Jelang Duel Hidup Mati AFF 2026, Ini Rekor Timnas Indonesia Saat Bertamu ke Singapura

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Timnas Indonesia akan menjalani laga paling menentukan di fase Grup A Piala AFF 2026 saat menantang Singapura di Stadion Jalan Besar, Jumat 7 Agustus 2026 malam WIB.

Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiga poin, tetapi juga menjadi penentu nasib Garuda untuk melangkah ke babak semifinal.

Skuad besutan John Herdman datang dengan tekanan besar setelah kekalahan 0-3 dari Vietnam membuat Indonesia turun ke peringkat ketiga klasemen sementara.

Kondisi tersebut membuat kemenangan menjadi satu-satunya hasil yang bisa menjaga asa Garuda tetap hidup.

Meski optimisme tetap terjaga, Indonesia juga dibayangi catatan kurang bersahabat saat bermain di kandang Singapura.

Statistik pertemuan menunjukkan Tim Merah Putih lebih sering pulang tanpa kemenangan ketika bertandang ke Negeri Singa.

Berdasarkan data 11v11, Indonesia sebenarnya pernah mengawali sejarah pertemuan di kandang Singapura dengan sangat impresif.

Pada 15 Agustus 1968, Garuda menang telak 4-0 di ajang Piala Merdeka.

Beberapa bulan kemudian, Indonesia kembali menunjukkan dominasinya dengan kemenangan besar 7-1 di King’s Cup.

Tren positif itu berlanjut lewat kemenangan 4-0 pada Kualifikasi Piala Dunia 1977, sebelum kembali berpesta 6-1 di Lion City Cup 1981.

Namun, setelah periode tersebut peta persaingan mulai berubah.

Singapura bangkit dan perlahan mengambil alih dominasi setiap kali tampil di hadapan pendukungnya sendiri.

Tim Singa mengawali kebangkitan dengan kemenangan 2-0 pada King’s Cup 1981.

Setelah itu, Indonesia kembali menelan kekalahan 0-5 di Merlion Cup 1983 dan 0-4 pada edisi 1985.

Salah satu hasil yang paling dikenang terjadi di Merlion Cup 1986 ketika Indonesia harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor telak 1-8.

Garuda sempat memutus tren negatif lewat kemenangan 2-1 pada Kualifikasi Piala Asia 1992 di Kallang.

Namun, Singapura kembali unggul dalam dua pertemuan berikutnya yang berlangsung pada 1993.

Memasuki era 2000-an, persaingan kedua negara berlangsung lebih seimbang.

Indonesia bermain imbang 1-1 di Tiger Beer Challenge Trophy 2002 sebelum kalah melalui adu penalti.

Pada final Piala AFF 2004, Garuda kembali takluk 1-2 di leg kedua yang berlangsung di Singapura.

Duel berikutnya menghasilkan hasil yang beragam. Indonesia bermain imbang 2-2 pada Piala AFF 2007, kalah 1-3 dalam laga persahabatan 2009, lalu berhasil membalas dengan kemenangan 2-1 pada Piala AFF 2016.

Secara keseluruhan, rekor Indonesia saat bermain di markas Singapura masih belum menguntungkan.

Dari 18 pertandingan, Garuda mencatat enam kemenangan, dua hasil imbang, dan 10 kekalahan.

Statistik tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Jay Idzes dan kolega.

Di sisi lain, laga Piala AFF 2026 juga menjadi kesempatan bagi Timnas Indonesia untuk memperbaiki rekor tandang sekaligus mengamankan tiket menuju babak semifinal.(*)




Cahya Supriadi Diprediksi Jadi Kiper Utama Timnas Indonesia, Pelatih PSIM Bongkar Alasannya

YOGYAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Penampilan konsisten Cahya Supriadi bersama PSIM Yogyakarta terus menuai pujian.

Penjaga gawang muda itu kini bahkan diprediksi memiliki peluang besar menjadi kiper utama Timnas Indonesia pada masa mendatang.

Keyakinan tersebut disampaikan langsung oleh pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel.

Pelatih asal Belanda itu menilai perkembangan Cahya Supriadi berlangsung sangat pesat dan masih menyimpan potensi besar untuk berkembang ke level yang lebih tinggi.

