjabat wakil wali kota menunjukkan bahwa Diza tetap mempertahankan ruang komunikasi dengan masyarakat dan berbagai kelompok.

Figur Muda dengan Jejak yang Mulai Panjang

Diza Hazra Aljosha merupakan bagian dari generasi muda yang kini mendapat ruang besar dalam pemerintahan Kota Jambi.

Usianya relatif muda ketika memasuki pemerintahan, tetapi ia membawa pengalaman yang cukup panjang dari dunia bisnis dan organisasi.

Perjalanan tersebut membuat sosok Diza tidak bisa dilihat hanya dari posisinya sebagai Wakil Wali Kota Jambi.

Ada perjalanan sebagai pengusaha, pengalaman memimpin organisasi pengusaha muda, pendidikan di dalam dan luar negeri, serta keterlibatan dalam berbagai organisasi sosial yang ikut membentuk perjalanan kariernya.

Kini, tantangan Diza adalah membuktikan bagaimana seluruh pengalaman tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja pemerintahan yang berdampak langsung bagi masyarakat Kota Jambi.

Masa jabatan hingga 2030 masih menyisakan perjalanan panjang.

Dan dari sinilah kiprah Diza Hazra Aljosha sebagai salah satu figur muda di pemerintahan Kota Jambi akan terus menjadi perhatian.(*)