Menurut Van Gastel, usia muda menjadi salah satu modal penting yang dimiliki Cahya.

Dengan proses pembinaan dan jam terbang yang terus bertambah, ia optimistis sang kiper mampu bersaing menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang Timnas Indonesia.

“Saya pikir di masa depan dia mungkin bisa menjadi kiper utama tim nasional,” ujar Van Gastel.

Pernyataan tersebut sekaligus mempertegas kepercayaan penuh yang diberikan PSIM kepada Cahya Supriadi.

Belakangan sempat muncul kabar klub promosi Liga 1 itu akan mendatangkan penjaga gawang asing, namun isu tersebut langsung dibantah oleh sang pelatih.

Van Gastel memastikan manajemen dan tim pelatih tidak memiliki rencana mengganti Cahya.

Menurutnya, performa yang ditunjukkan kiper asal Karawang itu sudah cukup membuktikan kualitasnya sebagai pilihan utama PSIM.

“Saya mendengar ada rumor bahwa kami akan mendatangkan kiper asing, tetapi bukan itu yang akan kami lakukan. Kami akan mempertahankan Cahya karena kami percaya kepadanya,” tegas Van Gastel.

Pelatih berlisensi UEFA Pro tersebut juga menilai kemampuan Cahya mulai menarik perhatian sejumlah klub besar di kompetisi domestik.

Meski demikian, ia menegaskan fokus PSIM saat ini adalah mempertahankan pemain berusia muda tersebut sebagai bagian penting dari proyek tim.

Van Gastel mengakui ketertarikan klub lain merupakan hal yang wajar mengingat perkembangan Cahya dalam beberapa musim terakhir.

Namun, ia memastikan belum ada rencana melepas sang penjaga gawang.

“Sudah jelas dia akan diminati klub-klub yang lebih besar di liga ini. Akan sangat menarik bagi mereka, tetapi untuk saat ini dia tetap bersama kami,” katanya.

Ia kembali menepis rumor mengenai perekrutan penjaga gawang asing.

Baginya, Cahya telah menunjukkan kapasitas sebagai kiper utama sehingga tidak ada alasan mencari pengganti dari luar negeri.

“Mendatangkan kiper asing untuk menggantikan Cahya? Tidak. Saya tidak tahu dari mana rumor itu berasal, tetapi saya tidak akan mendatangkan kiper asing. Cahya tetap menjadi pilihan utama kami,” ujar Van Gastel.

Kepercayaan dari pelatih PSIM menjadi modal berharga bagi Cahya Supriadi yang saat ini juga tengah memperkuat Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2026

Penampilan konsisten bersama klub maupun tim nasional membuat namanya semakin diperhitungkan sebagai salah satu penjaga gawang muda paling menjanjikan di Indonesia.(*)




Hitung-hitungan Peluang Timnas Indonesia ke Semifinal Piala AFF 2026, Menang atas Singapura Harga Mati

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Kekalahan telak 0-3 dari Vietnam memang membuat langkah Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 semakin berat.

Namun, peluang Garuda untuk melaju ke babak semifinal belum sepenuhnya tertutup.

Hasil di Stadion Pakansari, Bogor, membuat Indonesia turun ke peringkat ketiga klasemen sementara Grup A dengan koleksi enam poin.

Sementara Vietnam mengambil alih puncak klasemen dengan tujuh poin, unggul selisih gol atas Singapura yang menempati posisi kedua dengan jumlah poin sama.

Situasi tersebut membuat laga terakhir Grup A menjadi pertandingan hidup-mati bagi skuad asuhan John Herdman.

Indonesia dijadwalkan menghadapi Singapura di Stadion Jalan Besar, Kallang, Jumat 7 Agustus 2026, dalam duel yang akan menentukan nasib kedua tim.

Tidak ada lagi ruang untuk kehilangan poin. Kemenangan menjadi satu-satunya hasil yang dapat menjaga asa Garuda menuju babak empat besar.

Apabila berhasil mengalahkan Singapura, Indonesia akan mengumpulkan sembilan poin.

Raihan tersebut berpeluang mengantarkan Garuda finis di dua besar klasemen Grup A sekaligus mengamankan tiket ke semifinal.

Sebaliknya, hasil imbang maupun kekalahan dipastikan mengakhiri perjalanan Indonesia di fase grup.

Tambahan satu poin tidak cukup untuk mengejar Singapura yang saat ini berada di atas Indonesia, sehingga peluang lolos otomatis tertutup.

Di sisi lain, Vietnam berada dalam posisi yang lebih nyaman. Tim berjuluk The Golden Star Warriors itu masih akan menghadapi Kamboja pada laga terakhir.

Jika mampu meraih hasil positif, Vietnam diperkirakan tetap bertahan di posisi teratas klasemen.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia praktis tidak perlu bergantung pada hasil pertandingan lain.

Fokus utama Garuda adalah mengamankan tiga poin saat menghadapi Singapura.

Persaingan di Grup A memang masih berlangsung ketat. Vietnam memimpin klasemen dengan tujuh poin dan selisih gol +10.

Singapura berada tepat di bawahnya dengan tujuh poin dan selisih gol +3.

Indonesia menempati posisi ketiga dengan enam poin serta selisih gol +4. Di bawahnya, Kamboja mengoleksi tiga poin, sedangkan Timor Leste belum meraih satu poin pun sepanjang turnamen.

Melihat peta persaingan tersebut, duel melawan Singapura menjadi laga paling menentukan bagi Timnas Indonesia.

Kemenangan akan menjaga mimpi Garuda untuk terus bersaing memperebutkan gelar Piala AFF 2026.

Sebaliknya, apabila gagal membawa pulang tiga poin dari Kallang, langkah Indonesia dipastikan terhenti di fase grup dan harus mengubur harapan melangkah ke semifinal.(*)




Dibayar US$40 Ribu per Bulan, Ini Alasan PSSI Pilih John Herdman

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Penunjukan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia langsung menarik perhatian publik.

Terutama terkait besaran gaji yang diterimanya. Sejumlah media internasional melaporkan pelatih asal Inggris tersebut akan menerima bayaran sekitar US$40 ribu per bulan.

Angka yang dinilai lebih rendah, dibandingkan pelatih Timnas Indonesia sebelumnya, Shin Tae-yong maupun Patrick Kluivert.

Meski demikian, PSSI menegaskan bahwa nilai kontrak bukan tolok ukur utama.

Rekam jejak Herdman yang pernah membawa tim nasional putra dan putri ke Piala Dunia justru menjadi pertimbangan terbesar dalam penunjukan ini.

PSSI secara resmi mengumumkan Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia pada Sabtu, 3 Januari 2026.

Sekaligus menandai dimulainya era baru sepak bola nasional pasca perjalanan Garuda di Piala Dunia 2026.

Kontrak Hingga 2027, Ada Opsi Perpanjangan

Dalam keterangan resmi, PSSI tidak mengungkap secara detail durasi dan nilai kontrak Herdman.

Namun laporan dari media luar negeri menyebutkan bahwa Herdman dikontrak hingga 2027.

Mengikuti masa kepemimpinan Ketua Umum PSSI Erick Thohir, dengan opsi perpanjangan hingga 2030.

Selain menangani Timnas Indonesia senior, Herdman juga akan bertanggung jawab atas Timnas U-23, sebagai bagian dari strategi pembinaan berkelanjutan PSSI.

“PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru Tim Nasional Indonesia. Kehadirannya menandai era baru sepak bola nasional. Herdman adalah pelatih dengan pengalaman membawa tim ke Piala Dunia,” tulis PSSI melalui pernyataan resminya.

Rekam Jejak Jadi Jaminan Kualitas

Meski menerima gaji yang relatif lebih rendah, Herdman memiliki reputasi global.

Ia tercatat sebagai satu-satunya pelatih di dunia yang berhasil membawa tim nasional pria dan wanita dari satu negara lolos ke Piala Dunia.

Ia sukses menangani Timnas Wanita Kanada pada periode 2011–2018, dengan prestasi dua medali perunggu Olimpiade serta perempat final Piala Dunia Wanita 2015.

Setelah itu, ia membawa Timnas Pria Kanada lolos ke Piala Dunia 2022, mengakhiri penantian selama 36 tahun.

PSSI menilai pengalaman tersebut sejalan dengan visi jangka panjang pengembangan Timnas Indonesia.

Agenda Perdana Bersama Timnas Indonesia

Setelah penunjukan resmi ini, Herdman langsung dihadapkan pada agenda padat.

Tugas perdananya adalah memimpin Timnas Indonesia pada ajang FIFA Series di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada FIFA Matchday 23–31 Maret 2026.

Selanjutnya, ia akan menangani Timnas Indonesia pada agenda FIFA bulan Juni, September, Oktober, dan November.

Serta memimpin skuad Garuda di Piala AFF 2026 yang dijadwalkan bergulir mulai 25 Juli 2026.(*)




Profil John Herdman, Pelatih Baru Timnas Indonesia Berpengalaman Piala Dunia

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, menandai dimulainya babak baru sepak bola nasional pasca keberhasilan skuad Garuda tampil di Piala Dunia 2026 di bawah kepemimpinan Patrick Kluivert.

Pengumuman tersebut disampaikan PSSI pada Sabtu, 3 Januari 2026.

tidak mengungkap secara rinci nilai maupun durasi kontrak, kehadiran pelatih asal Inggris ini dinilai sebagai langkah strategis jangka panjang dalam pembangunan tim nasional.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan Herdman dikontrak hingga 2027, mengikuti masa kepemimpinan Ketua Umum PSSI Erick Thohir, dengan opsi perpanjangan hingga 2030.

Gaji Herdman disebut berada di kisaran US$40 ribu per bulan, lebih rendah dibandingkan pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong maupun Patrick Kluivert.

Rekam Jejak John Herdman Jadi Alasan Utama

PSSI menilai Herdman bukan sekadar pelatih biasa.

Ia memiliki reputasi global sebagai satu-satunya pelatih di dunia yang berhasil membawa tim nasional putra dan putri dari satu negara lolos ke Piala Dunia.

“PSSI resmi mengumumkan John Herdman sebagai pelatih baru Tim Nasional Indonesia. Penunjukan ini menandai era baru sepak bola nasional. Herdman adalah arsitek berpengalaman yang telah membawa tim ke panggung Piala Dunia,” tulis PSSI dalam pernyataan resminya.

Karier Herdman mencuat saat menangani Timnas Wanita Kanada pada periode 2011–2018.

Di bawah asuhannya, Kanada meraih dua medali perunggu Olimpiade (2012 dan 2016) serta mencapai perempat final Piala Dunia Wanita 2015.

Kesuksesan itu berlanjut ketika ia dipercaya melatih Timnas Pria Kanada, yang berhasil lolos ke Piala Dunia 2022, mengakhiri penantian selama 36 tahun.

Tangani Timnas Senior hingga U-23

Dalam struktur kepelatihan baru, Herdman tidak hanya bertanggung jawab atas Timnas Indonesia senior.

Tetapi juga akan menangani Timnas U-23, guna memastikan kesinambungan pembinaan pemain dari level usia muda ke tim utama.

PSSI menegaskan bahwa, pendekatan Herdman yang berbasis mentalitas, disiplin, dan identitas permainan menjadi nilai tambah penting bagi sepak bola Indonesia.

“Rekam jejak Herdman menjadi alasan utama penunjukan ini. Ia memiliki pengalaman nyata membangun tim dari fondasi hingga mampu bersaing di level tertinggi,” lanjut pernyataan PSSI.

Agenda Perdana John Herdman Bersama Timnas Indonesia

Setelah kegagalan melaju ke fase lanjutan Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia dijadwalkan menjalani sejumlah agenda internasional sepanjang tahun ini.

Tugas pertama Herdman adalah memimpin Timnas Indonesia pada ajang FIFA Series yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada FIFA Matchday 23–31 Maret 2026.

Setelah itu, ia akan memimpin skuad Garuda pada kalender FIFA bulan Juni, September, Oktober, dan November, serta menghadapi Piala AFF 2026 yang dijadwalkan berlangsung mulai 25 Juli 2026.

PSSI berharap kehadiran John Herdman mampu membawa stabilitas, identitas permainan yang jelas, serta konsistensi prestasi Timnas Indonesia di level Asia dan dunia.(*)